Sudah Tahu Prabowo Subianto Pernah Jadi Tukang Pijat Gus Dur? Cerita Unik Sang Presiden
Pada suatu siang di bulan April tahun 2024, Prabowo Subianto, Presiden terpilih untuk periode 2024-2029, berdiri di hadapan para pemuka Nahdlatul Ulama (NU) di acara Halal Bihalal PBNU di Jakarta.
Dalam suasana hangat, Prabowo berbagi cerita yang penuh kenangan, salah satunya tentang pengalamannya menjadi tukang pijat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebuah kisah yang jarang diketahui orang dan memperlihatkan kedekatan emosional Prabowo dengan sosok Gus Dur, tokoh besar NU yang juga Presiden ke-4 Indonesia.
“Saya punya kehormatan sejak dulu, saya merupakan tukang pijatnya Gus Dur,” ujar Prabowo, senyum tersungging di wajahnya.
Pernyataan ini disambut tawa oleh hadirin. Tak ada yang menyangka, sosok yang kini menjadi presiden terpilih itu pernah begitu dekat secara personal dengan Gus Dur, hingga dipercaya untuk memijat sang tokoh.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bagian dari sejarah pribadi Prabowo yang memperlihatkan betapa dalamnya pengaruh Gus Dur dan NU dalam perjalanan hidupnya.
Kedekatan Prabowo dengan NU
Kedekatan Prabowo dengan Nahdlatul Ulama ternyata bukan hal yang tiba-tiba. Dalam sambutannya, Prabowo mengungkapkan bahwa sejak muda, dirinya sudah akrab dengan para kiai NU. Sebagai prajurit muda TNI yang sering mendapat tugas di daerah-daerah rawan dan berbahaya, Prabowo selalu mencari kekuatan spiritual dalam sosok para kiai, khususnya mereka yang berasal dari NU.
“Sejak muda sering dikirim ke daerah berbahaya dan menghadapi maut, jadi ketika orang menghadapi maut, yang dicari kiai. Jadi tidak usah merasa aneh kenapa saya dekat dengan NU,” katanya di hadapan para tokoh NU.
Baginya, para kiai NU bukan hanya tokoh agama, tetapi juga sumber kekuatan moral di tengah ketidakpastian hidup di medan tugas.
Melalui cerita-cerita ini, terlihat jelas bagaimana Prabowo merasakan kedekatan emosional dengan NU. Dia merasa bahwa organisasi ini, yang dipenuhi dengan tokoh-tokoh yang bijak dan visioner, selalu menjadi tempatnya mencari panduan di saat-saat genting.
Kisah Prabowo sebagai “tukang pijat Gus Dur” menjadi salah satu bukti nyata hubungan pribadi yang terjalin di antara mereka. Momen-momen intim ini, di mana Prabowo melayani Gus Dur dengan sederhana, menunjukkan bahwa hubungan keduanya tidak hanya bersifat politik atau profesional, melainkan juga kental dengan nilai persahabatan.
Prabowo mengenang Gus Dur sebagai sosok yang tidak hanya visioner tetapi juga humoris, seseorang yang memiliki pandangan jauh ke depan dan mampu membaca situasi bangsa dengan kebijaksanaan luar biasa. Prabowo menyatakan kekagumannya kepada NU, yang dipimpin oleh sosok seperti Gus Dur, karena organisasi ini memiliki pandangan yang selalu terarah pada kemaslahatan rakyat.
Utang kepada NU dan Dukungan yang Tak Terlupakan
Selain nostalgia tentang Gus Dur, Prabowo juga berbicara tentang “utang” pribadinya kepada NU. Ia mengaku masih merasa berutang untuk mengunjungi beberapa pesantren yang telah memberi restu dan dukungan pada perjuangannya selama Pemilu 2024.
Rasa uutang budi ini menggambarkan betapa besar arti dukungan NU bagi perjalanan politik Prabowo.
“Masih berutang karena tidak datang ke beberapa pesantren penting yang kemarin banyak merestui perjuangan kami,” ungkapnya dengan nada rendah hati.
Di sisi lain, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, menegaskan bahwa NU akan mendukung penuh pemerintahan Prabowo dan wakilnya, Gibran Rakabuming Raka.
“NU akan selalu mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran,” tegas Gus Yahya, seraya menambahkan bahwa tanggung jawab seorang pemimpin adalah untuk kemaslahatan rakyat.
Dukungan NU ini sangat penting, mengingat organisasi ini menaungi sebagian besar umat Islam di Indonesia, dengan populasi mencapai 61% berdasarkan survei Litbang Kompas.
Dukungan NU untuk Pemerintahan yang Baru
Dukungan NU bagi Prabowo bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, organisasi Islam terbesar di Indonesia ini juga mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Namun, bagi Prabowo, dukungan dari NU kali ini memiliki makna khusus. Ia merasa bahwa dukungan dari NU adalah bentuk kepercayaan yang luar biasa dan tanggung jawab besar yang harus diemban untuk memastikan kemaslahatan rakyat.
“Saya sangat-sangat terima kasih atas komitmen keluarga besar NU yang akan mengawal dan mendukung pemerintah yang akan datang,” ungkap Prabowo.
Prabowo pun menekankan bahwa keputusannya untuk maju dalam pemilu bukanlah keinginan pribadi semata, melainkan mandat dari rakyat yang mengharapkan solusi atas berbagai tantangan bangsa.
Di hadapan para pemuka NU, ia juga tidak lupa menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang mungkin pernah ia lakukan selama masa kampanye.
Akhir Cerita, Awal dari Tanggung Jawab Baru
Kisah Prabowo sebagai “tukang pijat Gus Dur” dan pengakuannya tentang kedekatannya dengan NU adalah cerminan dari hubungan personal dan politik yang panjang antara dirinya dan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Di satu sisi, ini adalah cerita kecil yang menghibur dan hangat, tetapi di sisi lain, ini juga menggambarkan bagaimana Prabowo memandang NU sebagai pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kini, sebagai presiden terpilih, Prabowo memiliki tugas besar di pundaknya, dengan dukungan dari NU dan jutaan rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan.
Dukungan NU menjadi pondasi penting untuk membangun pemerintahan yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga mampu merangkul semua elemen bangsa demi kemaslahatan bersama.
Penulis: Purba Handayaningrat


