Dunia ternyata tidak seperti yang kita duga. Orang-orang yang berada di sekitar kita, diam-diam berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Data dari Kementerian Kesehatan (2023) menyatakan, ternyata 1 dari 10 orang di Indonesia mengidap gangguan mental.
Hari ini, isu kesehatan mental ini makin mendapat perhatian warga. Terutama kesehatan mental Generasi Z ( Gen Z). Mereka sekarang berusia sekitar 22 tahun sampai dengan 27 tahun. Mereka merupakan generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di tengah revolusi digital.
Mengingat pentingnya masalah kesehatan mental ini, WHO menyatakan tiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai hari Kesehatan Mental Sedunia. Dan tahun ini mengambil tema “Kesehatan Mental di Tempat Kerja”.
Dari laman Kemenkes menyampaikan hal yang mengejutkan, gangguan kesehatan mental yang dialami Gen Z meningkat hingga 200% dibanding tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya karena tingkat stressor yang tinggi. Salah satunya adalah stress karena pekerjaan.
Generasi Z lahir di tengah kemajuan teknologi informasi yang memudahkan semua pekerjaannya. Ketika semua sudah terhubung, mereka bisa bekerja tak mengenal tempat dan waktu. Tak perlu bermacet-macet pergi ke kantor hanya untuk bekerja.
Namun, di balik semua kemudahan itu menyimpan sisi yang muram. Mereka mendapatkan tekanan pekerjaan dengan target-target yang tinggi. Mereka memang bisa bekerja dari mana saja, namun hal itu justru menghilangkan batas antara kehidupan pribadi dan profesional. Susah dibedakan, sedang liburan sambil kerja atau kerja sambil liburan.
Menguras Fisik dan Mental
Di era yang sangat kompetitif Gen Z dituntut harus mampu berpestasi, mengalahkan ribuan bahkan jutaan pekerja lain. Pencapaian-pencapaian yang telah diraih ini bisa dipakai untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Mereka memamerkan prestasinya di platform seperti linked.in atau akun sosial media. Usaha keras untuk mencapai ke level itu tentu menguras fisik dan mental.
Meski hari ini Gen Z telah terhubung dengan semua orang, tetapi sebagian dari mereka merasa tak pernah benar-benar bersama siapa pun. Hidup dalam dunia yang selalu ‘online’, menjadikan ruang untuk istirahat menjadi langka.
Pesan-pesan yang terus berdatangan tanpa henti, notifikasi yang terus berbunyi, semua itu mengharuskan mereka untuk tetap siaga 24 jam, dan sebisa mungkin harus merespons pesan-pesan itu secepatnya. Dan ini berlangsung setiap hari. Sehingga tanpa sadar mereka kehilangan satu hal paling mendasar: kedamaian.
Kondisi ini diperparah dengan persepsi para pekerja kebanyakan yang menganggap semakin sibuk, semakin lama waktu kerja dianggap makin keren dan membanggakan.
Bagi para pekerja digital, mereka akan sulit beristirahat karena aplikasi percakapan terus memberikan notifikasi. Sehingga antara kehidupan professional dan kehidupan pribadinya tak seimbang.
Sayangnya banyak perusahaan tempat kerja Gen Z belum memberikan dukungan yang cukup terkait isu kesehatan mental karyawannya. Sehingga mereka harus berjuang sendirian menghadapi tekanan kerja yang dialaminya. Bagaimana dengan di tempat kerjamu?
Politik Kantor
Selain soal pekerjaan, tekanan yang tak kalah dahsyat adalah soal politik kantor. Kalau tidak kuat, mental bisa terganggu. Dan tekanan lain yang harus dihadapi Gen Z adalah soal ketidakpastian masa depan.
Ketidakpastian ini menciptakan beban mental bertambah. Dalam situasi seperti ini, mereka mulai kehilangan pijakan, merasa galau dan tidak tenang.
Banyak dari mereka lalu mencari jawaban. Namun, alih-alih menemukan kedamaian, yang mereka temukan adalah kebingungan yang lebih dalam. Mereka mencari makna di tengah kebisingan digital, tapi yang mereka temukan hanyalah gema dari pertanyaan yang tak terjawab.
Jalan menuju kedamaian bagi Gen Z bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak yang menawarkan jalan untuk mendapatkan kedamaian melalui kata-kata bijak tokoh, para motivator atau buku-buku self-help yang semakin populer.
Namun hasilnya tetap merasa kosong. Kedamaian tampak seperti mitos yang sulit dijangkau, sesuatu yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang beruntung.
Survei dari Mental Health Foundation pada tahun 2023 menunjukkan, lebih dari 62% dari generasi Z merasa tidak punya hidup, dan hampir setengahnya merasa terisolasi secara emosional, meskipun terhubung dengan banyak orang.
Krisis Kesehatan Mental
Krisis kesehatan mental yang mereka alami bukan sekadar fenomena sementara. Ini merupakan gambaran sisi kelam dunia digital yang dari luar tampak glamour namun faktanya tak seindah yang dibayangkan orang.
Apakah ada cara lain yang lebih efektif dan efisien untuk mengatasi kesehatan mental? Sebenarnya gampang, tinggal jauhkan gawai dari jangkauan. Lakukan detoks sosial media. Dan memperbanyak interaksi secara fisik dengan orang-orang yang berada di sekitar kita.
Atau bisa mencoba cara yang berbeda. Misalnya mempraktekkan Zen yang menekankan praktik meditasi dan pengalaman langsung sebagai jalan untuk mencapai pencerahan.
Di era modern, Zen tidak hanya dilihat sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai cara yang efektif untuk mendukung kesehatan mental. Dalam dunia yang dipenuhi dengan tekanan dan stres, pendekatan Zen menawarkan cara untuk menciptakan keseimbangan, ketenangan, dan ketenangan batin.
Zen berasal dari kata dhyana dalam bahasa Sanskerta, yang berarti meditasi. Dalam Zen, meditasi adalah pusat dari praktik spiritual dan kesehatan mental. Zen tidak menganjurkan pemikiran berlebihan atau analisis yang rumit, melainkan mengajarkan untuk fokus pada pengalaman saat ini, melepaskan segala pikiran yang mengganggu, dan menghadapi dunia dengan pikiran yang jernih.
Dalam konteks kesehatan mental, Zen mengajarkan bagaimana menghadapi stres, kecemasan, dan depresi dengan cara yang lebih sehat dan holistik.
Penyebab Gangguan Kesehatan Mental
Salah satu penyebab utama gangguan kesehatan mental adalah stress. Meditasi Zen memungkinkan individu untuk fokus pada saat ini, yang secara langsung dapat mengurangi stres.
Sebuah studi yang dipublikasikan jurnal Health Psychology Review tahun 2020 menemukan bahwa meditasi mindfulness, yang dipengaruhi oleh Zen, efektif mengurangi gejala stres dan meningkatkan kesejahteraan mental. Studi ini menyimpulkan bahwa meditasi membantu mengatur emosi dan mengurangi reaktivitas terhadap situasi stres.
Zen juga mengajarkan tentang zazen atau meditasi duduk, di mana individu duduk diam dalam posisi tertentu dan memusatkan perhatian pada pernapasan. Praktik ini memperbaiki konsentrasi dan membantu menyingkirkan gangguan mental yang menyebabkan kecemasan.
Dalam Zen, individu diajarkan untuk menerima keadaan yang ada tanpa perlawanan. Menurut Thich Nhat Hanh, seorang tokoh Zen Buddhis, “Kebahagiaan sejati ditemukan saat kita mampu menerima dan hidup di masa kini. Kecemasan adalah hasil dari keterikatan kita pada masa depan atau masa lalu.”
Pendapat itu diduung oleh sebuah studi yang dilakukan oleh University of California pada tahun 2018 bahwa meditasi Zen mampu menurunkan tingkat kecemasan hingga 30% setelah delapan minggu latihan rutin.
Meningkatkan Kesadaran Diri
Meditasi Zen juga mampu meningkatkan kesadaran diri dan membantu individu mengenali pola pikir negatif yang sering kali tidak disadari. Dengan mengenali pola-pola ini, seseorang dapat mencegah pikiran dan perilaku negatif.
Kesadaran diri ini penting untuk mengatasi gangguan seperti depresi, di mana pikiran negatif berulang sering kali menjadi sumber dari rasa putus asa.
Seperti yang dikatakan Dr. Kristin Neff, seorang peneliti dalam bidang psikologi klinis, “Meditasi Zen membuka jalan untuk pengertian diri yang lebih dalam. Ini memungkinkan individu untuk bersikap lebih welas asih terhadap diri sendiri, yang pada gilirannya meningkatkan kesehatan mental secara signifikan.”
Selain itu Zen juga mengajarkan konsep penerimaan diri. Alih-alih berfokus pada perubahan atau perbaikan diri secara konstan, Zen mengajak kita untuk menerima diri apa adanya.
Praktik ini terbukti sangat membantu bagi individu yang mengalami depresi atau masalah harga diri rendah. Dengan menerima diri sendiri tanpa syarat, beban mental berkurang dan seseorang dapat mengalami kedamaian batin yang lebih besar.
Zen bukan hanya dipraktikkan oleh biksu atau tokoh spiritual, tetapi juga mendapatkan dukungan dari banyak ahli kesehatan mental. Dengan mempratekkan Zen, kita akan melakukan perjalanan panjang untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan seperti yang dikatakan Thich Nhat Hanh.
“Kedamaian batin adalah kunci dari kebahagiaan sejati. Zen memberikan kita alat untuk menemukan kedamaian itu dalam diri kita, di tengah hiruk-pikuk dunia luar.”


