Makna dan Amalan-Amalan pada Rabu Wekasan, Menurut KH Maimoen Zubair

Date:

Istilah Rabu wekasan cukup populer dalam khazanah Islam di Indonesia, terutama komunitas muslim di Jawa. Dalam bahasa Jawa Rabu wekasan disebut dengan Rebo wekasan, yang bermakna Rabu terakhir atau Rabu pamungkas.

Rebo wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir bulan safar dalam kalender Hijriyah, atau Sapar dalam istilah kalender Jawa.

Sapar juga identik dengan mitos bala atau celaka, sebuah kepercayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Makanya, di Jawa ada istilah ‘saparen’, yang berarti sakit-sakitan. Biasanya, saparen ditujukan kepada anak yang gampang sakit.

Komunitas muslim di Jawa juga memiliki ritual khusus pada Rabu wekasan. Hal itu terkait dengan kepercayaan bahwa Rebo Wekasan adalah hari turunnya bala atau celaka.

Soal ini, Ulama kharismatik asal Rembang, KH Maimoen Zubair (alm) dalam sebuah kesempatan pernah menjelaskan sejumlah hal tentang Rebo Wekasan.

Mbah Moen, demikian beliau akrab disapa, membeberkan makna, dan amalan-amalan yang dianjurkan pada Rabu Wekasan. Rabu wekasan sendiri jatuh pada Rabu, 4 September 2024.

Makna Rebo Wekasan

KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). (Foto: mtsalanwarsarang.sch.id)

Mbah Moen mengungkapkan alasan dinamakan Rebo Wekasan karena di bulan Safar. Arti Safar adalah kuning. Menurut orang Arab, setiap yang kuning artinya pucat.

“Nah kalau pucat itu kosong. Makanya menurut bahasa Arab shifrun itu kosong. Jadi seakan-akan bulan yang kosong itu bulan Safar. Seakan-akan Allah menciptakan bumi itu bulan Safar,” jelas Mbah Moen.

Menurut Mbah Moen, jika mengingat kejadian penciptaan, maka akan selamat dari segala bahaya dan bala. Itulah makna mengapa ritual Rebo Wekasan diadakan setiap tahunnya.

Asal usul adanya ritual Rebo Wekasan karena pada hari itu dipercaya bakal turunnya musibah dan bala. Sebagian juga menganggap Rabu terakhir Safar sebagai hari sial.

Oleh karenanya, melakukan serangkaian amalan khusus di hari tersebut untuk menangkal musibah dan bala.

Amalan pada Hari Rebo Wekasan

“Sebagian ulama ahli kasyaf mengatakan, pada hari Rebo Wekasan itu tempat tumpuan bala dan cobaan. Makanya kalau Rebo Wekasan disuruh sholat empat rakaat,” jelas Mbah Moen, seperti dalam video yang diunggah di akun YouTube ppalanwarsarang.

Mbah Moen menambahkan, masing-masing rakaat sholat membaca surah Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas lima kali, Al-Falaq satu kali, dan An-Nas satu kali. Kemudian ia menjelaskan alasannya.

“Kalau kamu mau membaca (Al-Kautsar) 17 kali, maka kamu akan hidup enak, dan orang yang memusuhimu akan tertumpas,” jelasnya.

Setelah itu membaca surah Al-Ikhlas lima kali, mengapa? Mbah Moen lantas mengutip ayat pertama dan kedua surah Al-Ikhlas yaitu qulhuallahu ahad, allahusshomad yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.’ Allah tempat meminta segala sesuatu.”

“Jadi semua tujuannya kepada Allah. Kalau orang sudah dekat dengan Allah, maka itu hal baik,” kata Mbah Moen.

Adapun surah An-Nas dan Al-Falaq menurut Mbah Moen untuk menolak bala. “Tolak tanggul. Ada bahaya bala dari selatan, maka tertolak kembali lagi ke selatan karena dibacakan surah Al-Falaq dan dibacakan surah An-Nas,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...