Jejak Riwayat Kentongan dari Masa ke Masa, Alarm Tanda Bahaya di Zaman Majapahit hingga Jadi Cinderamata

Date:

Pernah mendengar tentang kentongan? Kentongan merupakan alat komunikasi tradisional yang hingga kini masih digunakan di berbagai daerah di Indonesia.

Terbuat dari batang bambu atau kayu yang dipahat dengan lubang di tengahnya, kentongan berfungsi sebagai tanda alarm, sinyal komunikasi jarak jauh, kode Morse, penanda adzan, dan tanda bahaya.

Menurut buku Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi karya Hery Nuryanto, kentongan adalah alat komunikasi yang menyampaikan informasi suara dengan menggunakan sandi atau kode tertentu yang telah disepakati.

Kentongan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tongkat pemukul dari kayu atau bambu, menghasilkan suara nyaring yang dapat terdengar dari jarak jauh.

Kentongan biasanya digantung di tempat umum, seperti pos kamling, balai desa, dan pos keamanan, untuk digunakan oleh masyarakat saat berkumpul. Setiap daerah memiliki tradisi komunikasi yang khas, mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia. Misalnya, tradisi ngarak beduk di Jakarta, serta tradisi bagarakan sahur di Banjar, Kalimantan Selatan.

Dicatat oleh Laksamana Cheng Ho

Menurut buku Seni Budaya Kelas VIII yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejarah kentongan berakar dari legenda Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah Muslim asal China yang melakukan perjalanan dengan misi keagamaan.

Dalam penjelajahannya, Cheng Ho menemukan kentongan sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam ritual keagamaan.

Penemuan ini kemudian menyebar ke negara-negara lain, seperti China, Korea, dan Jepang. Kentongan berfungsi sebagai sistem peringatan awal yang efektif, memanfaatkan suaranya yang nyaring untuk memberikan sinyal kepada masyarakat dalam situasi darurat.

Alat tradisional ini bisa menjadi alarm tentang bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, atau kebakaran. Dengan kemampuannya menyampaikan pesan dengan cepat dan jelas, kentongan menjadi alat komunikasi yang sangat berharga, terutama di daerah pedesaan yang akses terhadap teknologi modernnya terbatas, kala itu.

Variasi Penggunaan Kentongan di Berbagai Daerah

Sejarah kentongan memiliki variasi di setiap daerah. Di Bali dan Nusa Tenggara, kentongan digunakan oleh Raja Anak Agung Gede Ngurah dari Kerajaan Karangasem untuk mengumpulkan massa.

Di Yogyakarta, pada masa Kerajaan Majapahit, kentongan yang dikenal sebagai Kyai Gorobangsa digunakan untuk mengumpulkan warga. Menariknya, di Pengasih, kentongan dijadikan alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan kentongan semakin bervariasi. Saat ini, kentongan juga dikenal sebagai alat musik tradisional yang sering dipakai di tempat umum untuk mengumumkan peristiwa-peristiwa terbaru kepada masyarakat.

Bentuk dan Cara Kerja Kentongan

Kentongan berbentuk tabung dengan lubang di tengahnya. Saat dipukul, suara akan keluar dari lubang tersebut. Tongkat pemukul terbuat dari kayu, digunakan untuk menghasilkan bunyi yang lebih keras, sehingga suara dapat didengar jauh. Kentongan dibunyikan dengan irama yang berbeda, masing-masing memiliki makna tertentu sesuai pesan yang ingin disampaikan.

Berikut adalah makna dari bunyi kentongan yang sering kita dengar, layaknya sandi Morse:
• Kentongan dipukul 1-1-1 (titir): Menandakan adanya berita lelayu.
• Kentongan dipukul 2-2-2: Menandakan adanya pencuri atau untuk menangkap pencuri.
• Kentongan dipukul 3-3-3: Menandakan adanya kebakaran atau bencana alam.
• Kentongan dipukul 4-4-4: Menandakan adanya banjir atau bencana alam.
• Kentongan dipukul 5-5-5: Menandakan adanya maling barang atau ternak.
• Kentongan dipukul 6-6-6: Menandakan situasi aman terkendali.

Meskipun tergerus oleh kemajuan zaman, eksistensi kentongan masih dapat dirasakan. Di berbagai tempat, kita masih mendengar bunyi kentongan yang dipukul sebagai sarana informasi kepada masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi komunikasi modern telah berkembang, tradisi dan alat komunikasi lokal seperti kentongan tetap memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kentongan sebagai Cinderamata

Kini, kentongan telah mengalami transformasi dan dibuat lebih variatif, tidak hanya sebagai alat komunikasi tradisional, tetapi juga sebagai barang kerajinan menarik.

Banyak perajin di berbagai daerah di Indonesia mulai memproduksi kentongan dalam berbagai bentuk dan ukuran, menjadikannya sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan.

Misalnya, di Bali, kentongan dihias dengan motif khas daerah yang menggambarkan budaya lokal. Sementara di Yogyakarta, kentongan dibuat dengan sentuhan seni yang menarik.

Keterampilan ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat, memungkinkan para pengunjung membawa pulang kenangan unik dari perjalanan mereka.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...