Saat ini Indonesia adalah negara paling religius di dunia, nomor satu. Berikutnya adalah negara Malawi, Yaman, Sri Lanka, Mauritania, Djibouti, Ethiopia, Afghanistan, Uganda dan Nigeria. Mayoritas penduduknya dianggap menjalankan ajaran agamanya paling taat. Ini sesuai rilis yang dikeluarkan oleh Majalah CEOWORLD tahun 2024. Hebat kan!
Ke-religius-an itu memang tampak saat pagi, menjelang matahari terbit. Di kampung-kampung dan di kota terdengar adzan serentak, tanda umat Islam harus bersembahyang. Ada yang sholat di rumah masing-masing. Ada juga sebagian kecil yang berbondong-bondong ke masjid untuk sholat bersama. Untuk menarik warga untuk sholat subuh berjamaah, di sebuah masjid ada yang mengadakan program sholat subuh berjamaah di masjid dengan menyediakan hadiah.
Bahkan jauh sebelum subuh, tepatnya dini hari waktu enak-enaknya tidur, di grup-grup whatsapp yang aku ikuti selalu terdengar tang ting tung ajakan untuk menunaikan sholat tahajud atau sholat malam. Orang-orang (islam) begitu antusias melakukan ritual salat malam yang sebenarnya hukumnya tidak wajib itu. Tetapi ketika hal itu dikerjakan maka akan mendapatkan pahala.
Saat sore, anak-anak dan remaja juga aktif melakukan kegiatan di masjid. Ada taman bacaan Al Quran yang isinya anak-anak kecil belajar membaca Quran, ada remaja masjid yang mempelajari ilmu di tingkat lebih lanjut.
Pengajian-pengajian akbar di tanah lapang atau masjid pun selalu dipenuhi ribuan jamaah. Apalagi kalau mengundang salah satu uztadz kondang yang lagi populer di Tiktok. Begitu juga dengan ibadah haji. Jumlah orang Indonesia yang melaksanakan ibadah haji menempati urutan pertama. Karena prestasi ini pemerintah Arab Saudi memberikan penghargaan kepada pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, lonceng gereja berdentang, mengajak umat Kristiani untuk beribadah. Pura-pura dan vihara-vihara juga menjadi saksi dari kesetiaan umat Hindu dan Buddha dalam menjalankan ritual keagamaan mereka.
Di jalanan, kita sering melihat orang-orang yang mengenakan atribut keagamaan seperti jilbab, peci, atau rosario, yang menunjukkan betapa religiusnya masyarakat Indonesia.
Dulu saya punya pengalaman menarik. Banyak orang yang menanyakan sebenarnya agama saya apa, baik secara online maupun saat bertemu langsung di kereta atu di sebuah acara. Mungkin perilaku saya tidak memakai atribut yang menunjukkan agama tertentu. Ada yang pernah memberi ucapan selamat natal, bahkan ada ibu-ibu di Cimanggis, Bogor menjudge saya adalah seorang pastur. Aku merespons dengan diam saja.
Ke-religius-an itu juga tampak pada di media sosial. Tidak jarang kita menemukan postingan tentang ayat-ayat suci, ceramah ustaz, atau doa-doa yang disebarkan untuk menginspirasi orang lain. Agama tampaknya menjadi pedoman hidup yang kuat, yang membentuk moral dan etika masyarakat.
Menurut survei yang dilakukan Pew Research Center, sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negaara yang warganya mempunyai ketaatan beragama tertinggi. Survei itu mengungkap, 98 persen penduduk Indonesia muslim dan 95 persen-nya melakukan ibadah setiap hari. Survei ini dilakukan mulai tahun 2008 sampai dengan 2023 dan diikuti oleh 102 negara.
Namun, di balik ke-religius-an itu menyimpan ironi yang ekstrem. Kalau kita melihat komentar netizen di media sosial, banyak perilakunya yang tidak mencerminkan seorang yang taat beragama. Banyak netizen yang julid, suka menghakimi orang lain.
Cobalah sesekali berselancar mengamati perilaku netizen di media sosial. Banyak yang memberi komentar negatif apapun isi konten video yang diposting. Contohnya saat saya mengikuti live seorang konten kreator yang sedang memberi makan anjing kesayangannya. Beberapa netizen berkomentar negatif dengan menyarankan, daripada duit buat ngasih makan anjing, mending dipakai untuk donasi madrasah.
Komentar di akun lainnya beda lagi. Kali ini konten kreator yang sedang live, dia berasal dari Pulau Bali, Indonesia. Saat dia menyanyi beberapa pemirsa menyampaikan komentar negatif yang isinya menyerang fisik, merendahkan dan memaki. Padahal mereka tidak kenal sama sekali.
Komentar makin tajam ditemukan di video-video yang kontennya terkait soal LGBT. Beberapa netizen tampak seperti orang yang paling memegang kunci kebenaran dan kebaikan. Seolah-olah mereka memiliki kewajiban moral untuk menegur atau bahkan menghukum orang lain. Mereka berbicara atas nama agama, tetapi tindakannya sering kali jauh dari nilai-nilai kasih sayang dan toleransi yang diajarkan oleh agama itu sendiri.
Bagaimana ironi di tingkat pemerintahan? Ironi tersebut muncul dalam bentuk korupsi yang merajalela. Pejabat-pejabat yang sering kali menunjukkan kesalehan di depan publik, dengan memimpin doa sebelum rapat atau mengutip ayat-ayat suci dalam pidatonya, ternyata juga bisa terlibat dalam praktik korupsi yang sangat merugikan negara.
Kasus korupsi di Indonesia begitu banyak hingga sulit untuk diingat semua. Dari tingkat pusat hingga daerah, dari legislatif hingga eksekutif, hampir tidak ada institusi yang benar-benar bebas dari korupsi.
Yang lebih mengejutkan adalah bagaimana para pejabat ini sering kali menggunakan agama sebagai tameng atau pembenaran atas tindakan mereka. Mereka bisa dengan tenang menjalankan ibadah atau mendonasikan uang kepada rumah ibadah, sementara di saat yang sama, mereka menerima suap atau menggelapkan dana publik.
Salah satu contohnya adalah seorang kepala daerah yang tertangkap tangan menerima suap, menjual jabatan. Di hadapan media, ia selalu tampil religius, bahkan memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan di wilayahnya. Namun, di balik layar, ia membangun jaringan korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Agama selain sebagai keyakinan pribadi, tetapi juga sebagai alat politik dan sosial.
Pejabat sering kali menggunakan simbol-simbol religius untuk membangun citra diri yang positif dan mendapatkan dukungan publik. Mereka tahu bahwa masyarakat Indonesia sangat menghargai kesalehan, dan dengan menampilkan diri sebagai orang yang religius, taat beragama.
Contoh lainnya tentu masih banyak. Intinya banyak orang beragama hanya taat pada ibadah-ibadah ritual seperti sholat, puasa, naik haji, sementara mereka tetap asyik juga melanggar perintah-perintah agama. Kenapa bisa begitu?
Orang-orang yang melakukan korupsi biasanya dia tidak punya integritas dan lemah pendirian. Selain itu karena faktor keserakahan dan ketamakan juga tekanan sosial dan lingkungan birokrasi yang sudah tercermar. Dan ini didukung oleh lemahnya penegakan hukum atau kurangnya pengawasan yang efektif.
Penulis: Karmin


