Makam Batoro Katong di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, bukan hanya sekadar situs wisata religi.
Dikutip dari laman disbudparpora.ponorogo.go.id, tempat ini adalah simbol dari perjalanan sejarah dan spiritual yang mengakar kuat di hati masyarakat Ponorogo.
Dengan hanya sepuluh menit perjalanan dari alun-alun Kota Ponorogo, makam ini menyimpan kisah perjalanan hidup salah satu tokoh penting: Raden Batoro Katong, pendiri Kabupaten Ponorogo.
Raden Batoro Katong, Tokoh Sejarah yang Dihormati
Raden Batoro Katong, atau Lembu Kanigoro, adalah putra Prabu Brawijaya V dari selirnya yang beragama Islam.
Dia dikenal sebagai penguasa pertama Ponorogo dan pelopor penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Keberadaannya sangat dihormati oleh masyarakat Ponorogo, terutama di kalangan santri yang percaya bahwa Batoro Katong adalah sosok yang membawa kedamaian dan kemajuan bagi daerah tersebut.
Makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang, termasuk calon presiden 2024 yang diusung Partai Nasdem, Anies Baswedan. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh Batoro Katong dalam sejarah dan politik lokal.
Sejarah Pertempuran dan Kebangkitan Islam di Ponorogo
Pada masa hidupnya, Batoro Katong berusaha memperkenalkan ajaran Islam di tengah masyarakat yang mayoritas masih menganut kepercayaan Buddha, animisme, dan dinamisme.
Pertarungan kekuasaan terjadi antara Batoro Katong dan Ki Ageng Kutu, penguasa sebelumnya yang menganggap dirinya sebagai simbol kekuatan. Melalui kecerdikan dan taktiknya, Batoro Katong berhasil mengalahkan Ki Ageng Kutu dan mengkonsolidasikan kekuasaannya di Ponorogo.
Dalam prosesnya, Batoro Katong dikenal sebagai “Manusia Setengah Dewa” yang mendirikan istana dan pusat pemerintahan. Dia tidak hanya berperan sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai ulama yang mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Pendirian pesantren-pesantren di Ponorogo menjadi langkah awal dalam memperluas pengaruh Islam di wilayah tersebut.
Reog, Kesenian yang Mengisahkan Perjuangan
Di tengah perjuangan tersebut, kesenian Reog muncul sebagai bentuk ekspresi budaya yang menggambarkan kritik terhadap penguasa dan simbol-simbol keagamaan. Kesenian ini menjadi bagian integral dari identitas Ponorogo, menggabungkan unsur seni dan nilai-nilai spiritual.
Reog tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan sejarah perjuangan masyarakat Ponorogo.
Makam Batoro Katong dan seni Reog menjadi dua sisi dari koin yang sama, menggambarkan perjalanan sejarah dan spiritual masyarakat Ponorogo.
Dengan mengunjungi makam ini, pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman religi, tetapi juga memahami lebih dalam tentang sejarah dan budaya yang membentuk identitas daerah ini.
Makam Batoro Katong bukan hanya sekadar tempat persemayaman, tetapi juga merupakan saksi bisu dari perjalanan panjang dan penuh makna dalam sejarah Ponorogo. Sebagai salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam dan pembentukan identitas masyarakat, Batoro Katong terus dikenang dan dihormati.
Mengunjungi makam ini adalah cara untuk menghormati warisan sejarah yang masih hidup hingga hari ini, mengajak kita untuk merenungkan perjalanan spiritual dan kebudayaan yang telah membentuk tanah Ponorogo.
Penulis: Purba Handayaningrat


