Ada Apa dengan Bertabur Penghargaan Jelang Pensiun Jokowi?
Beragam penghargaan terus berdatangan dari berbagai lembaga menjelang akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi), termasuk Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Diketahui, baru-baru ini, Jokowi dianugerahi medali kehormatan Loka Praja Samrakshana oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Penghargaan ini mengakui jasa luar biasa Jokowi dalam pengembangan dan kemajuan Polri.
Namun, di balik megahnya seremoni penghargaan ini, sejumlah pakar mempertanyakan keabsahan serta maknanya.
Feri Amsari, seorang pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, mengungkapkan keprihatinannya terkait penghargaan ini. Menurut Feri, ada potensi konflik kepentingan ketika bawahannya, yakni Polri, memberikan penghargaan kepada atasannya, presiden.
“Atas dasar apa bawahannya memberikan penghargaan kepada atasannya? Ada kepentingan tertentu di balik itu,” ungkapnya pada Senin (14/10/2024).
Potensi Konflik Kepentingan
Senada dengan Feri, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhamad Isnur, juga menilai bahwa penghargaan yang diberikan kepada Jokowi dari lembaga bawahannya berpotensi menciptakan konflik kepentingan.
Isnur bahkan mempertanyakan kontribusi nyata Jokowi dalam memajukan Polri. Menurutnya, justru di era Jokowi, banyak kasus pelanggaran HAM dan kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian.
“Harusnya, Jokowi dievaluasi dalam hal bagaimana kepolisian digunakan. Apa yang diberikan kepada Polri tidak sebanding dengan apa yang seharusnya terjadi dalam reformasi institusi ini,” tegas Isnur.
Di tengah berbagai penghargaan yang diterima Jokowi, citra Polri sendiri tak selalu berada di posisi baik. Sejumlah survei memang menempatkan Polri sebagai lembaga yang masih memiliki kepercayaan publik, tetapi kasus-kasus kekerasan polisi menjadi noda dalam perjalanan institusi ini.
Musfi Romdoni, seorang analis sosio-politik dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), menyoroti bahwa pemberian penghargaan ini mungkin lebih banyak berkaitan dengan upaya membangun citra.
“Pemberian penghargaan ini adalah cara untuk menjaga citra, baik bagi Jokowi maupun Polri,” jelasnya.
Namun, Romdoni juga menambahkan bahwa langkah ini bukanlah yang paling strategis, mengingat citra Polri di masyarakat masih sering kali dipertanyakan. “Jika Jokowi dilekatkan dengan Polri melalui penghargaan ini, ia bisa terjebak dalam citra negatif institusi tersebut,” tambahnya.
Tradisi Penghargaan bagi Presiden Menjelang Pensiun
Fenomena pemberian penghargaan kepada presiden yang akan pensiun bukanlah hal baru. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), misalnya, juga menerima penghargaan dari Polri di masa-masa akhir jabatannya.
Namun, Musfi Romdoni mencatat bahwa saat itu momen penghargaan kepada SBY memiliki nuansa yang lebih dramatis, bahkan sempat menjadi simbol ketegaran di bawah guyuran hujan.
Jokowi baru-baru ini juga menerima berbagai penghargaan internasional. Pada Agustus 2024, FAO memberikan Agricola Medal atas kontribusi Jokowi dalam bidang pangan. Namun, Musfi menyebut bahwa penghargaan internasional lebih strategis daripada penghargaan dari institusi domestik seperti Polri.
Langkah Jokowi Menuju ‘Soft Landing’
Menurut para pengamat, penghargaan ini juga merupakan bagian dari strategi Jokowi untuk mengakhiri masa jabatannya dengan “soft landing.” Jokowi berusaha menciptakan kesan baik di mata publik serta elite politik, agar transisi kekuasaan berjalan mulus tanpa hambatan.
Kunto Adi Wibowo, analis politik dari Universitas Padjadjaran, menyatakan bahwa Jokowi memang perlu menjaga dukungan publik mengingat kekuatan politiknya akan menurun setelah lengser.
“Jokowi hanya akan bergantung pada massa pendukung dan simpatisan setelah tidak lagi menjabat, terutama karena keluarganya sendiri tak memiliki kekuatan politik yang signifikan,” kata Kunto.
Pemberian penghargaan kepada Jokowi oleh Polri dan lembaga lainnya seolah menjadi cara untuk memoles citra sebelum masa pensiunnya. Namun, dengan citra Polri yang tidak sepenuhnya positif di mata publik, pemberian penghargaan ini juga membuka ruang bagi pertanyaan mengenai motif sebenarnya di balik penghargaan tersebut.
Apakah penghargaan ini merupakan pengakuan tulus atau sekadar strategi pencitraan untuk mengamankan masa depan politik Jokowi?
Penulis: Purba Handayaningrat


