Sejak dulu kala, Ketika masih berada di ruang kelas bu guru selalu bersemangat menceritakan betapa “wow”-nya Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau, salah satu negara yang punya garis pantai terpanjang di dunia, juga banyaknya kekayaan alam yang terkandung di bumi dalamnya.

Aku masih ingat betul ( karena memang waktu itu belajar itu identic dengan menghafal) pak guru menyebut wilayah mana saja yang menyimpan hasil tambang. Batubara di Sumatera Selatan, minyak bumi di Cepu, Jawa Tengah, gas alam di Aceh, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Maluku, Emas di Papua dan seterusnya dan seterusnya.
Selain kaya raya, pak guru menambahkan, Indonesia, negeri kita sangat indah. Keindahan alam itu nyaris ada di setiap tempat di seluruh propinsi dan kabupaten. Bahkan keindahan itu sangat eksklusif, hanya ada di Indonesia: Komodo, Raja Ampat, api biru di kawah ijen, Banyuwangi dan lainnya.
Mendengar penjelasan guru-guru itu, dada rasanya membusung. Beruntung sekali kita (kita??) lahir di bumi nusantara yang kaya raya hasil tambang dan tempatnya yang indah permai. Sehingga setiap upacara bendera hari Senin, menyanyikan lagu Indonesia raya dengan tangan menghormat itu suatu hal yang menggetarkan. Diam-diam mata terasa panas, ada air mata yang tertahan di sana.
Karena begitu cintanya dengan Indonesia, aku bercita-cita jadi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bisa membantu, melayani dan mengedukasi rakyat. Ada seorang ASN tetanggaku yang tanpa sadar menjadi role modelkku karena baik dan tampak paling pintar.
Namun rasa cinta dan banga itu pelan-pelan berubah ketika ada salah satu teman sekolah yang terpaksa tidak bisa ikut tes semester, karena belum membayar uang sekolah. Sebagai anak yang masih lugu, aku mulai bertanya-tanya. Kenapa Indonesia, negeri elok yang kaya raya ini masyarakatnya miskin? Bahkan untuk membayar uang sekolah saja ada yang tidak mampu? Kenapa pendidikan untuk anak bangsa sendiri tidak gratis saja?
Pasti ada yang salah nih!
30 tahun kemudian, ternyata masalah anak sekolah yang tak punya biaya tetap saja ada. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin di indonesia pada periode Maret 2024 sebesar 9,03 persen atau 25,22 juta orang.
Miskin itu artinya mereka membelanjakan uangnya rata-rata per bulan hanya Rp 582.932. Berarti tiap hari mereka harus bisa bertahan hidup dengan uang sedikit Rp 19,4 ribu rupiah saja.
Coba bayangkan, dengan uang Rp 19 ribuan kamu bisa membeli apa?
Tak hanya soal kemiskinan, soal kabar buruk para pejabat, pemangku kepentingan, pengambil keputusan pun tiap hari bertebaran di media (sosial), terutama soal korupsi.
Mulai dari kasus korupsi Tata Niaga Komoditas Timah yang berpotensi merugikan negara Rp 271 Triliun, pengelolaan dana pensiun di PT Asabri , potensi Kerugian Negara: Rp 22,78 triliun, kasus korupsi PT Jiwasraya yang merugikan negara sekitar Rp 16,8 triliun, proyek penyediaan menara BTS, Rp 8,03 triliun, Harun Masiku sampai hari ini entah dimana rimbanya dan kasus-kasus korupsi lainnya yang tak terendus media.
Data Corruption Perceptions Index (CPI) 2023 menunjukkan, Indonesia memperoleh skor 34 dalam skala penilaian 0-100. Artinya korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya berada pada angka 43.
Dengan skor ini, Indonesia berada di peringkat 65 terburuk soal korupsi dari total 180 negara.
Rapor buruk itu masih ditambah dengan kebijakan politis yang lucu, tak masuk akal, melanggar nalar, akal sehat dan common sense. Contohnya Keputusan MA terkait usia capres dan cawapres yang menuai kontroversi.
Makin ke sini kekecewaan warga kepada pemerintah makin mendalam dengan seringnya terjadi beberapa insiden kebocoran data. Salah satunya adalah kebocoran data BPJS Kesehatan yang terjadi pada Mei 2021. Sebanyak 279 juta Warga yang terdaftar fi BPJS dilaporkan bocor dan dijual di forum online. Dan yang terbaru: kasus kebocoran data Pusat Data Nasional beberapa waktu lalu.
Dan masih banyak masalah-masalah lain di bidang pendidkan, kesehatan, pelayanan publik dan keadilan yang membuat Sebagian warga negara hopeless.
Puncaknya beberapa warga di aplikasi X mengungkapkan untuk berganti paspor atau pindah negara. Salah satu akun @rykarlsen mengaku dirinya telah ganti paspor.
Dia menyebut beberapa alasan. Pertama karena ganti paspor memang tidak melanggar hukum. Kedua tidak perlu sering ngurus visa. Ketiga tidak berdosa, kualitas dan keamanan sitem lebih baik dan tentu saja setiap orang berhak mendapatkan yang lebih baik kan?
@rykarlsen tentu tidak sendiri, jika jejaknya diikuti banyak warga lain, kira-kira akan seperti apa dampaknya pada Indonesia kita tercinta?
Tergerusnya nilai-nilai nasionalisme sebenarnya bukan disebabkan oleh hal-hal eksternal saja. Salah satu yang sering dijadikan kambing hitam adalah pengaruh budaya luar. Padahal kalau kita melihat permasalahan di atas, kasus makin merosotnya cinta tanah air dan bangsa adalah perilaku buruk dari faktor internal.
Selain alasan-alasan di atas, era digital juga berperan pada makin besarnya potensi menurunnya sikap nasionalisme . Era digital memungkinkan tiap orang mempunya akses informasi dari seluruh dunia.
Mereka bisa terpapar nilai-nilai dan sistem politik dari negara lain yang dianggap lebih superior. Akibatnya bisa mengurangi rasa kebangsaan terhadap budaya dan nilai-nilai lokal.
Selain kesenjangan ekonomi yang lebar, kesenjangan digital juga berperan dalam menurunkan sikap nasionalisme warga. Ketidakmerataan akses terhadap teknologi digital dapat memperparah kesenjangan sosial dan ekonomi. Ini bisa menyebabkan sebagian masyarakat merasa tertinggal dan kurang dihargai oleh negara.
Juga algoritme pada platform digital berpotensi menurunkan nasionalisme karena menampilkan informasi atau konten yang hanya sejalan dengan pandangan dan minat pengguna. Sehingga pengguna hanya berinteraksi dengan orang-orang yang mempunyai pandangan dan visi yang sama.
Jika tidak paham literasi digital mereka akan kesulitan membedakan mana informasi yang berdasarkan fakta atau hoaks. Selain itu mereka akan susah menerima fakta yang disampaikan oleh mereka yang berseberangan pandangan.
Dengan terbukanya informasi, peluang berkarir di luar negeri lebih memungkinkan. Karena banyak hal menguntungkan jika punya kesempatan berkarir di luar negeri.
Yang pertama tentu saja soal pendapatan. Dengan gaji yang lebih tinggi di luar negeri peluang untuk menabung dan berinvestasi lebih besar.
Berkarir di luar negeri juga memungkinkan seseorang bisa mengembangkan keterampilan baru yang mungkin tidak tersedia di Indonesia, termasuk teknologi canggih, metodologi kerja baru, dan standar internasional.
Selain itu juga bisa membangun jaringan profesional dengan orang-orang dari berbagai negara, yang dapat membuka peluang karier di masa depan.
Dengan segala kenyamanan fasilitas dan layanan publik yang bagus beberapa orang lebih memilih tidak kembali ke negeri sendiri. Mereka mungkin masih mencintai Indonesia tapi lebih menyukai kepastian masa depan.
Kamu juga kan?


