Dahulu, jika merujuk lawak yang mengundang tawa ya pasti grup Srimulat. Srimulat didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo dan istrinya, Raden Ayu Srimulat, pada tahun 1950 di Solo.
Teguh dan Raden Ayu adalah pasangan yang sama-sama mencintai dunia seni. Mereka memulai karir dengan membentuk kelompok seni dan tari yang diberi nama Gema Malam Srimulat.
Seiring berjalannya waktu, kelompok ini kemudian berkembang menjadi salah satu grup lawak paling populer di tanah air.
Dirangkum dari berbagai sumber, kolaborasi seni yang ditampilkan oleh Srimulat sejak awal berdirinya memang unik. Pertunjukan mereka merupakan perpaduan antara musik, tari, dan guyonan khas yang membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal.
Raden Ayu Srimulat, yang menjadi penyanyi utama, segera menjadi pusat perhatian dan disegani banyak orang. Nama-nama seperti Wadino, Sarpin, Ranudikromo, Djuki, dan Suparni menjadi penggawa awal yang menghidupkan pentas Srimulat.
Merambah ke Kota-Kota Besar
Ketenaran Srimulat tak hanya terbatas di Solo. Dalam waktu singkat, mereka berhasil menembus pasar hiburan di kota-kota lain seperti Surabaya dan Semarang. Kala itu, penampilan mereka selalu dinantikan oleh masyarakat di berbagai daerah.
Kekuatan Srimulat terletak pada kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan berbagai audiens, baik di kota besar maupun di daerah kecil.
Berganti Nama Menjadi Aneka Ria Srimulat

Pada awal tahun 1960-an, Srimulat menetap di Solo dan mengubah namanya menjadi Aneka Ria Srimulat. Mereka kemudian membuka panggung tetap di Surabaya, yang menjadi basis utama mereka untuk terus berkarya.
Di panggung ini pula, penyanyi cilik Yana diperkenalkan sebagai pengganti Raden Ayu Srimulat, yang tetap menjadi ikon grup ini meski kesehatannya mulai menurun.
Namun, pada tahun 1968, Srimulat kehilangan sosok pentingnya. Raden Ayu Srimulat meninggal dunia, meninggalkan kekosongan yang besar dalam grup ini.
Meski begitu, Teguh Slamet Rahardjo dan anggota lainnya tetap melanjutkan perjuangan Srimulat. Mereka terus tampil dan semakin memperkuat posisi mereka di dunia hiburan tanah air.
Menembus Ibu Kota Jakarta
Tahun 1972 menjadi tonggak sejarah penting bagi Srimulat. Untuk pertama kalinya, mereka mendapat kesempatan tampil di Jakarta, tepatnya di Taman Ismail Marzuki. Namun, tantangan baru muncul.
Srimulat yang selama ini melawak dengan bahasa Jawa harus beradaptasi dengan bahasa Indonesia agar bisa diterima oleh masyarakat ibu kota. Meski demikian, mereka berhasil menaklukkan panggung Jakarta dan semakin dikenal luas.
Puncak Kejayaan hingga Masa Sulit

Puncak kejayaan Srimulat terjadi pada era 1980-an. Mereka mulai tampil di televisi nasional dan menjadi favorit penonton. Srimulat bahkan mendapat kesempatan tampil di depan Presiden Soeharto.
Pada masa ini, grup tersebut juga membuka cabang di berbagai kota besar di Pulau Jawa, dengan jumlah anggota yang mencapai ratusan orang.
Masa Sulit dan Pembubaran
Namun, kesuksesan Srimulat juga diiringi oleh berbagai tantangan. Bongkar pasang anggota terjadi secara terus-menerus, terutama setelah beberapa pelawak tenar seperti Tarsan, Timbul, dan Gepeng memutuskan keluar dari grup.
Puncaknya, pada tahun 1989, Srimulat resmi dibubarkan oleh Teguh Slamet Rahardjo, meski permintaan untuk kembali tampil tetap mengalir.
Kebangkitan Srimulat dan Film

Enam tahun kemudian, pada tahun 1995, Srimulat kembali dibentuk setelah desakan dari publik yang merindukan kehadiran mereka. Sayangnya, setahun setelah kebangkitan ini, Teguh Slamet Rahardjo meninggal dunia.
Meski begitu, semangat Teguh terus dihidupkan oleh para pelawak Srimulat lainnya yang masih berkiprah di dunia hiburan.
Meski sempat naik daun kembali, Srimulat menghadapi tantangan besar dalam hal regenerasi. Pesan ini tersirat dalam film Finding Srimulat yang dirilis pada tahun 2013.
Film ini menggambarkan upaya untuk menyatukan kembali para pelawak legendaris seperti Gogon dan Tessy, sekaligus mengingatkan betapa sulitnya regenerasi di dunia komedi.
Mengabadikan Sejarah Lewat Film
Pada tahun 2022, kisah Srimulat kembali menjadi sorotan setelah dibuatkan film biopik berjudul Srimulat: Hil yang Mustahal. Film ini menceritakan perjalanan mereka dari panggung ke panggung hingga meraih popularitas di televisi.
Srimulat bukan sekadar grup lawak, mereka adalah bagian dari sejarah komedi Indonesia yang tak akan pernah terlupakan.
Penulis: Purba Handayaningrat


