Kematian puluhan paus pilot di Perairan Pureman, Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi keprihatinan banyak pihak. Peristiwa tragis itu juga menjadi ikhbar bahwa kondisi laut sedang tidak baik-baik saja.
Puluhan bangkai paus pilot ini menyebar ke beberapa pantai di sekitar Kampung Pureman, termasuk Pantai Mademang, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kampung Pureman. Sebagian lainnya terapung di tengah laut.
Warga Kampung Pureman juga menyikapi terdamparnya puluhan paus pilot dengan serius. Pasalnya, bagi mereka laut dan isinya adalah sahabat.
Warga lantas menggelar prosesi adat untuk menguburkan puluhan paus jenis pilot yang terdampar di Pantai Liliwera, Sabtu (7/9/20204).
Ritual adat digelar karena kematian sekitar 50 ekor paus pilot ini dianggap peristiwa langka di kampung tersebut
Seorang tokoh adat, Benyamin mengatakan kejadian ini mengingatkan masyarakat akan kematian paus besar yang terjadi pada tahun 1991 silam, atau 33 tahun silam.
Menurut dia, ritual adat ini juga sebagai bentuk permohonan terhadap leluhur agar terhindar dari bencana.
Masyarakat Pureman percaya bahwa kematian paus pilot membawa peringatan tentang kemungkinan terjadinya malapetaka, seperti hasil panen yang gagal atau bencana alam, serta perubahan penting dalam kepemimpinan adat.
Peringatan Kemungkinan Terjadinya Malapetaka

Masyarakat Pureman memandang paus sebagai saudara dan bagian penting dari kehidupan mereka. Warga juga memahami laut sebagai manifestasi Tuhan di bumi.
Dalam prosesi adat tersebut, masyarakat Pureman memohon restu dari arwah kerajaan dan Tuhan untuk menghindari bencana dan membawa berkat melimpah.
Prosesi ini merupakan wujud dari penghormatan dan kecintaan mereka terhadap laut dan segala isinya.
Kampung Pureman, yang terletak di bagian selatan Pulau Alor dan berbatasan langsung dengan Timor Leste, adalah salah satu kampung kerajaan tertua di pulau tersebut.
Dia juga berharap agar prosesi adat ini dapat melestarikan budaya mereka dan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah untuk mewujudkan desa mandiri dan meningkatkan kesejahteraan komunitas.
Sementara, Kepala UPTD Pengelola Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya, Saleh Goro menjelaskan, sebagian paus pilot masih terapung di tengah laut. Tim kesulitan untuk mengevakuasinya lantaran kondisi laut kurang bersahabat.
Ia juga mengatakan sebelum dilakukan penguburan, polisi juga sudah mengambil sampelnya untuk diserahkan ke UPTD Pengelola Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya.


