Pernah mengaku hidup tak bahagia di lingkungan kerajaan, Meghan Markle baru-baru ini mengklaim dirinya sebagai salah satu orang yang paling sering di-bully di dunia. Markle mengaku mampu memahami perasaan para gadis remaja saat berbagi pengalamannya tentang perundungan online.
Pada awal Oktober, Markle mengunjungi organisasi nirlaba Girls Inc. di Santa Barbara, California untuk menjelaskan bagaimana perundungan berdampak pada generasi muda, khususnya pada remaja perempuan. Pencetus #HalfTheStory, Larissa May juga hadir dan bicara pada Vanity Fair tentang pernyataan Markle selama kunjungannya saat itu.
“Kami melakukan sebuah kegiatan di mana kami membicarakan sejumlah skenario dan Meghan berbicara tentang menjadi salah satu orang yang paling sering dirundung di dunia,” tutur May.
Menurutnya, para peserta yang hadir diminta melambaikan tanda emoji kecil dan berbicara tentang bagaimana masing-masing skenario ini akan berdampak padanya secara emosional.
Ini bukan pertama kalinya Markle buka-bukaan tentang pengalamannya menghadapi intimidasi di media sosial.
“Ketika Anda telah melalui tingkatan tertentu, rasa sakit atau trauma apa pun, saya yakin bagian dari perjalanan penyembuhannya, tentu saja bagian dari perjalanan saya, adalah kemampuan untuk benar-benar terbuka tentang hal itu,” katanya kepada CBS Sunday Morning pada Agustus lalu.
Markle melanjutkan pada saat itu, ia tidak ingin orang lain merasakan hal serupa dengan apa yang pernah dialaminya. Dia juga berharap tidak ada orang yang menyakiti orang lain lagi.
Pada 11 Oktober, di Hari Anak Perempuan Internasional, Archewell Foundation milik Markle didukung Girls Inc., Pivotal Ventures milik Melinda French Gates dan Charitable Foundation Oprah Winfrey mengumumkan rencananya untuk menciptakan program yang fokus pada anti-bullying di media sosial. Program itu disebut Social Media U.
Menurut pernyataan dari Archewell Foundation, ini adalah inisiatif pendidikan yang akan membekali anak perempuan dengan alat-alat penting untuk berkembang di era digital sambil membina hubungan yang lebih sehat dan seimbang dengan teknologi.
Gadis-gadis usia sekolah menengah dapat menguji inisiatif program ini dengan bantuan dari Meghan Markle.
“Kami benar-benar ingin memastikan bahwa para remaja di #HalfTheStory dapat memberikan masukan mereka mengenai jenis pengalaman yang akan kami ciptakan. Bersama Stephanie dan Meghan, kami berbicara tentang apa artinya tumbuh di era digital ini,” tutup May.
Amelie Fabiola


