23 tahun sudah tragedi kelam 11 September 2021 berlalu. Saat itu, pesawat yang dibajak kelompok teroris menabrak menara kembar World Trade Center (WTC), New York, dan Pentagon di Virginia, Amerika Serikat (AS).
Tragedi 9/11 ini tak hanya menyakiti psikis korban dan keluarga, tapi sebanyak lebih dari 45 ribu orang hidup dengan luka fisik akibat serangan mengerikan itu.
Melansir New York Post, Rabu (11/9/2024), sebanyak 45.200 penduduk dan petugas dari FDNY, NYPD dan Otoritas Pelabuhan New York dan New Jersey tercatat menderita sedikitnya satu jenis kanker atau penyakit lain sebagai dampak berkepanjangan dari serangan teroris terbesar dalam sejarah itu.
Jumlah tersebut diketahui 1.408 persen lebih besar dibandingkan jumlah korban tewas akibat tragedi itu sendiri. Runtuhnya Menara Kembar tersebut tercatat menewaskan hampir 3 ribu orang.
Jumlah korban terdampak dengan angka yang mengejutkan ini terdaftar dalam Program Kesehatan WTC dengan penyakit yang terverifikasi. Namun, lantaran proyek ini hanya menghitung sebagian jenis kanker dan penyakit tertentu saja, pemerintah mengklain total korban selamat masih jauh lebih tinggi.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) setempat, korban selamat adalah mereka yang tinggal, bekerja dan bersekolah di Big Apple selama tragedi tersebut berlangsung hingga minggu-minggu berikutnya.
Hingga 31 Maret 2024, terdapat hampir 28.320 korban selamat yang mengalami sedikitnya satu gangguan kesehatan fisik atau mental. Juru Bicara CDC mengatakan, hal itu akibat paparan debu, asap, dan puing-puing saat peristiwa traumatis itu terjadi.
Angka tersebut belum termasuk 1.872 korban yang meninggal dunia dalam pantauan tersebut. Angka fantastis ini tidak membedakan antara penyakit fisik dan mental.
Jumlah tersebut belum mencakup sekitar 400 ribu orang yang tinggal, bekerja dan bersekolah di wilayah zona tragedi yang terpapar kontaminan beracun, menderita risiko cedera fisik, serta kondisi stres fisik dan emosional hingga berbulan-bulan setelah serangan terjadi.
Penulis: Amelie Fabiola


