Tahun 2045 tidak lama lagi. Indonesia akan merayakan seratus tahun kemerdekaan. Mimpinya, pada saat itu negeri tercinta kita telah berubah menjadi negara yang “berdaulat, maju, adil dan makmur”.
Menurut visi misi Indonesia emas, tahun 2045 nanti, kita warga negara Indonesia akan mengalami perubahan yang sangat drastis: kesejahteraan meningkat, kualitas sumber daya manusia yang lebih tinggi. Kita menjadi negara maju, salah satu dari 5 kekuatan ekonomi dunia dengan pembangunan yang merata dan berkeadilan.
Apakah semua warga akan merasa lebih aman, tenteram, damai dan sejahtera? Mungkin sekolah gratis, rumah sakit gratis, semua punya pendapatan, tidak ada pengangguran, semua punya tempat tinggal yang layak dan hal-hal lainnya yang selama ini kita impikan sebagai warga negara?.
Mimpi yang terlalu manis, tentunya. Terlalu keren untuk menjadi kenyataan.
Ironi-Ironi
Namun di balik mimpi indah itu terdapat banyak ironi, kenyataan pahit yang bisa menghambat perjalanan Indonesia untuk mewujudkan visi misinya tersebut.
Ada cerita menarik di kampung saya. Suatu pagi ada tetangga baru. Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan anak. Ibunya telah pergi ke surga, karena serangan kanker payudara. Otomatis sang anak harus pindah sekolah. Dan saya berkesempatan untuk mengurus administrasinya. Dia kelas 4 Sekolah Dasar yang berada di dekat Pantai Selatan, Jawa Tengah. Nama panggilannya Tomi.
Dari cerita guru SD yang lama, ternyata Tomi belum bisa membaca sama sekali. Padahal dia seperti anak lainnya, guru menyatakan Tomi tidak berkebutuhan khusus.
Ini adalah gambaran terburuk bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Tomi tidak sendirian. Ribuan anak SD juga mengalami hal yang mirip. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI menunjukkan, ada 110,7 ribu siswa SD di Indonesia harus mengulang mata pelajaran. Jumlah terbanyak kelas satu disusul kelas tiga.
Dari data Kemendikbud tersebut, ada fakta yang menarik bahwa jumlah siswa SD laki-laki yang mengulang lebih banyak dibanding jumlah siswa perempuan.
DKI Jakarta tidak masuk dalam sepuluh besar provinsi dengan siswa mengulang tertinggi.
Akses Teknologi
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Jogja, Makassar, fasilitas pendidikan, akses teknologi, dan kualitas guru tentu lebih baik dibandingkan di desa-desa yang seringkali kekurangan fasilitas dasar seperti perpustakaan, laboratorium, dan bahkan guru yang berkualitas?.
Kesenjangan masalah pendidikan antara kota dan desa masih lebar. Tentunya ini adalah tantangan serius yang harus segera diatasi.
Penyebab kesenjangan ini diperparah faktor ekonomi. Sehingga kesempatan para siswa untuk mengakses info soal pendidikan melalui internet terbatas. Selain kesulitan sinyal, problem lainnya adalah kesulitan membeli quota internet. Ponsel-nya yang smart-pun belum dipakai secara maksimal. Kebanyakan hanya untuk bermain-main, semata-mata buat hiburan dan bertukar pesan.
Celakanya tak ada yang mengedukasi soal ini. Entah karena memang sumber dayanya yang tak mumpuni, atau para pemangku kepentingan yang tidak peduli. Jangankan anak-anak, mayoritas warga juga masih gagap teknologi, apalagi sampai memahami literasi digital.
Di desa-desa 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang berada di pinggiran wilayah Indonesia tantanganya lebih parah.
Belum Tersentuh Internet
Sampai Januari 2024 data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap, warga yang belum tersentuh internet mencapai 57.132.72 orang atau 11 persen dari penduduk NKRI yang jumlahnya 278.696.200.
Jadi masih banyak warga NKRI harga mati yang belum pernah menikmati manfaat teknologi untuk memudahkan hidup. Misalnya kemudahan belanja online atau menikmati drama netizen +62 di aplikasi X yang selalu riuh.
Sekolah-sekolah di pedesaan, banyak yang belum memiliki akses internet atau perangkat teknologi yang memadai. Hal ini membuat siswa di desa tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. Efeknya mereka tidak mempunyai ketrampilan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Mereka akan kalah sebelum bersaing di dunia kerja. Karena kebanyakan lowongan pekerjaan saat ini perekrutannya dilakukan secara online. Tanpa akses internet, mereka akan kehilangan kesempatan untuk melihat iklan lowongan, mengirim lamaran, dan berinteraksi dengan perekrut secara efektif. Semua dilakukan secara digital sehingga menyulitkan mereka ketika wawancara melalui video atau tes dilakukan secara online.
Memang ada beberapa orang sukses yang tidak melalui jalur pendidikan formal. Contoh yang paling fenomenal adalah bu Susi Pudjiastuti, mantan Menteri kelautan yang sukses dengan bermacam-macam bisnisnya. Tapi hanya sangat sedikit “outlier” di Indonesia yang seperti dia.
Lebih Suka Jadi Pegawai
Kebanyakan orang lebih suka menjadi karyawan dibanding memiliki bisnis sendiri. Hari ini status karyawan sangat rentan kena PHK dengan berbagai alasan. Para perusahaan melakukan efisiensi karena efek perkembangan teknologi. Apalagi teknologi AI yang cepat memaksa para perusahaan beradaptasi. Para karyawan yang tidak kompeten, tidak update, skillnya sudah expired otomatis akan dipecat.
PHK terjadi di banyak bidang usaha. Salah satunya yang kena dampak perkembangan AI adalah pabrik tekstil di Jawa Tengah. Mereka tidak hanya memecat karyawannya namun lebih parah. Keenam pabrik itu telah menutup operasionalnya.
Menurut Kementerian Tenaga Kerja, tren PHK di Indonesia meningkat tahun 2024. Terdapat 26.400 pekerja yang terkena PHK pada Semester satu tahun 2023. Jumlah tersebut naik menjadi 32.064 pekerja di semester satu tahun 2024, atau naik sebesar 21%.
Dengan makin berkembangnya AI, kemungkinan besar PHK akan terus menghantui. Ditambah dengan jumlah angkatan kerja yang tak menguasai skill yang berkaitan dengan teknologi digital, kira-kira apa yang akan terjadi?
Fakta yang tak kalah pahit yang bisa menghambat pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 adalah masih maraknya korupsi. Alih-alih untuk mensejahterakan rakyat, mereka memakai uang negara untuk kepentingannya sendiri.
Korupsi yang Marak
Yang paling heboh tentunya kasus korupsi Rp 44,5 Miliar eks Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Menurut jaksa, motif korupsi SYL salah satunya karena dia tamak. (menurut KBBI tamak artinya selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri; loba; serakah, tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya dan selalu menginginkan lebih.
Istilah itu sangat tepat untuk SYL. Bayangkan, jaksa yakin SYL menerima Rp 44,2 miliar dan USD 30 ribu (atau setara Rp 490 juta) uang dari karyawan selama menjabat Menteri Pertanian.
SYL divonis 10 tahun penjara dan denda Rp 300 juta serta diwajibkan membayar uang pengganti lebih dari Rp 14 miliar. Akankah hukuman itu memberi efek jera kepada pejabat lain untuk tidak korupsi?
Pastinya tidak.
Data dari Skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2023 tetap 34 (0-100) sama dengan tahun 2022. Artinya Indonesia berada pada posisi yang sangat korup. Skor 0 artinya bersih dan 100 sangat korup. Daftar koruptor lain di situs KPK masih banyak. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menangani 1.512 kasus tindak pidana korupsi sejak 2004 sampai 2023.
Tapi kita semua harus tetap optimistis. Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 memang tidak mudah. Tantangan dan rintangan tidak hanya soal kesenjangan pendidikan dan ekonomi, infrastruktur, terorisme, lingkungan dan lainnya akan selalu ada.
Seberapa kuat tekad, seberapa keras bekerja, seberapa semangat kita semua berusaha ingin mewujudkan mimpi indah Indonesia Emas 2045?.
Jangan-jangan malah sebaliknya, Indonesia Emas 2045 menjadi mimpi buruk yang membuat Indonesia cemas.



iya begini