Golongan Karya atau Golkar adalah partai politik di Indonesia yang berdiri sejak era pemerintahan Presiden Sukarno. Partai berlambang pohon beringin ini didirikan pada 20 Oktober 1964 dengan nama Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) dan Djuhartono sebagai ketua umumnya.
Golkar didirikan oleh golongan militer, terutama Angkatan Darat seperti Soeharto dan Suhardiman untuk melawan pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam kehidupan politik.
Golkar menjadi salah satu partai peserta Pemilu 1971. Saat itu, partai yang identik warna kuning ini memperoleh 62,8 persen suara dan mendapatkan 236 dari 360 kursi anggota DPR. Partai ini berkuasa dari tahun 1971-1999 di era kepemimpinan Presiden Soeharto dan BJ Habibie.
Namun, setelah reformasi pada Pemilu 1999, Golkar menempati peringkat kedua dengan memperoleh 22 persen suara. Suara terbanyak adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.
Dalam perkembangannya, Golkar berhasil menjadi partai modern. Meski tetap saja perjalanannya tidak terlepas dari dinamika-dinamika yang terjadi di internal maupun eksternal partai.
Pada akhir 2014, Golkar harus mengalami dualisme kepemimpinan, yakni Aburizal Bakrie hasil Musyawarah Nasional (Munas) Bali dan Agung Laksono hasil Munas Jakarta. Dualisme kepemimpinan ini mulai berakhir seiring tercapainya kesepakatan rekonsiliasi yang dipimpin oleh Jusuf Kalla pada awal 2016.
Kedua kubu mengakhiri perseteruannya dengan menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada pertengahan 2016 di Nusa Dua, Bali. Pada agenda tersebut, Setya Novanto terpilih sebagai Ketua Umum Golkar yang baru.
Setya Novanto dinonaktifkan sebagai Ketua Umum Golkar karena tersandung kasus e-KTP. Pada Rapat Pleno DPP Partai Golkar, Rabu 13 Desember 2017, diputuskan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar. Airlangga kembali menjadi Ketua Umum Golkar setelah dipilih secara aklamasi pada Munas Golkar 2019.
Belum waktunya mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga tiba-tiba menyatakan mundur dari pucuk pimpinan partai pohon beringin itu pada Jumat, 10 Agustus 2024 malam.
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim dan atas petunjuk Tuhan Yang Maha Besar, maka dengan ini menyatakan pengunduran diri sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar,” ucap Airlangga sebagaimana dalam video yang tersebar di media sosial.
Sebagai pengganti sementara, jabatan pucuk pimpinan Golkar diisi oleh Agus Gumiwang Kartasasmita. Dia akan dipilih sebagai Plt. Ketua Umum Partai Golkar dalam forum rapat pleno. Pada agenda tersebut juga akan ditentukan jadwal forum Munas atau Munaslub Golkar.
Mengutip berbagai sumber yang beredar, ada tiga calon kuat yang akan memimpin Partai Golkar. Yakni Bahlil Lahadalia, Agus Gumiwang, dan Bambang Soesatyo.
Daftar Ketua Umum Partai Golkar Sejak Didirikan Tahun 1964
Terlepas dari peralihan kepemimpinan Partai Golkar, simak daftar tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar sejak didirikan tahun 1964, dikutip dari laman partaigolkar.comberikut ini:
- Djuhartono (20 Oktober 1964-7 November 1967)
- Suprapto Sukowati (7 November 1967-9 Agustus 1972)
- Amir Moertono (9 Agustus 1972-25 Oktober 1983)
- Sudharmono (25 Oktober 1983-1988)
- Wahono (1988-26 Oktober 1993)
- Harmoko (26 Oktober 1993-11 Juli 1998)
- Akbar Tanjung (11 Juli 1998-19 Desember 2004)
- Jusuf Kalla (19 Desember 2004-9 Oktober 2009)
- Aburizal Bakrie (9 Oktober 2009-17 Mei 2016)/Agung Laksono (2014-17 Mei 2016)
- Setya Novanto (17 Mei 2016-13 Desember 2017)
- Airlangga Hartarto (13 Desember 2017-10 Agustus 2024)
Penulis: MHT


