Judol, Pertaruhan yang Tak Pernah Bisa Dimenangkan

Date:

Nyaris semua orang diam-diam ingin jadi orang kaya raya dengan cara mudah dan cepat. Dengan banyak uang, seseorang bisa membeli apa saja: teman , pacar dan kebahagiaan. Bisa hidup dengan cara hedon, tarveling ke berbagai destinasi dunia yang tidak main stream lalu flexing-flexing.

Seperti postingan para konten kreator yang sering beredar di akun sosial media yang followernya puluhan juta. Hidup seperti di negeri dongeng. Indah dan glamour.

Kamu pengen juga seperti mereka?

Tentu saja bisa. Namun harus mau menjalani proses yang biasanya tidak instan. Mulai dari bawah, pelan-pelan naik dan kalau beruntung, impian menjadi orang yang kaya raya bisa terwujud.

Namun hanya sedikit orang yang mau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan moodnya untuk mengikuti proses yang berjenjang itu. Banyak juga yang memilih jalan pintas, potong kompas dan berharap sim salabim hidup berubah.

Salah satu cara yang diyakini mereka adalah dengan judi online atau judol. Data terbaru Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Hadi Tjahjanto menunjukkan bahwa pemain judi online di Indonesia mencapai 4 juta orang, dengan total uang yang berputar mencapai Rp 327 Triliun. Jumlah yang fantastis!.

Siapa mereka sebenarnya?

Judol cukup populer di semua kalangan dengan beragam profesi. Dari anak-anak sampai kakek-nenek. Dari pengangguran, pelajar sampai, anggota DPR dan DPRD. Namun yang terbanyak adalah mereka yang berusia 31-50 tahun sebanyak 40 persen (1,64 juta pelaku) dan paling sedikit anak-anak usia di bawah 10 tahun yakni 2 persen atau sekitar 80 ribu anak.

Mungkin para orangtua tidak mengetahui bahwa anak-anaknya yang masih lucu, polos ternyata telah terjebak ke dunia hitam. Sungguh miris!.

Tak hanya di wilayah perkotaan, di desa pun judol atau judi slot juga marak. Misalnya di daerah Jawa Tengah bagian selatan yang berdekatan dengan Darwin. Beberapa pemuda pengangguran lebih paham judi slot dibanding bagaimana mencari uang via online yang legal.

Di wilayah lain, judi online telah banyak memakan korban. Baru-baru ini beredar kabar mahasiswi di Gorontalo di tangkap polisi karena menggelapkan 11 laptop teman-temannya. Dari penyelidikan diperoleh fakta, Perempuan melakukan aksi kriminal itu karena memenuhi permintaan pacarnya untuk judi online. Sebucin itu!

Di Wonogiri, kota bakso, mie ayam dan jamu ini jumlah kasus perceraian meningkat tajam. Dari Januari sampai Juli 2024 terjadi perceraian sebanyak 920 pasangan. Artinya setiap hari 4-5 pasangan bercerai. Penyebabnya adalah judi online.

Dampak Judol Sangat Tragis

Efek yang lebih serius, judi online menyebabkan beberapa orang melakukan bunuh diri. Seperti yang terjadi pada tukang ojek online di Semarang. Pria berusia 32 tahun itu nekat gantung diri karena duitnya habis untuk berjudi. Bahkan menurut keterangan polisi, sebelum meninggal pria itu menggadaikan sertifikat rumah dan uangnya habis buat judi online.

Yang tak kalah tragis, seorang polisi di Mojokerto, Jawa Timur, menjadi korban pembakaran oleh istrinya sendiri yang juga seorang polisi. Aksi itu dilakukan karena kesabarannya sudah habis. Sang suami kecanduan berjudi online memakai uang belanja.

Sebelumnya Center For Financial and Digital Literacy merilis, sejak 2023 hingga saat ini terdapat 14 kasus orang bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang dipicu oleh judi online.

Judi online telah terbukti merusak seluruh sendi kehidupan. Dan mayoritas pelakunya adalah masyarakat kelas bawah, sebanyak 80 persen.

Meski telah memakan banyak korban, pelaku perjudian online ini juga mendapat kesulitan untuk berhenti. Salah satu alasannya, judi online memberikan sensasi harapan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan mudah meski kemungkinannya sangat kecil.

Pengakuan Pelaku

Seorang pemain judi online mengaku melakukan judi online untuk menghibur diri, karena dianggap bisa memacu adrenalin yang susah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Atau sebagai bentuk pelarian untuk menghilangkan stress akibat tekanan hidup dari pekerjaan, keluarga atau asmara yang ia hadapi.

Penyebab lainnya bisa jadi karena gencarnya iklan di sosial media dan aplikasi percakapan lain yang terus mendatangi kita. Lingkungan yang sering membahas atau terlibat dalam judi online juga bisa membuat seseorang mencoba-coba untuk ikut judi online.

Adanya penawaran beragam bonus juga menjadi salah satu daya tarik seseorang untuk mencoba pengalaman baru yang diharapkan sesuai keinginannya.

Apalagi dengan dukungan kemudahan akses ke situs atau aplikasi. tiap orang, siapapun dia bisa membuka website atau mendowload aplikasi. Kapan saja dan di mana saja bisa mendaftar gratis, lalu bermain.

Di permainan judi online seseorang bisa menyembunyikan identitas aslinya. Sehingga dia akan merasa bebas dan tak akan ketahuan oleh teman, kerabat atau keluarganya. Selain memang ilegal, judi online memberikan image buruk bagi pelakunya. Apalagi di negeri yang sangat agamis ini.

Ironis, Indonesia masuk 10 besar sebagai negara dengan penduduk paling religius tetapi warganya tak bisa terbebas dari kasus perjudian online.

Tapi penyebab utama kenapa masyarakat menyukai judi online adalah tingkat literasi digital yang rendah. Orang-orang yang paham literasi digital tidak akan melakukan hal konyol itu karena sudah tahu permainan itu telah disetting oleh bandar judi. Itulah kenapa bisnis judi online ini tidak ada yang bangkrut.

Upaya Memberangus

Mengingat bahayanya yang mengerikan, perlu upaya semua pihak untuk memberangusnya agar pemain judol semakin lama makin menyusut. Syukur-syukur bisa hilang. Bisakah? Pasti bisa kalau kita mau.

Caranya? Mulai dari keluarga kita sendiri. Jika kalian orangtua yang masih mempunyai anak remaja, bisa mengedukasi anaknya agar mereka punya kesadaran mendalam dan menyeluruh soal dampak negatif permainan judi online. Kerugian-kerugian yang akan menimpa baik secara finansial, dampak fisik maupun mental.

Ciptakan lingkungan yang mendukung keterbukaan satu sama lain, jika ada permasalahan bisa dipecahkan bersama. Sehingga bisa saling memberikan dukungan emosional .

Anak-anak sebaiknya mengakses internet di ruang terbuka, bukan di ruang tertutup apalagi sembunyi-sembunyi. Kalau perlu beri batasan berapa lama mereka boleh mengakses internet.

Blokir situs-situs yang berpotensi merusak dan merugikan, terutama untuk anak-anak. Perlu aplikasi khusus untuk memilih mana yang aman untuk anak.

Juga periksa browser atau peramban secara berkala untuk memastikan anak tidak mengakses situs-situs ilegal, termasuk situs judi online.

Tiap keluarga Indonesia harus paham literasi keuangan agar mengetahui cara mengelola uang atau membuat anggaran. Termasuk bagaimana cara mendapatkan maupun membelanjakannya. Harapannya mereka sabar dan setia pada proses, tidak gampang terpukau dengan janji manis yang instan dan tak masuk akal.

Idealnya memang pemerintah harus hadir untuk membasmi kegiatan haram ini. Namun beberapa waktu lalu pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) mengaku kesulitan memberantas judi online.

Benarkah? Semoga negara tidak akan pernah kalah dengan bandar judi.

1 COMMENT

  1. Terima kasih om karmin Winarta … semoga menjadi pengingat kita agar tidak masuk ke dunia judol .. angkat juga masalah pinjol dunk .. trims .. sehat selalu yaa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...