Tidak hanya kali ini saja, review seorang food vlogger menuai kontroversi. Seorang akun debiprt viral seusai mereview sebuah warung makan rumahan yang menjual menu andalan rawon. Di kalangan pecinta kuliner Jogja, warung itu termasuk legendaris. Warung rawon Mamiku ini telah beroperasi sejak 2005. Pelanggan loyalnya sudah banyak.
Dan tiba-tiba, debiprt teriak-teriak melalui reviewnya memutarbalikkan informasi yang telah melekat di ingatan para pelanggan rawon Mamiku. Melalui review yang diposting di media sosial, warung rawon ini tidak sesuai ekspektasinya. Bahkan beberapa netizen menganggap postingannya itu kebablasan cenderung menghina. Netizen riuh dan ending-nya debiprt minta maaf kepada pemilik warung.
Tahun lalu, peristiwa serupa juga menimpa wrung oseng Nyak Kopsah alias bang Madun. Seorang food vlogger mereview warung yang berada di Jakarta ini dengan tone negatif. Pemilik tidak terima. Riuhlah belantara maya.
Kebanyakan netizen membela pemilik restoran atau warung. Menurut mereka ulasan negatif bisa mematikan usaha UKM (Usaha Kecil Menengah) apalagi saat ini, kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja bagi sebagian besar netizen.
Saya juga suka mencobai warung-warung, tempat makan atau tempat nongkrong baru, mengulas dan mempostingnya ke media sosial. Saat mereview sebisa mungkin memberikan info yang dibutuhkan teman-teman di sosial media. Bukan soal rasa makanan atau minuman saja, karena “taste” tiap orang beda-beda sesuai pengalaman masa lalunya. Tapi juga menginfokan tentang suasana dan pelayanannya seperti apa.
Kecuali memang ada restoran yang overclaim, iklan atau promonya tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Contohnya pesan mie goreng, di iklannya ada empat ekor udang gemoy-gemoy. Namun ketika pesan, jumlah udangnya cuman dua, itu pun tampak mengidap stunting.
Ancaman Penjara 5 Tahun
Ada juga yang lebih parah, suatu siang saya pesan sup ayam di warung waralaba. Di iklan seporsi sup tampak berisu semangkok penuh, tapi faktanya sebaliknya. Dan ketika saya protes, minta penjelasan, kebanyakan mereka menanggapinya dengan bercanda, dianggap tidak serius.
Padahal ini adalah sebuah pelanggaran serius. Yakni melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999. Ancaman hukumnya tidak main-main: pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar.
Karena saya bukan siapa-siapa, postingan-postinganku yang “jujur” tidak ada yang peduli, apalagi membahasnya. Tak ada pemilik restoran atau warung yang merasa dirugikan.
Tentu ini berbeda dengan ulasan atau review para food vlogger seleb yang followernya jutaan. Untuk mereview sebuah produk harus professional dan memahami etika yang berlaku.
Sebagai seorang food vlogger, profesionalitas dan etika penting saat mereview sebuah produk atau restoran. Karena jika dan tidak hati-hati bisa merugikan pemilik bisnis.
Food vlogger juga harus jujur saat mereview jika memang sedang melakukan kolaborasi. Jika sebuah review bersifat sponsor atau menerima produk gratis, informasi ini harus disampaikan secara terbuka kepada audiens. Transparansi ini menjaga kredibilitas dan mencegah konflik kepentingan yang dapat merusak reputasi.
Harus Kritis Tapi…
Food vlogger juga harus kritis dan tetap menjaga sikap objektif ketika mengulas makanan. Walaupun selera setiap orang berbeda, food vlogger sebaiknya tidak menunjukkan bias yang berlebihan. Memberikan penilaian yang adil, menyoroti aspek positif dan negatif secara seimbang, akan membuat review terasa lebih valid dan dapat diandalkan oleh follower.
Sebaiknya memakai bahasa yang sopan dalam membuat postingan. Hindari penggunaan bahasa yang kasar atau menyakitkan. Jika ada hal yang tidak memuaskan, seperti rasa makanan yang kurang enak atau layanan yang lambat, sampaikan kritik dengan cara yang konstruktif. Kritik yang disampaikan dengan bijak akan lebih diterima oleh restoran atau produsen makanan, serta menjaga hubungan baik.
Selain itu food vlogger harus konsisten dalam menyampaikan konten yang berkualitas dan dapat dipercaya. Memanipulasi fakta atau melebih-lebihkan review demi mendapatkan perhatian atau sponsor dapat merusak reputasi jangka panjang. Integritas adalah fondasi utama untuk membangun kepercayaan dari audiens.
Yang juga perlu diperhatikan adalah saat merekam video di restoran, penting untuk menghormati privasi pelanggan lain dan staf. Hindari merekam secara sembarangan tanpa izin. Juga, pastikan bahwa pengambilan gambar tidak mengganggu pengalaman orang lain di tempat tersebut.
Selain memberikan ulasan, seorang food vlogger juga bisa berperan dalam mengedukasi audiens tentang asal-usul makanan, cara penyajiannya, atau latar belakang budaya dari makanan tersebut. Dengan begitu, ulasan tidak hanya bersifat informatif tetapi juga memberikan nilai lebih.
Dengan memegang teguh etika dan profesionalitas, food vlogger dapat membangun reputasi yang baik dan hubungan yang positif, baik dengan audiens maupun restoran atau brand yang diulas.
Mindset Baru Pemilik Resto
Bagi pemmilik restoran dan semua pemangku kepentingan juga perlu mempunyai mindset baru, saat ini setiap orang bisa menciptakan dan menyebarkan berita, termasuk review makanan.
Sehingga pemilik bisnis dan karyawannya harus lebih berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya agar citra mereka tetap baik di mata food vlogger dan netizen.
Salah satu hal yang paling sering disorot oleh food vlogger dan netizen adalah kualitas pelayanan. Pastikan staf di restoran atau warung selalu memberikan pelayanan yang ramah, profesional, dan cepat tanggap. Pelayanan yang buruk dapat dengan cepat menjadi viral dan merusak reputasi bisnis. Latih karyawan agar siap menghadapi pelanggan, baik di saat sibuk maupun di situasi normal.
Jangan sampai waiter tidak bisa menjawab pertanyaan pelanggan soal menu dengan alasan, saya masih baru di sini.
Kebersihan juga merupakan faktor terpenting yang sangat diperhatikan netizen. Pastikan kebersihan area makan, dapur, dan toilet selalu terjaga. Hal-hal kecil seperti tisu yang habis atau meja yang kotor bisa menjadi isu yang besar untuk menjadi bahan penilaian negatif.
Kebersihan yang terjaga akan meningkatkan kesan profesional dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Kualitas makanan yang disajikan harus selalu dalam kondisi terbaik, baik dari segi rasa, tampilan, dan porsi. Konsistensi dalam rasa dan presentasi adalah kunci penting. Ulasan buruk dari food vlogger atau pelanggan di media sosial tentang makanan yang tidak enak bisa menyebar dengan cepat dan berdampak negatif pada bisnis.
Membangun Hubungan Baik
Jangan sampai penampakan di menu dengan realnya berbeda dengan alasan “itu hanya iklan”. Karena ini bisa disebut penipuan dan bisa diancam pidana dan denda.
Dan ini yang belum banyak dilakukan oleh pemilik warung atau restoran yakni aktif di media sosial untuk memantau ulasan dan tanggapan dari pelanggan.
Respons yang cepat dan positif terhadap kritik atau masukan bisa mengubah persepsi negatif menjadi positif. Media sosial juga bisa digunakan untuk mempromosikan kelebihan restoran, seperti suasana nyaman, promosi spesial, atau hidangan andalan.
Salah satu cara untuk menarik perhatian food vlogger dan netizen adalah dengan memberikan pengalaman yang unik. Misalnya, sajikan makanan dengan cara yang berbeda, dekorasi interior yang menarik, atau tawarkan hidangan yang jarang ditemukan di tempat lain. Pengalaman unik ini bisa menjadi konten yang menarik bagi food vlogger dan akan lebih mudah viral di media sosial.
Membangun hubungan baik dengan food vlogger bisa menjadi strategi efektif. Mengundang food vlogger untuk mencoba makanan secara gratis, memberikan promo khusus, atau mengadakan acara eksklusif bisa meningkatkan citra positif di mata audiens mereka. Namun, pastikan tetap menjaga transparansi agar tidak terlihat memanipulasi review.
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, pemilik warung atau restoran dapat menjaga citra baik bisnis mereka dan menghindari ulasan negatif yang merugikan.


