Topan Yagi, serta longsor dan banjir yang dipicunya menewaskan sedikitnya 46 orang, sementara 299 penduduk Vietnam lain mengalami luka-luka di bagian utara Vietnam pada Senin (9/9/2024).
Topan Yagi merupakan badai paling dahsyat di Asia tahun ini yang menghantam pantai timur laut Vietnam pada Sabtu pekan lalu.
Melansir laman The Guardian, Selasa(10/9/2024), hantaman badai itu telah mengganggu pasokan listrik dan telekomunikasi di beberapa wilayah di negara tersebut, sebagian besar di Quang Ninh dan Haiphong. Hingga saat ini, sebanyak 22 orang warga masih dinyatakan hilang.
Pemerintah Vietnam mengimbau agar warga waspada terhadap adanya longsor dan banjir susulan akibat badai tersebut. Badan prakiraan cuaca setempat juga memperingatkan akan lebih banyak banjir dan tanah longsor dalam beberapa waktu ke depan.
Saat ini, pihaknya mencatat curah hujan berkisar antara 208 mm dan 433 mm di beberapa bagian wilayah tersebut selama 24 jam terakhir.
“Banjir dan tanah longsor merusak lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat,” kata Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional dalam sebuah laporan.
Dalam buletin terpisah, pusat tersebut mengatakan risiko banjir sangat tinggi di provinsi Lang Son, Cao Bang, Yen Bai dan Thai Ngyen. Banyak korban meninggal akibat tertimpa longsor, pohon tumbung atau tabrakan perahu.
Hampir 50 ribu orang dievakuasi dari kota-kota pipir pantai di Vietnam. Sementara pemerintah terus mengimbau warga agar tetap berada di dalam rumah.
Sekolah-sekolah juga ditutup sementara di 12 provinsi utara, termasuk di Hanoi.
“Hujannya sangat lebat, mengendap di tanah dan memicu tanah longsor,” ungkap petugas lokal yang enggan disebutkan namanya.
Otoritas pengelola bencana mengatakan sebanyak 3.300 rumah rusak dan lebih dari 120 ribu hektar lahan pertanian hancur di bagian utara Vietnam. Sebelum mendarat di Vietnam, Yagi menyerbu China Selatan dan Filipina, menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai puluhan lainnya.
Topan di wilayah tersebut kini terbentuk di dekat pantai, semakin intensif, dan bertahan di daratan lebih lama akibat perubahan iklim, menurut sebuah penelitian yang dirilis Juli lalu.


