Pada 17 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Entah kebetulan, 17 Oktober juga menjadi hari ulang tahun Presiden terpilih, Prabowo Subianto yang mengaku begitu benci dengan kemiskinan.
Memang, ketika Prabowo Subianto terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah memberantas kemiskinan ekstrem di Indonesia. Prabowo bertekad untuk menekan angka kemiskinan ekstrem hingga 0% dalam dua tahun pertama pemerintahan mereka.
Namun, langkah ambisius ini tentunya tidak akan mudah mengingat kompleksitas permasalahan kemiskinan yang masih melanda banyak wilayah di Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan terungkap, sebagai bagian dari strategi untuk mencapai target ambisius ini, Prabowo berjanji akan melanjutkan berbagai program yang sudah terbukti berhasil menekan angka kemiskinan di era Presiden Joko Widodo.

Program-program seperti bantuan sosial (bansos), aneka kredit usaha, dan Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) akan terus didorong sebagai alat utama untuk mengentaskan kemiskinan.
Mekaar, yang merupakan program pembiayaan ultramikro yang digerakkan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), telah memberikan hasil yang signifikan sejak diluncurkan pada tahun 2016.
Prabowo mengakui bahwa kebijakan Presiden Jokowi yang menargetkan kemiskinan melalui aneka bantuan langsung tunai dan kredit usaha kecil berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga satu digit, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia.
Bahkan, Jokowi berhasil menekan kemiskinan ekstrem dari 6,1% menjadi hanya 0,8% pada tahun 2024. Dengan pencapaian tersebut, Prabowo berjanji untuk melanjutkan dan memperkuat kebijakan ini.
Gandeng Budiman Sudjatmiko
Prabowo juga menggandeng tokoh yang dinilainya mampu merancang dan mengimplementasikan program pengentasan kemiskinan. Salah satunya adalah, Budiman Sudjatmiko yang didapuk bakal memimpin lembaga atau badan yang bertugas mengurusi pengentasan kemiskinan.
Budiman Sudjatmiko, membeberkan langkah baru setelah pertemuannya dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Dengan semangat yang terlihat jelas, Budiman mengungkapkan bahwa ia diberi kepercayaan untuk menangani masalah kemiskinan di Indonesia secara langsung. Dalam pernyataannya, Budiman menyebutkan bahwa Prabowo menginginkan kehadirannya untuk berkontribusi dalam upaya pemberantasan kemiskinan yang melanda masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Budiman dipastikan akan memimpin lembaga setingkat menteri yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan percepatan akselerasi pembangunan. Ia mengaku sangat benci melihat kondisi kemiskinan yang masih menggerogoti bangsa ini, dan bertekad untuk berbuat lebih.
Melalui penandatanganan pakta integritas di hadapan Prabowo, Budiman menunjukkan komitmennya untuk berjuang melawan kemiskinan.
“Kita harus berkolaborasi, karena ini memalukan bagi bangsa G20 jika masih banyak yang tertinggal,” tegas Budiman, Selasa (15/10/2024), setelah pertemuan dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto di Kompleks Kertanegara, Jakarta Selatan.
Program Andalan Warisan Jokowi
Dari data yang dihimpun, Program Mekaar, salah satu andalan dari PT PNM, menjadi sorotan utama dalam upaya Prabowo untuk menekan angka kemiskinan. Dengan sistem pembiayaan yang menggandeng usaha-usaha mikro, Mekaar telah membantu jutaan warga Indonesia meningkatkan taraf hidup mereka. Hingga tahun 2024, program ini telah mencatat lebih dari 15,2 juta nasabah dengan total pembiayaan mencapai Rp244 triliun.
Namun, meskipun program ini terbukti sukses, tantangan terbesar yang dihadapi ke depan adalah bagaimana Mekaar bisa beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar yang semakin dinamis.
Dalam hal ini, Deputi Bidang Usaha Mikro, Yulius, menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas usaha mikro dan memperluas akses permodalan di daerah-daerah terpencil. Dengan begitu, Program Mekaar diharapkan mampu memberikan efek ganda berupa penciptaan lapangan kerja baru, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Tekad Mengakhiri Kemiskinan Ekstrem
Prabowo dengan tegas menargetkan bahwa dalam dua tahun pertama masa pemerintahannya, kemiskinan ekstrem harus bisa ditekan hingga 0%.
Ambisi ini termuat dalam bukunya “Gagasan Strategis Prabowo Subianto: Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”, yang menjabarkan delapan misi besar dan 17 program prioritas yang ia rencanakan untuk diterapkan. Di antaranya adalah percepatan pembangunan ekonomi di daerah miskin, penguatan program sosial, serta penyediaan akses permodalan yang lebih mudah bagi usaha-usaha kecil.

Dalam buku tersebut, Prabowo menegaskan bahwa kemiskinan relatif juga harus turun hingga di bawah 5% pada tahun 2029. Ini berarti, program-program seperti Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Sembako, dan Kartu Prakerja akan tetap dilanjutkan dan diperkuat di bawah kepemimpinannya.
Tidak hanya melalui program bantuan sosial, Prabowo juga merancang kebijakan yang menargetkan penguatan sektor-sektor produktif seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, serta UMKM.
Ia akan menyediakan aneka kredit usaha yang difokuskan pada sektor-sektor tersebut untuk memperkuat ekonomi masyarakat bawah, terutama di daerah pesisir dan pedesaan.
Dengan berbagai skema kredit usaha yang dirancang secara khusus, Prabowo berharap dapat menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Termasuk di dalamnya adalah kredit usaha milenial dan start-up, yang diharapkan bisa menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Indonesia.
Langkah Menuju Indonesia Emas 2045
Langkah Prabowo dalam menekan angka kemiskinan merupakan bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia diharapkan menjadi negara maju dan makmur.
Target ambisius ini tentunya membutuhkan kerja keras dan kebijakan yang tepat sasaran. Penurunan angka kemiskinan ekstrem hingga 0% bukanlah hal yang mudah, terutama mengingat tantangan global seperti inflasi, perubahan iklim, dan fluktuasi harga pangan.
Namun, dengan melanjutkan program-program yang sudah terbukti sukses dan terus berinovasi dalam kebijakan ekonomi, pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mampu mencapai target tersebut.
Jika berhasil, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara dengan tingkat kemiskinan yang sangat rendah, tetapi juga memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang sangat tinggi, di atas 80.
Seiring dengan pelantikan Prabowo pada 20 Oktober 2024, harapan besar disematkan pada kepemimpinannya untuk membawa Indonesia menuju era kemakmuran yang merata dan berkeadilan.
Pemberantasan kemiskinan bukan hanya janji politik, tetapi juga tugas besar yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Kita tunggu langkah Prabowo, dengan orang-orang terpilih di kabinetnya, untuk menuju ambisi dan janji-janjinya.
Penulis: Purba Handayaningrat


