Taufik Hidayat menjadi salah satu tokoh nonpartai yang ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora). Dia dikenal luas sebagai legenda bulutangkis Indonesia yang pernah mengharumkan Tanah Air di kejuaraan-kejuaraan dunia.
Ditunjuknya Taufik sebagai Wamenpora mengingatkan publik terhadap pernyataannya beberapa tahun lalu soal banyak ‘tikus’ di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), tempat tugasnya sekarang.
Pernyataan tersebut disampaikan Taufik ketika menjadi bintang tamu di acara Buka Mata Loe! Semua Koruptor!? Taufik Hidayat Nekat Bicara!! di kanal YouTube Deddy Corbuzier yang diunggah tahun 2020. Dia mengaku kapok setelah namanya terseret dalam kasus korupsi mantan Menpora Imam Nahrawi.
“Asli gue kapok. Tadinya cuma mau belajar karena mertua gue yang di pemerintahan. Terus ada kepikiran siapa lagi sih selain bokap yang nerusin di situ? Akhirnya gue mencoba yang tadinya di organisasi olahraga, yang di bulutangkisnya, kemudian masuk ke pemerintahan,” kata Taufik kala itu.
“Ternyata, waduh, tidak sejalan nih, kiamatlah. Kalau bisa dibilang kasarnya, siapa pun menterinya akan sama saja. Itu harus setengah gedung dibongkar. Tikusnya banyak banget,” cerita Taufik.
Di kasus korupsi Imam Nahrawi, Taufik mengakui dia menjadi kurir penerima uang untuk Imam. Dia melakukan itu karena disuruh oleh orang Kemenpora tanpa ada rasa curiga kepadanya.
“Gue mengakui salah, cuma gue tidak berpikir panjang. Gue cuma berpikir disuruh antar uang. Gue cuma sekali antar uang,” ujar dia.
Masih di acara Deddy Corbuzier, Taufik pernah bilang jika olahraga di Indonesia tidak akan maju siapapun yang menjadi menterinya. Menurut dia, alasannya karena di Kemenpora banyak ‘tikus’ yang dapat menghambat prestasi olahraga Indonesia.
“Saya bilang, mau siapa pun yang jadi menteri, kalau enggak dibongkar setengahnya, olahraga akan begini terus, enggak bakal maju. Gedungnya harus dibongkar separuh, tikusnya banyak banget,” tegas dia.
Dia kemudian mencontohkan praktik korupsi yang sering terjadi di lingkungan Kemenpora. “Misalnya, ada 500 atlet dipelatnasin di hotel. Jatah per atlet, katakanlah Rp500.000 per hari. Kalau kita masukkan banyak atlet ke hotel, kan biasanya dapat diskon. Misalnya, Rp100.000 kali 500 atlet. Berapa duit itu? Per hari?” tuturnya.
Klarifikasi Taufik usai Dilantik Wamenpora
Pernyataan Taufik soal ‘banyak tikus’ di Kemenpora kembali disinggung oleh wartawan setelah dia dilantik sebagai Wamenpora. Dia menegaskan akan lebih fokus pada pengembangan dan pembinaan olahraga di Indonesia.
Soal pemberantasan korupsi di kementeriannya, Taufik menyerahkan kepada lembaga yang berwenang.
“Kan sudah ada petugasnya (untuk pemberantasan korupsi). Saya hanya fokus membenahi olahraga. Untuk pengembangan olahraga kedepannya, saya akan berkoordinasi dengan Pak Menteri Dito Ariotedjo,” kata Taufik di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10/2024).
Ketika kembali dicecar soal langkah konkret Kemenpora memberantas korupsi, dia akan berkoordinasi dengan Menpora Dito Ariotedjo. Pasalnya, dalam memberantas korupsi di kementeriannya sendiri tidak bisa dilakukan seorang.
“Enggak mungkin saya jalan sendiri, Pak Dito jalan sendiri. Di kementerian ini, mataharinya satu. Saya berharap bisa diterima dengan baik oleh Pak Menteri dan pihak-pihak terkait,” katanya menandaskan.
Penulis: Mustami


