
Hamas menunjuk Yahya Sinwar sebagai pimpinan sayap politiknya setelah Ismael Haniyeh tewas terbunuh akibat ledakan bom yang dikendalikan dari jarak jauh. Sinwar dikenal karena kekejamannya dan dipandang sebagai salah satu sosok paling berkuasa di Hamas.
Al Jazeera melansir, Sinwar, 61, dipandang oleh Israel sebagai dalang di balik serangan 7 Oktober oleh Hamas, yang menewaskan lebih dari 1.100 orang dan menawan lebih dari 200 orang lainnya.
Sinwar disebut sebagai wajah Hamas dalam diplomasi internasional karena pengaruhnya.
“Yahya Sinwar adalah komandannya… dan dia adalah orang mati,” kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Laksamana Muda Daniel Hagari pada awal Oktober lalu.
Timur Tengah kini tengah berada di puncak kegelisihan menyusul tewasnya Haniyeh di Iran pada akhir Juli 2024, di mana Iran dan Hamas menuding Israel sebagai pelakunya. Israel masih tutup mulut atas kejadian tersebut, sementara Iran bersumpah akan melakukan serangan balasan pada negara tersebut.
Sementara itu, terbunuhnya Haniyeh justru membuat Hamas kini memiliki pimpinan yang jauh lebih esktrem.
Sang pimpinan baru kemungkinan akan mengarahkan kelompok militan Palestina ke arah yang buruk bagi perundingan gencatan senjata. Padahal, perundingan tersebut awalnya bertujuan mengakhiri perang dan membebaskan sandera Israel yang masih ditawan di Gaza.
Haniyeh, yang bermarkas di Qatar, merupakan pimpinan negosiator Hamas dalam diskusi membara dengan Israel yang digambarkan sebagai sosok yang lebih pragmatis dan suportif. Walaupun negosiasi yang berjalan berbulan-bulan itu belum juga berhasil mencapai kesepakatan besar.
Bedanya kini, Sinwar merupakan sosok yang ogah banyak kompromi dan tidak akan memberikan pandangan-pandangan pragmatis dalam diskusinya. Namun, cara pandang Sinwar tersebut dipandang tidak akan mengubah dinamika perang Gaza yang sudah lama berlangsung.
Sinwar lahir di pengungsian di Gaza dan menghabiskan sedikitnya 22 tahun kehidupan masa dewasanya di penjara Israel. Dia telah dihukum pada 1989 karena secara sengaja menghabisi dua tentara Israel dan empat warga Palestina yang diduga menjadi kolaborator.
Ia dibebaskan pada pertukaran tahanan yang kontroversial pada 2011 di mana 1.000 tahanan Palestina ditukar dengan tentara Israel, Gilad Shalit. Shalit saat itu berada di penjara selama lima tahun.


