Generasi Z mungkin banyak yang mengenal pantun dari berbagai konten media sosial, seperti yang sering digunakan para artis dengan ada kata-kata catchy seperti “cakep.”
Namun, tahukah Anda bahwa di Minangkabau terdapat tradisi berpantun yang lebih kaya dan penuh makna, yaitu Batombe?
Kesenian ini tidak hanya sekadar permainan kata, tetapi juga merupakan ekspresi seni yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Abai, Kabupaten Solok Selatan. Batombe, yang berasal dari kata “tombe” yang berarti “pantun,” adalah aktivitas berbalas pantun yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Dan diawali dengan awalan “ba,” yang menandakan aksi berbalas pantun. Jadi, Batombe secara harfiah berarti aktivitas berbalas pantun. Tradisi ini tidak hanya sekadar permainan kata; ia merupakan ekspresi seni yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Abai, Kabupaten Solok Selatan.
Melodi Vokal yang Khas
Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, pelaksanaan Batombe diwarnai dengan melodi vokal khas masyarakat Abai, yang awalnya tanpa iringan alat musik. Namun, seiring perkembangan zaman, melodi ini kini sering diiringi oleh alat musik tradisional seperti rabab, saluang, dan alat perkusi lainnya.
Saat pertunjukan, Batombe biasanya ditampilkan dalam suasana pesta perkawinan di rumah gadang, menciptakan atmosfer yang meriah dan penuh kehangatan.
Kepedulian terhadap pelestarian budaya menjadi fokus penting di kalangan generasi muda. Kesenian Batombe telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan lokal, sehingga siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat mempelajari dan memahami tradisi ini. SMA Negeri 7 Solok Selatan, misalnya, berperan aktif dalam menjaga agar Batombe tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Menggambarkan Kehidupan Sehari-hari
Batombe bukan sekadar pertunjukan seni; ia juga merupakan medium untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman hidup. Melalui pantun yang dinyanyikan, pendendang menceritakan kisah cinta, kesedihan, dan semangat, yang sering kali menggunakan kata kiasan. Hal ini membuat setiap penampilan Batombe kaya akan makna dan relevansi dengan kehidupan sehari-hari.
Meskipun Batombe mirip dengan kesenian berpantun di daerah lain, keunikan alat musik pengiringnya, rabab menjadikannya berbeda. Sementara di daerah seperti Palembang dan Bengkulu, kesenian berpantun biasanya menggunakan gitar, Batombe tetap setia pada alat musik tradisionalnya. Seiring berjalannya waktu, Batombe mengalami perkembangan, tidak hanya dalam aspek pertunjukan tetapi juga dalam modifikasi alat musik dan aksesori yang digunakan.
Komunitas dan Kebersamaan
Kesenian Batombe berakar pada nilai kebersamaan dan gotong royong. Cerita rakyat menyebutkan bahwa tradisi ini muncul saat warga bekerja sama membangun rumah gadang atau masjid.
Suatu ketika, ketika kayu yang akan diangkat tidak bisa digeser, perempuan-perempuan mulai berpantun untuk memberi semangat. Dengan pantun-pantun yang saling dijawab, kayu yang semula tidak bisa digeser perlahan-lahan dapat dipindahkan.
Ini menunjukkan bagaimana Batombe berfungsi sebagai pengikat sosial, membawa masyarakat bersama dalam suasana kekeluargaan.
Setiap pertunjukan Batombe adalah pengalaman yang unik. Pendendang sering kali tampil tanpa panduan atau teks yang kaku, memungkinkan improvisasi dan spontanitas. Musik pengiring yang sederhana namun efektif menambah suasana, menciptakan momen yang penuh kegembiraan dan kehangatan. Penonton juga sering diundang untuk ikut serta dalam balas pantun, memperkuat rasa komunitas yang terjalin.
Seiring dengan perkembangan zaman, Batombe telah beradaptasi dengan berbagai acara, mulai dari pernikahan hingga penyambutan tamu. Walaupun telah mengalami perubahan, esensi Batombe sebagai alat pemersatu masyarakat tetap terjaga.
Tradisi ini, dengan segala kekayaan dan keunikannya, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Minangkabau, mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya yang kaya ini untuk generasi mendatang.
Penulis: Purba Handayaningrat


