Taman Tirta Gangga, sebuah destinasi wisata yang menawan di Bali memiliki sejarah panjang yang dimulai pada masa Kerajaan Karangasem. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem Agung, taman ini awalnya merupakan sebuah istana kerajaan yang dikelilingi oleh kolam-kolam air jernih, patung-patung artistik, dan taman-taman hijau yang menawan.
Nama “Tirta Gangga” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, di mana “tirta” berarti air suci dan “gangga” merujuk pada Sungai Gangga di India yang mencerminkan penghormatan masyarakat Hindu Bali terhadap air sebagai sumber kehidupan dan kesucian.
Arsitektur Eropa dan Tiongkok
Mengutip karangasemkab.go.id, Raja Karangasem yang dikenal sebagai seorang visioner dengan jiwa seni tinggi merancang Taman Tirta Gangga sebagai tempat istirahat dan rekreasi bagi dirinya dan keluarganya. Terinspirasi oleh keindahan alam Bali serta pengaruh arsitektur Eropa dan Tiongkok, taman ini dirancang dengan tiga tingkatan bangunan.
Tingkat tertinggi menampilkan sumber mata air yang dikelilingi oleh pohon beringin rindang. Tingkat kedua memiliki kolam renang yang digunakan untuk berenang atau berendam, sementara tingkat terendah menyajikan kolam hias dengan air mancur dan patung-patung bergaya Hindu dan Cina.
Diguncang Letusan Gunung Agung 1963
Letusan Gunung Agung pada 1963 merupakan bencana besar yang mengakibatkan kerusakan parah pada Taman Tirta Gangga. Letusan dimulai dengan dentuman keras dan asap tebal pada 18 Februari 1963, disusul oleh aliran lahar yang berlangsung terus-menerus.
Pada 17 Maret 1963, letusan mencapai puncaknya yang menyebabkan cuaca gelap akibat abu vulkanik yang menyelimuti Bali, serta menurunkan suhu planet Bumi sebesar 0,4 derajat celcius. Letusan ini mengakibatkan 1.549 kematian, merusak 1.700 rumah, dan menghancurkan produksi pangan, membuat ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.
Pemugaran dan Upaya Pelestarian
Setelah bencana, Raja Karangasem dan rakyatnya berusaha melakukan pemugaran dengan dana terbatas. Namun, Raja Karangasem meninggal pada tahun 1966 sebelum pemugaran selesai. Setelah kematiannya, Taman Tirta Gangga dikelola oleh pemerintah daerah Karangasem.
Pada tahun 1979, taman ini ditetapkan sebagai cagar budaya, dan pemugaran lebih lanjut dilakukan dengan bantuan dana dari pemerintah Belanda pada tahun 1981. Pemugaran melibatkan ahli dari berbagai bidang untuk mengikuti konsep asli sambil menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Beberapa patung diganti dengan replika dan beberapa kolam ditambahkan untuk memperluas area taman.
Kondisi Saat Ini Diburu Wisatawan
Saat ini, Taman Tirta Gangga tetap menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat populer di Bali. Keindahan taman ini tidak hanya menarik wisatawan domestik tetapi juga internasional.
Pengunjung dapat menikmati suasana yang tenang di sekitar kolam-kolam berair jernih, berjalan-jalan di taman hijau yang terawat dengan baik, dan mengagumi patung-patung artistik yang telah dipugar dengan hati-hati.
Taman ini juga menawarkan pengalaman berendam di kolam-kolam yang masih mempertahankan keasliannya, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan kesegaran air yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Selain itu, pengelola taman terus melakukan pemeliharaan dan renovasi untuk memastikan taman ini tetap dalam kondisi terbaiknya.
Acara-acara budaya dan upacara keagamaan masih sering diadakan di sini, menjaga tradisi dan budaya Bali tetap hidup. Pengunjung dapat menyaksikan upacara-upacara adat yang diadakan di sekitar taman, memberikan mereka wawasan yang mendalam tentang warisan budaya lokal.
Taman Tirta Gangga, meski pernah mengalami kerusakan besar, kini berdiri kembali sebagai simbol ketahanan dan keindahan. Keberadaan taman ini mencerminkan upaya pelestarian budaya dan alam yang dilakukan oleh masyarakat Bali dan pemerintah setempat, menjadikannya sebagai salah satu permata yang tak ternilai di Pulau Dewata.
Penulis: Purba Handayaningrat


