Negara Kepulauan di Ambang Tenggelam Akibat Es Kutub Mencair, Bagaimana Indonesia?

Date:

Negara-negara kepulauan kecil kini menghadapi ancaman nyata, tenggelamnya wilayah mereka akibat kenaikan muka air laut yang dipicu oleh pencairan es di kutub.

Plt. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa krisis iklim semakin mendesak untuk ditangani dengan tindakan nyata.

“Ini bukan lagi sekadar wacana. Negara-negara di kawasan Pasifik, seperti Papua Nugini dan Tonga, bisa kehilangan seluruh wilayahnya karena laut yang terus naik,” tegasnya dalam High Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships di Bali, baru-baru ini.

Pencairan es di kutub, baik di Arktik maupun Antartika, telah mempercepat kenaikan muka air laut secara global. Suhu bumi yang meningkat sebesar 1,45 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri telah memicu pencairan gletser dalam skala besar.

“Rata-rata kenaikan air laut kini mencapai 4,4 mm per tahun, dua kali lipat lebih cepat dibandingkan 20 tahun yang lalu,” ungkap Dwikorita. Peningkatan ini menempatkan wilayah pesisir, terutama negara-negara kepulauan, dalam risiko besar.

Negara Kecil, Risiko Besar

Wilayah pesisir di negara-negara kecil kini berada di garis depan ancaman lingkungan. Dengan lahan yang terbatas dan sumber daya yang rentan, negara-negara kepulauan seperti Kepulauan Solomon, Fiji, dan Maladewa menghadapi risiko tenggelam secara permanen.

BMKG telah menjalin kerja sama sejak 2017 dengan negara-negara tersebut untuk membangun sistem peringatan dini dan mitigasi risiko lingkungan, namun ancaman ini semakin mendesak.

Kesadaran Publik dan Literasi Iklim Masih Lemah

Di sisi lain, Dwikorita menyoroti minimnya literasi iklim di masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang yang menganggap perubahan iklim sebagai isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

“Padahal dampaknya sudah nyata. Jika kita tidak segera meningkatkan literasi dan kesadaran publik, banyak orang akan kehilangan tempat tinggal mereka tanpa tahu penyebabnya,” jelasnya.

Kesenjangan teknologi antara negara-negara maju dan berkembang semakin memperburuk situasi ini.

Waktu Hampir Habis, Butuh Tindakan Nyata Selamatkan Bumi

Dwikorita juga menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk menghadapi krisis iklim ini. Negara-negara di kawasan selatan-selatan harus bersinergi untuk mengatasi kesenjangan teknologi dan informasi.

“Kerja sama antarnegara harus berfokus pada penelitian dan pengembangan teknologi, serta memperkuat sistem peringatan dini agar kita bisa lebih siap menghadapi bencana lingkungan yang akan datang,” tambahnya.

Dia percaya bahwa hanya dengan kerja sama yang erat, dunia bisa mengurangi dampak perubahan iklim.

Tanpa tindakan cepat dan tepat, banyak negara kepulauan akan lenyap dari peta dunia. Waktu yang tersisa bagi dunia untuk merespon ancaman ini semakin sempit, dan aksi global harus segera dilakukan.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...