Cancel Culture dan Ancaman Kebebasan Berpendapat

Date:

Beberapa waktu lalu, V BTS atau Kim Taehyung  memposting foto kentang goreng di Instagram dari brand makanan siap saji yang dianggap membela Israel. Pengikutnya atau fans-nya yang disebut ARMY marah besar.

V dianggap berseberangan faham dengan ARMY yang selama ini mendukung Palestina. Kekesalan salah satu anggota ARMY diungkapkan dengan meminta V menghapus postingan. Yang lain rame-rame meng-unfol akun Instagram V.

Dan benar saja, jumlah follower akun Instagram V berkurang 1 juta dalam waktu singkat.

Banyak artis Indonesia juga pernah mengalami apa yang disebutnya cancel culture ini . Cancel culture adalah bentuk penolakan, boikot terhadap sosok, brand atau perusahaan karena tindakan atau komentarnya dianggap telah menyinggung khalayak.

Beberapa artis yang pernah mengalami cancel culture salah satunya Ayu Ting Ting. Dia dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap salah satu talent saat live di stasiun televisi nasional.

Gofar Hilman juga pernah mengalami hal yang sama. Alasannya dia diduga telah melakukan pelecehan seksual. Karena tekanan netizen, dia mengundurkan dari stasiun radio, tempatnya bekerja.

Tidak hanya menimpa artis atau publik figure, budaya cancel juga bisa menimpa seorang pekerja atau siapapun yang mempunyai ide, faham atau perbuatan yang dianggap menyinggung, tidak pantas dan melanggar nilai-nilai masyarakat.

Efek Cancel Culture

Salah satu contohnya Bu prani, karakter dalam film yang judulnya “Budi Pekerti”. Sebagai seorang guru yang cemerlang, karirnya harus terhenti karena perdebatanya dengan seorang pembeli kue putu di pasar direkam dan diposting. Video itu viral. Bu Prani dianggap telah melakukan hal yang tidak pantas: misuh: asui (anjing). Padahal faktanya dia bilang “ah suwi” (bahasa jawa yang artinya lama banget).

Efek dari budaya cancel terhadap pekerja sangat kejam. Selain dibully orang seindonesia, kemungkinan seorang pekerja akan terisolasi di kantor. Selain itu mayoritas co-workernya akan menjauhinya. Karirnya terhenti. Stigma negatif yang melekat pada dirinya akan berdampak pada image perusahaan, sehingga kemungkinan besar dia bisa dipecat.

Lebih tragis lagi, pekerja yang mengalami cancel culture akan sulit mendapatkan pekerjaan baru. Karena reputasinya dianggap negatif sehingga perusahaan enggan menerima pekerja yang terlibat dalam kontroversi publik.

Kerugian kedua tentu saja soal pemasukan finansial yang hilang. Ini akan berdampak pada seluruh keluarga andai dia satu-satunya pencari nafkah di keluarga.

Selain dampak fisik, orang yang mengalami cancel culture juga akan menanggung beban psikiologis. Namanya yang tiba-tiba viral karena komentar atau perilakunya dianggap negatif bisa memicu stress bahkan depresi.

Apalagi kalau cancel culture diikuti oleh doxing. (doxing adalah tindakan menemukan atau menerbitkan dan menyebarkan informasi pribadi seseorang di internet tanpa izin, terutama nama, alamat, dan hal lain yang bersifat personal dan rahasia.)

Korban cancel culture kemungkinan juga akan teriosolasi dari teman, keluarga, kolega dan Masyarakat. Dia akan kehilangan dukungan dan ditolak di jaringan pertemanannya.

Harus Membangun Reputasi dari Awal

Untuk jangka panjang, korban cancel culture harus membangun reputasi dari awal untuk memulihkan personal brandingnya.

Secara lebih luas cancel culture bisa menciptakan lingkungan yang memicu orang merasa takut mengungkapkan pendapat yang berbeda dari arus utama. Mengingat konsekuensi yang akan diterima sangat menyeramkan.

Padahal kebebasan berpendapat merupakan hak fundamental yang penting untuk membangun masyarakat yang demokratis dan terbuka. Dan itu dijamin UUD 45.

Cancel Cuture menambah deretan daftar sebelumnya yang mengancam kebebasan berpendapat. Selain ancaman kekerasan dan intimidasi oleh kelompok tertentu yang merasa kepentingannya terganggu atau karena hal lain.

Berkembangnya budaya self-censorship, masyarakat terkadang masih enggan untuk mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka karena takut akan konsekuensi negatif.

Korban cancel culture seringnya juga tidak diberi ruang untuk belajar dari kesalahannya, juga tidak diberi kesempatan untuk melakukan diskusi. Budaya cancel cenderung menghukum dan mengucilkan tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Efek budaya cancel lainnya adalah melemahkan kepercayaan warga pada institusi dan norma sosial karena orang-orang mulai mempertanyakan legitimasi otoritas dan proses hukum.

Tips Hindari Jadi Korban

Hal ini dapat menciptakan suasana ketidakpastian dan kekacauan, dan dapat mempersulit penanganan masalah sosial secara konstruktif.

Untuk menghindari agar cancel culture seperti kejadian yang dialami bu Prani, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan berpikir dengan kesadaran penuh sebelum berbicara atau memposting tulisan.

Beberapa orang sering melakukan pekerjaan multitasking, ini membuat konsentrasi terpecah, sehingga kadang apa yang kita sampaikan via tulisan tidak dipertimbangkan masak-masaklebih dulu. Apalagi saat emosi tidak stabil.

Pastikan kita memahami sepenuhnya isu atau topik yang sedang diskusikan. Membuat pernyataan tanpa mengetahui latar belakang atau konteks yang lengkap bisa menyebabkan kesalahpahaman yang merugikan.

Sebagai orang timur yang moralis, kita sebaiknya memakai bahasa yang sopan dan penuh rasa hormat saat berinteraksi dengan orang lain baik online maupun offline.

Hindari kata-kata kasar yang merendahkan, atau ofensif, dan usahakan selalu berkomunikasi dengan cara yang positif. Tapi ga perlu juga bentar-bentar minta maaf padahal belum ngomong atau nulis apa-apa.

Perlu Pengetahuan yang Luas

Selalu update informasi apapun. Ini penting untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas. Pengetahuan yang baik bisa membantu kita membuat pernyataan, postingan yang lebih berwawasan.

Dan tentu saja kita harus selalu berhati-hati saat memposting konten di sosial media. Karena sosial media bisa diakses semua orang. Pastikan konten atau komentar yang kita bagikan sesuai dengan norma masyarakat, tidak menyinggung orang atau komunitas lain.

Dan jika terlanjur membuat kesalahan, segera akui dan minta maaf secara tulus. Menunjukkan tanggung jawab dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan dapat membantu meredakan situasi dan memulihkan reputasi.

Hindari terlibat dalam diskusi yang memanas atau provokatif. Fokuslah pada diskusi yang konstruktif dan edukatif. Tidak membalas provokasi dengan provokasi, tetapi coba pahami sudut pandang lain dan tanggapi dengan bijaksana.

Namun kita harus tetap memiliki nilai dan prinsip yang jelas dan tetap konsisten dalam menerapkannya. Orang akan lebih menghormati jika kita dikenal sebagai seseorang yang memiliki integritas dan memegang teguh prinsip, bahkan ketika menghadapi tekanan.

Cancel culture dapat menjadi ancaman nyata bagi kebebasan berpendapat atau berekspresi. Namun dengan dialog, toleransi, dan saling menghormati kita tetap bisa menyuarakan pendapat dengan bebas dan aman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...