Pasola, Pertempuran Berkuda Ritual Pembersihan Diri Sambut Musim Tanam

Date:

Di tengah hamparan padang savana Pulau Sumba, sebuah tradisi yang kaya akan sejarah dan spiritualitas berlangsung setiap tahun. Pasola, sebuah pertempuran berkuda yang telah diwariskan secara turun-temurun, digelar sebagai bagian dari ritual kepercayaan Marapu.

Lebih dari sekadar perang-perangan, Pasola adalah upacara sakral untuk membersihkan diri dari kebencian dan amarah, menyambut musim tanam dengan hati yang bersih dan damai.

Mengutip laman kemenparekraf.go.id tradisi Pasola diadakan di empat kampung di Kabupaten Sumba Barat, yakni Wanukaka Atas, Wanukaka Bawah, Lamboya, dan Gaura. Setiap tahun, penduduk dari kampung-kampung ini berkumpul untuk mengikuti dan menyaksikan pertempuran berkuda yang penuh adrenalin, di mana dua kelompok dari berbagai kampung saling berhadapan.

Namun, di balik kehebohan itu, tersimpan filosofi mendalam tentang persatuan, kebersihan jiwa, dan hubungan manusia dengan alam.

Rangkaian Ritual yang Sakral

Pasola dimulai dengan rangkaian ritual yang berlangsung jauh sebelum kuda-kuda berlari di arena. Di Kampung Adat Hodana, para Rato (petinggi agama Marapu) melakukan upacara penyembahan kepada leluhur mereka, Marapu, sebagai tanda permohonan restu.

Ritual ini bukan hanya sekadar simbol keagamaan, tetapi diyakini sebagai penghubung antara manusia dengan alam semesta dan roh-roh nenek moyang.

Selanjutnya, ritual penangkapan nyale, sejenis cacing laut yang muncul setahun sekali di Pantai Kere We, dilakukan sebagai bagian dari tanda datangnya musim tanam. Penangkapan nyale ini dianggap sebagai pertanda kemakmuran dan keberuntungan yang diberikan alam.

Kemunculan nyale menandakan bahwa tanah Sumba siap menerima benih-benih baru, seiring dengan kedatangan musim hujan yang dinanti-nantikan.

Setelah penangkapan nyale, Pasola pantai digelar sebagai pertempuran kecil yang mengawali rangkaian acara. Serah terima tanggung jawab pelaksanaan Pasola kemudian dilakukan dari Rato Hodana ke Rato Kogorakangali dan Rato Malisu.

Setelah semua ritual ini selesai, Pasola resmi dimulai di Lapangan Hoba Kalla, Desa Patiala Bawa. Para penunggang kuda dari kedua kelompok kemudian bersiap untuk bertempur di arena.

Makna Spiritual di Balik Pasola

Pasola bukan sekadar pertunjukan kekuatan fisik atau keberanian di medan laga. Bagi masyarakat Sumba, Pasola adalah kesempatan untuk membersihkan diri dari segala sifat buruk, kemarahan, kebencian, dan dendam, yang dilambangkan melalui pertempuran di atas kuda.

Dalam kepercayaan Marapu, proses ini dikenal sebagai “kebas kutu ayam,” yang berarti membuang segala hal negatif dari diri sebelum memasuki musim tanam.

Setiap peserta Pasola melontarkan lembing kayu ke arah lawan, tetapi tujuan utamanya bukanlah melukai atau memenangkan pertandingan. Sebaliknya, lemparan lembing ini menjadi simbol pelepasan emosi negatif, sehingga masyarakat dapat menyambut masa depan dengan hati yang damai dan jiwa yang bersih.

Tradisi ini juga mengajarkan sportivitas dan persaudaraan, di mana segala bentuk kekerasan yang terjadi di arena tetap berada di arena, tanpa dendam yang terbawa ke luar.

Menjaga Kesakralan di Tengah Popularitas
Meskipun Pasola adalah upacara spiritual, daya tariknya sebagai atraksi budaya semakin menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tokoh masyarakat yang memilii kepedulian kepada Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur, Marius Ardu Jelamu, beberapa waktu lalu menekankan pentingnya menjaga kesakralan Pasola.

Ia mengingatkan bahwa Pasola bukan hanya hiburan, melainkan bagian dari ritus keagamaan tradisional yang dalam dan kaya akan makna.

“Pasola tidak hanya tentang perang-perangan di atas kuda. Di baliknya, ada nilai-nilai persaudaraan, sportivitas, dan heroisme yang harus dijaga. Jika terjadi keributan, maka kesakralannya akan hilang dan wisatawan mungkin enggan untuk datang kembali,” kata Marius.

Sebagai acara yang mendatangkan wisatawan, keamanan dan ketertiban selama Pasola menjadi faktor penting dalam mempromosikan budaya dan pariwisata Sumba ke dunia luar.

Kericuhan yang sempat terjadi dalam beberapa gelaran Pasola sebelumnya menjadi peringatan bagi masyarakat lokal untuk lebih menjaga tradisi ini. Marius menegaskan bahwa tujuan Pasola bukanlah konflik, melainkan ekspresi kegembiraan dan persaudaraan melalui perang simbolik.

Oleh karena itu, kerja sama antara pemerintah, masyarakat adat, dan aparat keamanan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa Pasola tetap aman dan sakral di masa mendatang.

Warisan Budaya yang Menyatu dengan Alam

Pasola telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya Sumba. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini tetap hidup di tengah modernitas, sebagai simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur.

Masyarakat Sumba percaya bahwa keberlangsungan Pasola adalah kunci untuk menjaga keseimbangan alam dan memperkuat ikatan sosial di dalam komunitas mereka.

Bagi masyarakat luar, Pasola adalah jendela untuk melihat lebih dalam ke filosofi hidup masyarakat Sumba yang menghargai persaudaraan, kebersamaan, dan spiritualitas.

Setiap kuda yang berlari di arena Pasola membawa pesan bahwa kehidupan harus dijalani dengan keberanian, tetapi juga dengan kedamaian. Dalam setiap lembing yang dilempar, ada harapan untuk musim tanam yang baik dan kehidupan yang lebih harmonis.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...