Ruwatan, sebuah tradisi sakral yang terus hidup di tengah masyarakat Jawa di tengah gempuran globalisasi, adalah upacara unik untuk membebaskan diri dari kesialan dan sengkala, sebuah istilah Jawa untuk malapetaka.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, ada keyakinan kuat bahwa kesialan yang menimpa seseorang, terutama anak-anak yang lahir sebagai anak tunggal atau “wong sukerta,” berasal dari kekuatan gaib.
Ruwatan menjadi jalan spiritual untuk membebaskan mereka dari pengaruh buruk yang tak terlihat.
Dilansir dari berbagai sumber, ruwatan memiliki akar yang dalam dalam cerita pewayangan, yang menceritakan tokoh Batara Kala, raksasa jahat yang lahir dari hawa nafsu tak terkendali Batara Guru.
Kala dipercaya sebagai sosok yang selalu lapar, dan makanan yang dimintanya adalah manusia, terutama wong sukerta.
Inilah mengapa tradisi Ruwatan, dengan pertunjukan wayang lakon “Murwakala,” hadir sebagai bentuk penebusan dan perlindungan bagi mereka yang dianggap rentan terhadap ancaman Batara Kala.
Setiap elemen dalam upacara Ruwatan sarat akan makna simbolis. Sajen atau sesaji yang dihadirkan, seperti bunga, nasi tumpeng, jenang abang, dan rujak legi, tak hanya sekadar persembahan, tetapi merupakan wujud komunikasi dengan alam semesta dan makhluk halus.
Mereka dipercaya membantu memohon perlindungan dan keberuntungan bagi orang yang diruwat.
Antara Ritual, Wayang, dan Harapan Keselamatan

Upacara Ruwatan dimulai dengan prosesi siraman, di mana air kembang setaman (bunga kenanga, melati, dan mawar) digunakan untuk memandikan anak yang diruwat. Ini adalah simbol pembersihan jiwa dan raga dari segala kotoran duniawi.
Setelah siraman, dilanjutkan dengan pentas wayang kulit yang membawa kisah Murwakala, di mana sang dalang memohon kepada para dewa untuk mengampuni dan melindungi si anak dari kesialan.
Tidak ketinggalan, ritual potong rambut menjadi puncak dari prosesi ini, di mana potongan rambut melambangkan pembuangan segala bentuk kesialan yang mungkin melekat pada diri seseorang.
Rambut ini kemudian dihanyutkan ke sungai, sebagai simbol bahwa segala hal buruk telah dibawa pergi jauh dari kehidupan si anak.
Meskipun zaman terus berubah, Ruwatan tetap relevan bagi sebagian masyarakat Jawa. Bukan sekadar upacara adat, tetapi juga sebagai sarana menjaga tradisi leluhur yang berusia ratusan tahun.
Bagi mereka yang percaya, Ruwatan adalah jaminan keselamatan, harapan akan hidup yang lebih baik, dan penolakan dari segala bentuk marabahaya.
Tradisi ini juga menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara manusia dan alam semesta dalam kepercayaan Jawa. Melalui Ruwatan, manusia memohon ampunan dan restu dari kekuatan yang lebih besar agar dapat menjalani hidup tanpa gangguan kesialan atau bencana.
Kehidupan Modern dan Kearifan Lokal

Di tengah kemajuan zaman dan modernisasi, tradisi Ruwatan tetap memiliki tempat di hati masyarakat Jawa. Meskipun teknologi semakin berkembang, banyak orang yang masih merasakan perlunya menjalankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya spiritual untuk menjaga keseimbangan hidup.
Beberapa keluarga modern bahkan menggabungkan ritual ini dengan acara-acara yang lebih kontemporer, tanpa meninggalkan makna sakral yang telah diwariskan turun-temurun.
Banyak anak-anak yang diruwat dalam Ruwatan bukan hanya mereka yang terlahir sebagai anak tunggal, tetapi juga anak-anak yang dianggap berada dalam situasi khusus. Misalnya, anak-anak yang lahir di hari-hari tertentu, seperti Rabu Wage atau Jumat Kliwon, yang dianggap memiliki beban mistis atau “sengkala.”
Selain itu, anak-anak dari keluarga yang pernah mengalami kesialan besar seperti kecelakaan atau musibah juga sering kali diikutsertakan dalam Ruwatan agar terlindungi dari pengaruh buruk di masa depan.
Penulis: Purba Handayaningrat


