Ulang tahun kemerdekaan republik Indonesia ke-79 tinggal menghitung hari. Warga di seantero pelosok nusantara bersiap merayakan momen bersejarah ini. Di tingkat kelurahan, sebuah kampung di Jawa Tengah perayaan puncak 17-an dilakukan dengan memotong nasi tumpeng merah putih.
Peringatan 17-an ini selalu dirayangan dengan antusias. Menjelang hari H, seluruh warga dari berbagai wilayah bersama-sama mengadakan acara lomba yang sudah mentradisi turun temurun sejak saya masih sekolah di SD.
Warga menyelenggarakan lomba yang identik dengan perayaan 17-an. Tidak jauh-jauh dari lomba panjat pinang, makan kerupuk, tarik tambang, balap karung, lari kelereng, memasukkan paku ke dalam botol dan lomba-lomba lucu-lucuan lainnya. Warga menyambut antusias meskipun hadiah yang disediakan cukup sederhana. Ada juga yang agak serius, turnamen volley ball, sepak bola dan senam kesehatan.
Biasanya keesokan harinya diadakan pawai, karnaval, arak-arakan yang melibatkan ribuan orang turun ke jalan dalam waktu yang bersamaan. Di tengah terik matahari, anak-anak, remaja, orang tua berbaris rapi dengan berkostum pakaian adat yang berasal dari tiap propinsi, sebagian memakai kostum profesi seperti dokter, hansip, tentar, lainnya menghias mobil agar tampak beda dan ramai.
Endingnya, sampah berserakan di sepanjang jalan yang akan merepotkan petugas sampah. Belum lagi suara-suara bising yang ditimbulkan oleh knalpot motor. Perayaan dengan model begini juga berpotensi terjadi kecelakaan dan tentu saja, keramaian membuat sebagian orang tidak nyaman.
Selama ini kegiatan perayaan 17-an hanya bisa diikuti oleh orang-orang biasa saja. Orang-orang yang berkebutuhan khusus atau difabel tidak punya kesempatan untuk berpartisipasi merayakan 17-an seperti orang biasa.
Persis seperti peringatatan yang terjadi 32 tahun yang lalu.
Di tengah perubahan dan perkembangan teknologi hari ini, apakah perayaan yang membuat kemacetan lalu lintas ini masih relevan untuk seluruh warga? Apalagi gen Z atau gen Alpha yang lebih tertarik dengan hal-hal yang inovatif dan kekinian.
Perlu cara-cara baru untuk merayakan 17-an agar lebih inklusif dan kekinian, tanpa meninggalkan semangat kebersamaan, semangat persatuan dan kesatuan.
Era digital telah mengubah perilaku manusia dengan sangat signifikan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Teknologi ini telah melahirkan kebudayaan baru. Kemajuan internet dan media sosial, telah mengubah cara kita berinteraksi dan merayakan momen-momen penting.
Mestinya perayaan 17-an tidak lagi hanya dilakukan di lapangan terbuka atau jalan-jalan desa, tetapi juga di ruang-ruang digital, di mana generasi muda lebih banyak menghabiskan waktu di sini. Data dari We Are Social (2024) mengungap warganet Indonesia menghabiskan waktu hingga 7 jam 38 menit per hari untuk online.
Selain kegitan-kegiatan konvensional seperti lomba-lomba, perayaan 17-an ke depan bisa dibuat lebih inklusif dan tetap relevan dengan perkembangan teknologi.
Dengan adanya lomba-lomba tersebut, warga dari segala usia bisa ikut berpartisipasi, termasuk para disable yang selama ini menjadi penonton.
Ini tentu menjadi tantangan besar di Indonesia, di mana aksesibilitas dan partisipasi kaum difabel dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perayaan 17-an, masih sangat terbatas.
Banyak acara 17-an yang digelar di tempat-tempat yang tidak ramah difabel. Fasilitas seperti jalan yang tidak rata, minimnya ramp, dan ketiadaan tanda-tanda atau penunjuk yang sesuai dengan kebutuhan kaum difabel, seperti huruf Braille atau panduan audio, menjadi penghalang besar. Akibatnya, mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa dan merasa terbatasi untuk terlibat secara aktif.
Sampai hari ini masih banyak masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya inklusi difabel. Banyak panitia acara yang mungkin tidak mempertimbangkan atau bahkan tidak menyadari bahwa ada peserta difabel yang ingin berpartisipasi.
Kurangnya edukasi mengenai pentingnya inklusi sosial dan hak-hak kaum difabel menjadi faktor penyebab utama mengapa mereka sering kali diabaikan dalam perencanaan acara.
Hal ini diperparah dengan stigma dari masyarakat yang masih menganggap difabel tidak mampu atau tidak seharusnya berpartisipasi dalam kegiatan yang bersifat fisik seperti dalam lomba 17-an.
Inovasi dalam merayakan 17-an memang sudah terlihat. Salah satunya tampak dari sebuah Lembaga Pendidikan di Purwokerto, Jawa Tengah yang mengadakan lomba desain poster digital Nusantara. Di Jakarta, perusahaan keuangan juga mengadakan lomba dengan cara mengumpulkan poin digital. Masih ada banyak lomba 17-an yang bisa dicoba sebenarnya. Salah satunya lomba main game, lomba menulis, video dan foto dan lainnya. Belum banyak yang memanfaatkan media digital untuk meramaikan perayaan 17-an.
Kompetisi atau lomba-lomba ini bukan hanya untuk mengajak peserta unjuk kreativitas, namun yang lebih penting adalah juga untuk menyampaikan pesan-pesan yan relate tentang kemerdekaan. Dengan menggunakan platform seperti YouTube dan Instagram, lomba-lomba ini menjadi lebih inklusif, karena siapapun bisa berpartisipasi tanpa batasan usia, lokasi, atau kemampuan fisik.
Tapi bentuk perayaan itu semuanya baru sebatas hore-hore, hiburan semata dan masih kurang relate dengan apa yang diperjuangkan oleh para pahlawan nasional yang mengorbankan harta, benda, air mata dan nyawa demi kemerdekaan negeri ini.
Bayangkan kira-kira seperti apa komentar Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional dari Aceh melihat lomba panjat pinang?
Cut Nyak Dhien mungkin akan mendukung perayaan yang lebih fokus pada refleksi sejarah, pengembangan wawasan tentang perjuangan bangsa, dan kegiatan yang membangun kesadaran akan tantangan masa kini dan masa depan Indonesia.
Ia bisa saja mendorong warga menggunakan momen ini untuk merenungkan bagaimana mereka harus bisa melanjutkan perjuangan yang telah dimulai oleh para pahlawan, bukan hanya melalui symbol-simbol, tetapi juga dengan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya saat peringatan 17-an, namun dilakukan setiap hari, sepanjang tahun dengan caranya masing-masing sesuai kapasitasnya.
Contohnya pejabat yang berkuasa tidak mengeruk duit rakyat untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, namun lebih mementingkan kepentingan rakyat agar sejahtera. Seorang pelayan publik menyelesaikan tugasnya dengan sigap, tak perlu menunggu 14 hari kerja baru selesai dan tentu saja tanpa uang rokok, uang bensin, uang dan sebutan-sebutan yang mengesankan bahwa perbuatan itu bukan pungli. Dan seterusnya.
Pada akhirnya, Cut Nyak Dhien kemungkinan besar akan mengingatkan, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah, karena itu, seharusnya dirayakan dengan cara yang lebih serius, elegan dan penuh rasa syukur, serta dengan komitmen untuk terus menjaga nilai-nilai kemerdekaan di setiap aspek kehidupan.
Dirgahayu negeriku!
Penulis: Karmin


