Israel membombardir Lebanon lewat serangan udara pada Senin (23/9/2024) dan menjadi serangan paling mematikan sejak tahun 2006. Militer Israel mengatakan pihaknya melancarkan serangan tersebut ke markas-markas Hizbullah terutama di wilayah selatan.
“Selama beberapa jam terakhir, atas arahan intelijen IDF [Pasukan Pertahanan Israel], IAF [Angkatan Udara Israel] menyerang ratusan target Hizbullah, termasuk peluncur, pos komando, dan infrastruktur teroris di sejumlah wilayah di Lebanon selatan,” kata IDF dalam pernyataannya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, serangan tersebut tidak ditujukan kepada masyarakat sipil di Lebanon, melainkan untuk Hizbullah.
“Perang Israel bukan dengan Anda (rakyat), tetapi dengan Hizbullah. Sudah terlalu lama Hizbullah menggunakan Anda sebagai tameng manusia,” katanya, dikutip dari Reuters, Selasa (24/9/2024).
Ketika serangan diluncurkan, keluarga-keluarga di Lebanon selatan memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil saat wilayah tersebut dihujani bom. Anak-anak berpegang erat di pangkuan orang tua saat mengikat koper ke atap kendaraan. Kendaraan mereka dijejali banyak penumpang untuk mengungsi.
“Saya ambil semua dokumen penting dan kami keluar. Serangan terjadi di sekeliling kami. Itu mengerikan,” kata Abed Afou, yang bersama keluarganya, termasuk tiga putra berusia 6 hingga 13 tahun dan beberapa kerabat lainnya.
Warga Lebanon tidak tahu harus ke mana mengungsi, tetapi mereka hanya ingin mencapai Beirut. Mereka yang berusaha melindungi ke tempat lebih aman tidak selalu menaiki kendaraan. Ada beberapa yang berjalan kaki sambil membawa barang bawaannya,
Menteri Lebanon yang mengoordinasikan respons krisis, Nasser Yassin, mengatakan bahwa pascaserangan Israel sebanyak 89 pusat penampungan sementara yang dibangun di sekolah dan fasilitas lainnya telah diaktifkan. Kapasitas pengungsian sementara tersebut dapat menampung lebih dari 26.000 orang saat warga sipil melarikan diri dari “kekejaman Israel”.
Serangan Israel ke wilayah Lebanon tak cukup dilakukan dalam satu hari. Militer Israel dilaporkan kembali menyerang puluhan target Hizbullah di Lebanon selatan pada Selasa (24/9/2024). Serangan ini direspons oleh Hizbullah dengan menyerang beberapa target militer Israel, termasuk pabrik bahan peledak sejauh 60 km (37 mil) ke Israel, dengan serangkaian roket Fadi.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, sedikitnya 492 orang tewas, termasuk 35 anak-anak dan 1.645 orang terluka akibat serangan tersebut. Seorang pejabat Lebanon yang enggan disebutkan namanya mengatakan, itu adalah jumlah korban tewas harian tertinggi di Lebanon akibat kekerasan sejak perang sipil 1975-1990.
Konflik Israel dan Hizbullah Memanas Pascaperang di Jalur Gaza
Konflik Israel dengan Hizbullah semakin meningkat sejak meledaknya perang di jalur Gaza pada Oktober 2023. Israel bahkan memperingatkan masyarakat sipil Lebanon untuk mengungsi dari daerah-daerah yang menjadi tempat penyimpanan senjata Hizbullah.
Setelah hampir setahun berperang melawan Hamas di Gaza di perbatasan selatannya, Israel mengalihkan fokusnya ke perbatasan utara, tempat Hizbullah yang menembakkan roket ke Israel untuk mendukung Hamas, yang juga didukung oleh Iran.
Reaksi Negara-Negara di Dunia atas Serangan Israel ke Lebanon
Sejumlah pemerintah negara-negara di dunia telah merespons serangan Israel ke Lebanon. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas serangan besar Israel ke Lebanon.
“Saya telah meminta agar diadakan pertemuan darurat Dewan Keamanan mengenai Lebanon minggu ini. Mendesak semua pihak untuk menghindari pertikaian regional yang akan menghancurkan semua orang,” kata Barrot kepada Majelis Umum PBB, Senin.
Pemerintah Mesir juga mendesak Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turun tangan menghentikan eskalasi berbahaya Israel di Lebanon. Mesir menyatakan berada di barisan Lebanon dan mengecam setiap pelanggaran kedaulatan di wilayah Lebanon.
Sementara, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani menyerukan pertemuan mendesak para pemimpin Arab di New York, di sela-sela Sidang Umum PBB. Pertemuan tersebut untuk meninjau dampak agresi Zionis terhadap warga Lebanon Lebanon dan berupaya menghentikan perilaku kriminal.
Penulis: Mustami


