Hari Kesaktian Pancasila diperingati oleh masyarakat Indonesia setiap tanggal 1 Oktober. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.
Apa yang melatarbelakangi ditetapkannya Hari Kesaktian Pancasila? Simak berikut sejarahnya.
Sejarah Hari Kesaktian Pancasila
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila dilatarbelakangi dengan peristiwa pembantaian terhadap enam perwira tinggi dan satu perwira menengah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat pada 30 September menuju 1 Oktober 1965 . Ketujuh TNI korban pembantaian tersebut yaitu:
- Letjen Ahmad Yani (jabatan Menteri/Panglima Angkatan Darat)
- Mayjen Raden Suprapto (Deputi II Panglima AD Bidang Administrasi)
- Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Panglima AD Bidang Perencanaan dan Pembinaan)
- Mayjen Siswondo Parman (Asisten I Panglima AD Bidang Intelijen)
- Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Panglima AD Bidang Logistik)
- Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal AD)
- Lettu Czi Pierre Andreas Tendean (Ajudan Menhankam Jenderal AH Nasution)
Mengutip buku ajar Pancasila (2023) yang disusun oleh Hairul Amren Samosir, dalang di balik pembantaian 30 September 1965 atau dinamai Gerakan 30 September (G30S) masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi.
Namun demikian, otoritas dan kelompok keagamaan terbesar kala itu menuding bahwa dalang G30S adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ingin mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Kemudian pembantaian itu dikenal dengan G30S/PKI.
Peristiwa itu terjadi ketika kelompok PKI yang mengaku sebagai pasukan Cakrabirawa mendatangi rumah masing-masing korban, kecuali Pierre Andreas Tendean yang saat itu sedang berada di rumah Jenderal TNI A.H. Nasution.
Mereka datang ke rumah korban dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno, padahal sebenarnya tidak. Kelompok yang mengaku Cakrabirawa itu membawa R. Soeprapto, Sutoyo Siswomiharjo, S. Parman, dan Pierre Andreas Tendean dalam keadaan hidup ke sebuah markas di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.
Setibanya di markas itu, keempat anggota TNI AD tersebut dibunuh dan mayatnya dimasukkan ke sebuah sumur tua yang tak terpakai berdiameter 75 cm dengan kedalaman 12 meter.
Sementara, tiga perwira tinggi lainnya yaitu Ahmad Yani, M.T Haryono, dan D.I. Pandjaitan ditembak di rumah masing-masing. Mayatnya juga dimasukkan ke dalam sumur tua yang kini dikenal sebagai Lubang Buaya.
Mayat tujuh anggota TNI AD itu baru ditemukan pada 4 Oktober 1965. lalu dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta Selatan pada 5 Oktober 1965. Mereka kemudian diangkat sebagai Pahlawan Revolusi.
Atas insiden tersebut, Soeharto yang masih menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan hari besar tersebut wajib diikuti oleh seluruh pasukan TNI AD.
Setelah menjadi presiden, Soeharto mengeluarkan Keppres 153/1967 yang menetapkan Hari Kesaktian Pancasila sebagai peringatan yang harus diikuti oleh seluruh masyarakat, tidak hanya oleh anggota TNI AD.
Tema Hari Kesaktian Pancasila 2024
Sejak keluarnya keppres tersebut, Hari Kesaktian Pancasila selalu diperingati setiap tahunnya pada 1 Oktober. Tema Hari Kesaktian Pancasila 2024 yang diusung Kemdikbudristek adalah “Bersama Pancasila Kita Wujudkan Indonesia Emas”
Ucapan Hari Kesaktian Pancasila 2024
Berikut contoh ucapan Hari Kesaktian Pancasila 2024 yang dapat dibagikan di media sosial (medsos).
Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk terus menjaga nilai-nilai luhur Pancasila.
- Indonesia tangguh berlandaskan Pancasila. Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2024.
- Salah satu cara untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila adalah dengan mengimplementasikannya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
- Hari Kesaktian Pancasila. Semoga Pancasila terus dijunjung tinggi oleh rakyat Indonesia.
- Hari Kesaktian Pancasila 2024, momentum untuk mempersatukan bangsa.
- Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober. Semoga tak ada lagi pihak yang mau menggantikan Pancasila dengan yang lainnya.
Penulis: Mustami


