“Uang adalah hamba yang baik dan tuan yang buruk”~ Francis Bacon.
Bagi banyak orang uang adalah segalanya. Tak heran jika mereka terus berburu uang dari pagi sampai pagi. Kerja terus menerus nyaris tak kenal waktu. Bahkan demi uang ada yang terpaksa ataurela melakukan apa saja. Abai aturan, hukum dan etika.
Namun hanya sedikit orang yang bisa memanaj keuangannya dengan baik. Alhasil meskipun seorang karyawan penghasilannya besar, tiap akhir bulan saldonya kembali ke nol. Itu masih beruntung. Banyak yang lebih parah, gajinya tak bisa menutup kebutuhannya selama sebulan. Bukan karena kecil, namun karena tak piawai mengatur keuangan seperti yang diajarkan para konsultan perencana keuangan.
Akibatnya mereka perlu tambahan uang cash untuk menutupi kebutuhanya. Orang-orang kreatif akan mencari sampingan dengan mengubah hobinya jadi kegiatan yang menghasilkan uang. Sementara yang lain harus mencari pinjaman ke teman atau yang lebih mudah ke aplikasi pinjaman online (pinjol) atau fintech lending.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan jumlah pengguna pinjol aktif pada Maret 2024 mencapai ke 9,78 juta akun penerima pinjaman. Jumlah peminjam tersebut naik 6,36% secara bulanan (mom). Dan mayoritas pengguna pinjol ada di pulau Jawa, sekitar 75%.
Fantastis kan? Siapa mereka? Apakah kamu salah satu dari mereka? Semoga bukan!
Kenapa banyak orang memilih berhutang melalui aplikasi online, bukan ke bank-bank konvensional atau ke teman, sahabat, keluarga? Ada banyak alasan. Salah satunya adalah adanya banyak kemudahan yang ditawarkan pinjol. Mulai dari proses yang super cepat. Tinggal download dan instal aplikasi, mendaftar dan mengajukan jumlah pinjaman. Sesederhana itu, tak sampai lima menit.
Kedua, dengan teknologi hari ini, tiap orang punya akses 24 jam untuk mengajukan pinjaman, kapan saja tak perlu mengikuti jam operasional bank konvensional yang hanya buka 8 jam sehari.
Sudah begitu persyaratan yang diminta pun sangat minimal. Biasanya hanya nomor identitas KTP, nomor telepon, slip gaji dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Tak perlu agunan atau jaminan apa-apa.
Dan yang lebih menarik adalah pencairan dana yang super cepat, tanpa disurvei, uang langsung ditransfer ke rekeining kita. Pilihan jangka waktu pembayaran cicilan pun cukup banyak pilihan waktu. Mudah banget, sambil rebahan dapat uang dengan cepat. Siapa yang tak tergoda?
Sekilas memang menggiurkan. Namun dibalik itu bahaya mengancam apalagi buat orang kebanyakan yang belum paham literasi keuangan. Mereka bisa dengan mudah terjerumus akibat iklan-iklan pinjol yang terus membombardir via ponsel pintar kita.
Diam-diam pinjol menyimpan konsekuensi buruk. Selain bunganya lebih tinggi dari rata-rata bank konvensional, pinjol menerapkan biaya administrasi dan biaya keterlambatan yang makin menambah total utang.
Pembayaran cicilan harus tepat waktu. Kalau sampai telat, siapkan mental, ada debt collector yang memakai cara-cara tidak etis dalam melakukan tugasnya. Mulai dari mengintimidasi, mengancam dan bahkan melecehkan. Yakni menyebarkan informasi bahwa yang bersangkutan telah melarikan asset Perusahaan (pinjol) ke seluruh nomor yang ada di addres book hape peminjam.
Kemungkinan yang lebih mengerikan adalah pencurian data data pribadi, terutama pinjol-pinjol yang tidak amanah. Data pribadi bisa disalahgunakan atau bahkan dijual ke perusahaan lain. Kita sering ditelepon “spam” dari nomor yang tidak kita kenal? Ini indikasi bahwa nomor ponsel kita telah menyebar kemana-mana. Entah siapa yang menyebarkannya.
Untuk jangka Panjang pinjol bisa mengganggu kondisi keuangan karena bunga yang tinggi sehingga uang yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi atau tabungan malah habis untuk membayar utang dan bunganya.
Penagihan pinjol kadang melibatkan keluarga, teman atau kolega. Debt collector biasanya menghubungi orang-orang terdekat peminjam dan ini bisa menimbulkan konflik dan ketidaknyamanan hubungan perkawanan.
Bahaya laten lainnya, karena beban utang ke pinjol yang menumpuk dan sikap debt collector yang menteror bisa memicu stress dan depresi. Bahkan beberapa orang berani nekat melakukan bunuh diri.
Seperti yang terjadi di Ciputat, Tangerang Selatan. Seorang pria berinisial S (44) ditemukan tewas gantung diri di saung depan rumah pada Minggu (7/7/2024). Kapolsek setempat menyatkan alasan korban melakukan bunuh diri karena terlilit utang di pinjol.
Korban bunuh diri akibat pinjol juga terjadi di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, Jawa Timur. Seorang pemuda usia 23 tahun nekat melakukan bunuh diri karena terjerat utang pinjol pada Desember 2023.
Sebuah sumber menyebutkan, jumlah korban bunuh diri akibat pinjol telah mencapai 25 orang ( 2019 hingga 16 Desember 2023) . Angka ini sangat mencemaskan.
Mengingat bahaya pinjol, sebaiknya ekstra hati-hati sebelum memutuskan untuk berhutang. Agar terhindar dari masalah hutang pinjol, ada beberapa tips yang perlu diprakktekan.
Sebisa mungkin membuat anggaran bulanan atau tahunan. Dengan disiplin ketat pengeluaran bisa dikontrol lebih baik. Tak perlu mengambil pinjaman karena pemasukan dan pengeluaran terlihat jelas.
Siapkan juga dana darurat, minimal untuk pengeluaran sampai 6 bulan ke depan. Ini penting untuk menghadapi situasi yang tak terduga. Misalnya tiba-tiba di-PHK, kecelakaan, bencana alam, atau hal lain yang membuat pikiran pusing.
Yang lebih mendasar lagi, hindari gaya hidup konsumtif. Utamakan kebutuhan mendasar atau yang pokok saja. (Nongkrong di kafe menurutmu kebutuhan pokok bukan?)
Sebaiknya menghemat pengeluaran yang tidak penting-penting amat. Dan batasi keinginan-keinginan yang sifatnya fana. Seperti healing-healing demi bisa flexing di media sosial.
Bayar tagihan juga harus tepat waktu untuk menghindari denda dan bunga tambahan. Ini juga bisa mengurangi pengeluaran sehingga keuangan tetap stabil.
Jika masih menungkinkan, cari sumber pendapatan baru atau cari pekerjaan sampingan. Kalau jeli banyak banget peluang di internet yang bisa dilakukan. Cari pekejerjaan apa saja yang kita mampu dan mau lakukan. Tergantung kreativitas kita saja.
Misalnya jadi reseller di lapak-lapak online atau memberikan layanan jasa tertentu yang belum pernah ada sesuai dengan skill, ketrampilan atau hobi. Optimis, kalau kita gigih, pantang menyera, pintu-pintu keberhasilan akan terbuka.
Manfaatkan juga diskon atau promosi. Ada beberapa merchant yang punya program diskon secara berkala. Pantau dan ikuti timeline-nya untuk mendapatkan info promo terbarunya. Lumayan loh diskon 20 sampai 30 persen bisa menghemat uang belanja.
Kasus pinjol marak. Salah satu sebabnya karena kurangnya pemahanan soal literasi keuangan. Banyak warganet yang belum mengetahui konsep dasar keuangan seperti suku bunga, denda keterlambatan dan lainnya. Hal ini menyebabkan warganet rentan terhadap pinjol yang dianggap solusi.
Karena itu edukasi soal literasi financial penting dilakukan merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terutama ke wilayah-wilayah terdepan, terluar dan terbelakang.
Bentuknya bisa melalui kampus, sekolah, komunitas, organisasi, lembaga-lembaga dan lainnya sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan tepa untuk masa depan yang lebih baik, terhindar dari pinjol, penipuan dan hal-hal yang merugikan.


