Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebut Istana Bogor bau kolonial. Memang, ada jejak Belanda di Istana Bogor yang hingga hari ini masih terawat baik dan menjadi kediaman presiden sekaligus kantor urusan kepresidenan.
Istana Bogor adalah bangunan peninggalan Belanda. Istana Bogor dibangun karena Gubernur Jenderal Belanda GW Baron van Imhoff ingin mencari lokasi istana baru yang lebih tenang dan nyaman. Akhirnya, pada 10 Agustus 1744, dia menemukan lokasi untuk membangun istana.
Baron van Imhoff memulai pembangunan istana baru pada 1975. Dia memberi nama Buitenzorg untuk daerah di sekitar istana. Buitenzorg diambil dari Bahasa Belanda yang berarti tempat damai yang jauh dari segala hiruk pikuk. Penamaan ini sesuai tujuan Baron van Imhoff.
Dalam rancangannya, Baron van Imhoff ingin membangun istana tiga lantai lengkap dengan halaman luas terbuka. Gaya arsitekturnya terinspirasi dari Blenheim Palace, kediaman Duke of Marlborough di Inggris. Namun, Gubernur Jenderal Belanda itu tidak bisa merampungkan hingga masa jabatannya habis.
Renovasi Istana
Istana yang dibangun Baron van Imhoff terkena dampak serangan Banten ke Belanda yang dipimpin Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang (1750-1754). Bangunan tersebut rusak parah dan baru diperbaiki setelah perang selesai. Saat renovasi istana, pemerintah kolonial Belanda mengubah gaya arsitekturnya.
Bangunan istana yang kini jadi kediaman presiden terus mengalami perbaikan dan perluasan. Pada 1817-1826, pemerintah Belanda menambah kompleks kebun yang saat ini dikenal dengan Kebun Raya Bogor. Kebun ini diresmikan pada 18 Mei 1817.
Istana Bogor kembali direnovasi setelah gempa bumi mengguncang Kota Hujan pada 10 Oktober 1934. Bangunan istana pun roboh. Harus dibangun ulang dengan gaya arsitektur baru yang mencerminkan arsitektur Eropa abad ke-19.
Setelah rampung, bangunan Istana Bogor diresmikan oleh Gubernur Jenderal Ferdinand Pahud de Montages (1856-1861). Pada 1870, istana ini resmi ditetapkan sebagai kediaman resmi Gubernur Jenderal Belanda.
Pada masa pendudukan Jepang, istana ini dijadikan sebagai salah satu markas militer sehingga bangunannya menjadi tidak terawat. Pada akhirnya diperbaiki lagi.
Dalam sejarahnya, Istana Bogor pernah menjadi tempat acara penting berskala internasional digelar, di antara sebagai tempat Konferensi Lima Negara pada 28-29 Desember 1954, Forum Jakarta Informal Meeting pada 25-30 Juli 1988 untuk membahas konflik Kamboja pada 25-30 Juli 1988.
Selain itu, pertemuan para Pemimpin APEC juga pernah digelar di Istana Bogor pada 15 November 1994. Beberapa pernikahan juga pernah digelar di istana ini, di antaranya pernikahan Sigit Soeharto pada 1975 dan Agus Harimurti Yudhoyono pada 2006.
Kompleks Kini Istana
Mengutip laman esi.kemdikbud.go.id, setelah beberapa kali mengalami renovasi, akhirnya bangunan istana itu terlihat megah, namun tidak menghilangkan jejak kolonial Belanda. Berikut kompleks-kompleks yang ada di Istana Bogor.
- Gedung Induk Ruang Teratai
Meski telah diperbaiki beberapa kali, tapi pemerintah Belanda tidak mengganti gaya arsitektur yang lama saat pertama kali dibangun, yaitu gaya Blenheim Palace Inggris. Dinamai Ruang Teratai karena ada lukisan bunga teratai sedang mekar di salah satu sisi dinding karya CL Dake Jr tahun 1952.
- Gedung Induk Ruang Garuda
Di gedung ini terdapat lambang Garuda Pancasila berukuran raksasa yang tergantung di salah satu dindingnya. Ada juga cermin berbingkai emas bekas peninggalan Belanda yang disebut kaca seribu.
- Paviliun Sayap Kiri dan Sayap Kanan
Paviliun Sayap Kiri memiliki luas 511 meter persegi, sementara Sayap Kanan lebih luas sedikit, yakni 651 meter persegi. Di bangunan sayap kiri terdapat dua ruangan yaitu ruang Panca Negara dan Ruang Tidur serta ruang Tengah. Pada bangunan Sayap Kanan terdapat ruangan yang berisi perabot dan perlengkapan istirahat.
- Paviliun dan Bangunan Lain
Presiden Soekarno dan Ibu Negara Hartini pernah menempati Paviliun Amarta sebagai tempat kediamannya. Gedung Dyah Bayurini yang menjadi tempat istirahat presiden dan keluarga baru dibangun pada 1964 di atas tanah seluas 560,44 meter persegi.
Masih di area Istana Bogor, terdapat Museum Kepresidenan Balai Kirti yang pembangunannya digagas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 18 Oktober 2014. Museum ini dibangun khusus menampilkan kisah sejarah pemerintahan para presiden Indonesia.
Penulis: Chairil Mustami


