Tiap pagi ketika membuka grup Whatsapp, selalu saja ada unggahan yang berisi petuah-petuah bijak, renungan pagi dan nasihat-nasihat agar begini dan begitu. Juga doa-doa dari beragam keyakinan dan kata-kata motivasi yang dimaksudkan agar anggota grup menjadi orang baik, beradab, religius dan tetap bersemangat agar sukses.
Kondisi ini terjadi setiap hari, sepanjang tahun di grup mana saja, mulai dari grup alumni, komunitas dan keluarga. Biasanya mereka hanya memforward info yang diterima sebelumnya atau meng-copy paste dari media lain. Padahal, bisa jadi ada anggota grup yang lebih dahulu menerimanya. Ironinya, mereka belum tentu telah mempraktekkan apa yang dia sampaikan. Semacam motivator saja.
Tujuan mereka baik adanya. Mereka berharap semua anggota di grup bisa menjalankan perilaku ideal seperti yang ada di postingan. Mereka seolah-olah menuntut kita untuk menjadi orang baik, sesuai dengan standar norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Dan memang begitu kondisi masyarakat kita saat ini. Jika ada yang bertingkah berbeda atau bahkan aneh dari kebiasaan umum, seseorang akan mendapatkan stigma buruk atau akan dikritik. Apalagi kalau tinggal di desa yang masih memegang teguh tradisi konvensional yang sudah berlaku beratus-ratus tahun.
Misalnya tato. Bagi masyarakat desa, orang yang mempunyai tato di tubuhnya dianggap tidak wajar dan melanggar norma sosial. Karena tato selain dianggap merusak tubuh juga identik dengan kelompok tertentu, orang yang tidak baik-baik. Masyarakat khawatir mereka bisa membawa pengaruh buruk di lingkungannya.
Mereka lebih bisa menerima orang-orang yang tidak punya tato dan berpakaian sesuai keyakinan tertentu. Meskipun tak pernah ada yang tahu bagaimana sebenarnya moralitasnya.
Hal lain yang belum bisa diterima adalah gaya hidup melajang. Sampai hari ini masih saja ada kaum boomer yang menjodoh-jodohkan seseorang yang sudah dianggap dewasa namun belum menikah. Tidak ada konsep hidup melajang bagi mereka. Karena memang selama ini mereka tahunya siklus hidup itu lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, menikahkan anak lalu menjalani masa tua dengan bahagia tak kurang suatu apa.
Tuntutan sosial masyarakat memang tidak disampaikan secara eksplisit, namun semua berusaha mematuhinya. Salah satunya tiap orang dituntut sukses.
Karena itu, para orangtua secara diam-diam menyiapkan anaknya punya karier yang bagus. Jika kamu punya karier bagus, otomatis akan dianggap sukses, status sosial pun bisa terangkat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun martabat keluarga dan kerabat pun terangkat. Dan orang-orang yang berhasil secara materi ini akan dijadikan teladan dan sumber kebanggaan bagi keluarga.
Sebaliknya, bagi yang tidak punya karier jelas, apalagi pengangguran, akan mendapatkan cap buruk. Oleh karena itu, para orangtua terus mendorong anak-anaknya untuk mengikuti apa yang bisa memenuhi harapannya dan harapan masyarakat.
Saya masih ingat dengan perilaku seorang ayah muda. Karena dia seorang petualang, traveler, pecinta alam, dia membawa bayinya ke mana-mana dengan alasan agar bisa belajar sejak dini mencintai alam. Padahal, kita tidak pernah tahu seperti apa keinginan anak tersebut nantinya. Tapi anak sekecil itu sudah dituntut untuk melakukan hal-hal yang belum tentu menjadi passion-nya ke depan.
Belum nanti di sekolah. Anak dituntut untuk menjadi juara satu, paling tidak harus punya nilai bagus. Untuk mewujudkan keinginan itu, orang tua ( atau bahkan guru) akan memaksa anak untuk belajar atau latihan lebih keras, mengambil les tambahan mata pelajaran tertentu agar nilainya di sekolah bagus.
Beban dan tuntutuan untuk bisa berprestasi ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Anak-anak mungkin merasa cemas tentang hasil ujiannya buruk sehingga takut mengecewakan orang tua. Atau mereka tidak akan mendapatkan kasih sayang yang baik jika mendapatkan nilai jelek.
Karena memaksakan kehendaknya seorang ibu di Tangerang menghajar anak kandungnya yang masih berusia 8 tahun hingga tewas. Ibu ini memaksa anaknya belajar secara online saat pandemi 2022. Karena anaknya enggan melakukan belajar online, sang ibu marah dan menghajarnya sampai tewas.
Mungkin banyak orangtua yang tak pernah mengenal Kahlil Gibran yang menulis soal anak.
“Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri. Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu.”
Belum lagi, sebagai warga negara Indonesia, tiap-tiap warga negara harus beragama. Ada 6 agama yang resmi berlaku di Indonesia. Tiap orang yang lahir di Indonesia harus meyakini salah satunya. Tiap-tiap anak di-brain wash soal keyakinan itu setiap saat. Harus percaya ini itu, harus bisa menghafal ayat-ayat untuk mendapatkan pahala demi bisa masuk surga.
Dan ini mungkin yang paling tragis: sejak lahir ke dunia, bayi-bayi di seluruh Indonesia sudah dituntut untuk menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi nusa dan bangsa.
Harapan-harapan itu tampak positif namun bisa jadi beban yang berat dan membatasi kebebasa anak untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri. Banyak yang orang merasa hidup harus mengikuti jalan yang telah ditentukan oleh keluarga atau masyarakat, meskipun harus mengorbankan keinginan pribadi.
Kabanyakan dari kita tak bisa benar-benar bebas, merdeka melakukan sesuatu yang sesuai keinginan kita sepenuhnya, meskipun berbeda dengan orang kebanyakan. Risikonya memang berat, tapi bukankah hidup cuma sekali?
Selain tuntutan dan beban yang berasal dari luar, kebebasan kita juga sering kali terkekang oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Ketakutan-ketakutan yang ada di pikiran itu yang menghalangi kita untuk hidup dengan bebas. Rasa takut ditolak dan keinginan untuk diterima sering kali membuat kita mengorbankan kebebasan yang kita punya.
Banyak orang yang terpaksa berpura-pura menjadi seseorang yang sebenarnya bukan kita yang sebenarnya, hanya untuk mendapatkan pengakuan dan validasi dari orang lain.
Padahal banyak keuntungan yang bisa diperoleh kalau kita mampu mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan kita, terbebas dari beban dan tuntutan dari pihak luar.
Dengan kebebasan seseorang bisa mengeksplorasi minat dan bakat sendiri dengan mencoba belajar berbagai hal yang benar-benar disukai. Karena suka, mereka cenderung lebih termotivasi sehingga mereka lebih kreatif.
Dan yang lebih penting, tanpa tekanan dari pihak luar, seseorang bisa bebas dari kecemasan dan stress untuk memenuhi harapan orang lain. Kita bisa memiliki kontrol atas hidup sendiri sehingga kesehatan mental kita lebih baik.
Memang kebebasan ada batasan-batasan yang tidak dapat kita hilangkan sepenuhnya, kita hanya bisa meminimalkan pengaruh dari luar dan membuat pilihan yang lebih sadar dan lebih sesuai dengan standar nilai-nilai dan keinginan kita sendiri. Jadi kita sebenarnya memang tidak pernah benar-benar merdeka.
Penulis: Karmin


