Hikikomori dan Teknologi yang Mendukung Netizen Mengurung Diri

Date:

Sekarang ini, banyak orang bisa menjalani hidup tanpa harus sering keluar rumah. Teknologi benar-benar telah mengubah cara kita beraktivitas, mulai dari mencari uang, mencari teman kencan, hingga mendapatkan hiburan. Semua itu bisa dilakukan tanpa meninggalkan kenyamanan rumah.

Dulu, bekerja identik dengan pergi ke kantor, bermacet-macetan di jalan, dan tampil formal. Namun sekarang, dengan teknologi, orang bisa menghasilkan uang dari rumah, bahkan tanpa harus memiliki toko fisik atau barang dagangan. Di media sosial, banyak orang berjualan secara live terus menerus tanpa tutup toko.

Banyak orang menjadi lebih nyaman dengan kondisi ini. Walaupun secara fisik mereka terisolasi dari dunia luar, mereka tetap bisa terhubung dengan siapa saja, kapan saja. Hanya lewat layar komputer atau ponsel, kita tidak lagi perlu bertatap muka secara langsung.

Sebut saja seorang teman, namanya Gaga. Sejak masih kuliah, dia sudah bekerja dari rumah secara online. Namun ibunya sering ragu dan terus memintanya mencari “kerja beneran,” karena dia jarang sekali keluar rumah. Hampir semua kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi lewat teknologi.

Fenomena ini semakin meluas, terlebih setelah pandemi yang memaksa kita untuk jaga jarak dan menjalani kehidupan di rumah. Banyak orang mulai merasa bahwa kehidupan yang terisolasi ini adalah sesuatu yang normal dan mungkin, bagi sebagian yang lain malah dijasikan gaya hidup baru.

Hikikomori: Lebih dari Sekadar Isolasi

Di Jepang, orang yang mengurung diri dari dunia luar disebut hikikomori. Fenomena ini awalnya lebih dikenal sebagai masalah psikologis dan sosial di Jepang. Hikikomori mengacu pada individu yang secara sengaja menarik diri dari interaksi sosial dan menghabiskan waktu lama di dalam rumah.

Meskipun teknologi membuat kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja di seluruh dunia, ironisnya, teknologi juga berperan dalam meningkatkan isolasi sosial, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang mulai merasa lebih nyaman berinteraksi secara digital daripada bertemu langsung.

Istilah hikikomori pertama kali diperkenalkan pada tahun 1998 oleh psikiater Jepang, Profesor Tamaki Saito. Diperkirakan saat ini ada sekitar 1,2 juta orang di Jepang yang hidup dalam kondisi ini.

Mereka yang mengalami hikikomori sering menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, tanpa keluar rumah. Mereka berhenti sekolah, meninggalkan pekerjaan, dan mengisi waktu dengan bermain video game, menonton anime, atau berselancar di internet.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan budaya otaku di Jepang, di mana individu yang sangat menyukai anime, manga, dan video game merasa lebih nyaman berinteraksi dalam komunitas digital daripada dengan dunia nyata. Di dunia otaku, mereka merasa diterima, meskipun ini sering kali membuat mereka semakin terisolasi dari masyarakat luas.

Nyaman Berinteraksi Tanpa Tatap Muka

Banyak hikikomori lebih nyaman berkomunikasi dengan karakter fiksi atau avatar digital daripada berbicara langsung dengan orang lain. Teknologi digital, terutama platform streaming, game online, dan forum diskusi, memungkinkan mereka untuk terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat serupa tanpa harus meninggalkan rumah. Sayangnya, hal ini justru memperkuat isolasi mereka dari kehidupan offline.

Selain itu, trauma masa lalu juga sering menjadi penyebab hikikomori. Beberapa orang mungkin pernah mengalami perundungan di sekolah, merasa diabaikan, atau bahkan memiliki ketakutan terhadap situasi sosial tertentu seperti antre di toko atau makan di restoran. Mereka takut diamati, dinilai, atau dipermalukan di depan umum.

Banyak orang juga merasa malu atau tertekan karena tidak berprestasi di sekolah atau di tempat kerja. Budaya malu ini masih sangat kuat di Jepang, dan hikikomori menjadi salah satu cara mereka untuk melarikan diri dari tekanan tersebut.

Dampak Hikikomori

Hikikomori sering kali dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pasca-trauma. Semakin lama seseorang mengisolasi diri, semakin besar kemungkinan mereka mengalami kesulitan kesehatan mental.

Secara fisik, isolasi sosial juga dapat berdampak buruk. Kurangnya aktivitas fisik, kurang paparan sinar matahari, serta pola tidur yang tidak teratur sering menyebabkan masalah seperti obesitas dan kekurangan vitamin D.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menjadi hikikomori, tapi juga oleh keluarga mereka. Orang tua atau anggota keluarga lain sering kali merasa kebingungan atau stres karena tidak tahu bagaimana cara membantu orang yang terisolasi. Hal ini kerap menciptakan ketegangan dalam hubungan keluarga.

Penyakit Sosial atau Gaya Hidup?

Para ahli berpendapat bahwa hikikomori merupakan masalah sosial yang serius. Mereka beranggapan bahwa fenomena ini mencerminkan tekanan sosial yang berat, harapan yang tidak realistis, dan kurangnya dukungan bagi individu yang mengalami kesulitan. Di Jepang, pemerintah bahkan telah mulai mengakui hikikomori sebagai masalah sosial yang harus ditangani.

Namun, ada juga pandangan lain yang menganggap hikikomori sebagai gaya hidup pilihan. Beberapa orang merasa lebih nyaman dan bahagia dengan hidup yang terisolasi. Mereka menemukan kebebasan dalam menjalani hidup tanpa tekanan sosial dan ekspektasi dari orang lain.

Salah satu contoh nyata adalah Dakura Maki, seorang pria yang telah hidup sebagai hikikomori selama 16 tahun di Tokyo, tinggal bersama orangtuanya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang; di banyak negara lain, perkembangan teknologi digital yang pesat memungkinkan orang untuk menjalani kehidupan yang serupa.

Menurut Japan Foreign Policy Forum (2019), jumlah orang yang hidup sebagai hikikomori diperkirakan akan terus meningkat. Era digital menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas yang besar, tetapi juga membawa risiko baru dalam bentuk isolasi sosial.

Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu terasa lebih mudah dengan teknologi. Namun, kemudahan ini juga bisa membuat kita lupa untuk terhubung dengan dunia nyata dan merawat kesehatan mental kita. Teknologi memang membantu, tapi kita tetap harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam isolasi yang justru merugikan diri sendiri.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...