Presiden Joko Widodo atau Jokowi melantik Taruna Ikrar sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)menggantikan Penny K Lukito.
Yuk kita bahas profil Taruna Ikrar.
Dia lahir di pesisir pantai di Kota Makassar pada 15 April 1969 silam.
Dia memperoleh gelar sarjana kedokterannya di Universitas Hasanuddin, Makassar. Dia lalu pendidikan Master Farmakologi (M. Pharm) di Universitas Indonesia.
Dia lalu mendapat beasiswa dari pemerintah Jepang (Mombukagakusho) untuk spesialisasi penyakit jantung (Ph.D) di Universitas Niigata. Pada 2008, dia menuntaskan program post-doctoralnya di bidang neurosains di School of Medicine, University of California, Amerika Serikat.
Taruna Ikrar kemudian dikenal sebagai peneliti neurosains.
Dia merupakan satu pemegang paten metode pemetaan otak manusia sejak 2009. Dia juga anggota tim peneliti obat dan vaksin di ASGCT California, Amerika Serikat.
Taruna Ikrar juga cukup aktif dalam keorganisasian. Dia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia periode 2000-2003, anggota American Cardiology Collage, and Society for Neurosciences, International Heart Research Association, Asia Pacific Hearth Rhythm Association, dan Japanese Cardiologist Association.
Kontroversi Taruna Ikrar
Selain terkenal akan prestasinya, Taruna Ikrar pernah menjadi bahan pembicaraan lantaran gelar profesornya dicabut oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim pada 30 Agustus 2023.
Dilansir dari laman ppdikti, Taruna Ikrar adalah dosen di Universitas Malahayati, Bandar Lampung.
Dia disetarakan dalam jabatan akademik dosen sebagai profesor. Namun, keputusan penyetaraan gelar profesor tersebut dicabut setahun kemudian.
Pencabutan gelar professor itu dilakukan karena ada dugaan kecurangan dalam usulan penyetaraan guru besar ke Taruna Ikrar.
Dia juga pernah menuai kontroversi terkait nominasi Nobel 2016, profesor biomedik, dekan di Pacific Health Sciences University (PHSU), dan Presiden BioBlast Discovery.
Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) mengatakan klaim Nobel Taruna Ikrar tidak akurat. Dia mengklaim, dalam satu bulan, otot bisa bertambah 10 kg secara signifikan tanpa perlu berolahraga atau menjalani diet.
Mereka juga mempermasalahkan klaim Taruna sebagai dekan dan profesor di National Health University (NHU) atau Pacific Health University (PHSU). Meski Taruna Ikrar menunjukkan dua surat pengangkatannya.
Pada wawancara dengan Tempo, Taruna menegaskan tidak berbohong soal klaimnya itu. Dia mengakui, PHSU adalah kampus baru.
Dia menjamin kampus tersebut tidak fiktif.


