Skandal seks yang melibatkan guru Bahasa Indonesia dengan siswinya terjadi di Gorontalo. Tak perlu menunggu lama, berita soal hubungan terlarang ini viral usai rekaman videonya menyebar di internet. Segala macam komentar netizen bertebaran. Kebanyakan mereka menyoroti perbedaan usia keduanya. Seorang kakek-kakek dan korbannya yang masih berstatus pelajar di sekolah menengah.
Padahal mereka orang biasa. Bukan artis, seleb, politikus, public figure atau pembuat kebijakan. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan skandal seks, tampaknya netizen cukup sigap dan kompak.
Tidak hanya skandal seks guru dan siswa di Gorontalo, ada beberapa skandal seks yang pernah menjadi bahasan publik, salah satunya yang dilakukan Hasyim As’yari yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU). Akibat skandal seks itu, ia dicopot jabatanya.
Sejak ratusan tahun lalu hal-hal yang dianggap tabu, misalnya soal seks selalu menarik perhatian publik. Menurut Heri Priyatmoko, sejarawan, semakin tabu, semakin menarik dan menantang untuk diobrolkan. Karena topik itu terasa spesial, jarang terungkap di masyarakat.
Masih menurut Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma ini, hal itu berangkat dari tradisi rasan-rasan yang kental dalam kehidupan netizen. Topik yang tabu memang bak candu yang nikmat untuk diobrolkan secara kasak-kusuk. Dulu dengan pola komunikasi getok tular, informasi tentang seks gampang tersebar luas.
Di era digital ini, informasi menyebar begitu cepat melalui berbagai platform media sosial. Informasi ini juga mampu menjangkau audiens yang sangat luas dalam hitungan detik. Jari-jari netizen Indonesia begitu terampil untuk membagikan info ke berbagai akun sosial media seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan TikTok.
Tampaknya ia ingin menjadi orang pertama yang membagikan informasi yang dianggapnya A1. Padahal pasti si penerima pasti sudah mendapatkannya lebih dulu. Apalagi konten-konten yang membangkitkan emosional, terutama yang menyentuh emosi. Kadang mereka tidak mempertimbangkan apakah konten itu layak diposting, apakah waktunya tepat dan apakah bermanfaat dan menginspirasi?
Ada lagi beberapa alasan lain kenapa netizen gemar menyebarkan kontern soal skandal seks,
Kesenangan Melihat Kejatuhan Orang Lain
Salah satu alasan utama penyebaran video skandal seks adalah fenomena yang disebut Schadenfreude, yaitu rasa senang yang dirasakan ketika melihat orang lain jatuh atau mengalami penderitaan.
Skandal seks, terutama yang melibatkan tokoh publik atau selebriti, kerap menjadi “hiburan” karena memperlihatkan seseorang yang sebelumnya dipandang tinggi mengalami kejatuhan moral.
Orang cenderung merasa puas karena melihat figur yang dianggap sukses dan berpengaruh ternyata sama rentannya dengan orang biasa terhadap skandal yang memalukan .
Sebagai contoh, skandal seks Bill Clinton dan Monica Lewinsky pada akhir 1990-an menjadi perhatian dunia. Meskipun skandal ini melibatkan pejabat tertinggi di Amerika Serikat, netizen global merasa tertarik untuk terus mengikuti dan menyebarkan berita tersebut.
Bagi banyak orang, melihat seorang presiden yang tampak kuat dan berkuasa terjerat dalam skandal memberikan rasa kesenangan, bahkan di tengah ketidakpastian politik yang dihadapinya .
Kepo
Skandal seks memiliki elemen tabu, yang mendorong rasa ingin tahu alias kepo netizen Seks adalah aspek pribadi yang jarang dibicarakan secara terbuka, sehingga ketika ada hal-hal yang terekspos ke publik, orang cenderung ingin tahu lebih banyak.
Rasa ingin tahu ini juga diperparah oleh media yang kerap memberikan detail-detail sensasional, sehingga membuat netizen merasa terdorong untuk menyebarkannya lebih jauh.
Sebagai contoh, skandal penyanyi Korea Selatan Jung Joon-young yang terlibat dalam penyebaran video-video seks tanpa persetujuan pasangan wanitanya memicu respons besar dari publik di berbagai negara.
Video-video tersebut dibagikan tanpa kendali di berbagai platform, mendorong keingintahuan netizen tentang detail kasus tersebut. Kasus ini memperlihatkan bagaimana rasa ingin tahu netizen bisa menjadi pemicu utama penyebaran informasi terkait skandal seks .
Konformitas Sosial
Sosial media menciptakan sebuah ekosistem di mana orang merasa tertekan untuk mengikuti tren dan berpartisipasi dalam diskusi yang sedang hangat dibicarakan. Fenomena ini disebut konformitas sosial.
Saat skandal seks menjadi topik hangat, banyak orang merasa perlu untuk turut serta menyebarkan berita atau memberi komentar, meskipun mereka secara pribadi mungkin tidak peduli atau tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai skandal tersebut.
Di era digital, fenomena ini sangat terlihat jelas pada penyebaran berita selebriti seperti saat skandal seks Tiger Woods mencuat pada tahun 2009. Meski banyak dari penggemar golf dan netizen umum tidak memiliki hubungan langsung dengan Woods, mereka tetap merasa terlibat dengan membagikan berita dan menyebarkan opini mereka di media sosial
Merasa lebih Bermoral
Banyak orang yang merasa bahwa dengan menyebarkan atau berkomentar tentang skandal seks, mereka sedang menjalankan “tugas moral” untuk menghakimi atau memperingatkan orang lain tentang konsekuensi dari perilaku amoral.
Fenomena ini sering kali terjadi pada skandal yang melibatkan tokoh publik atau figur yang diharapkan menjadi teladan moral, seperti pemuka agama, politisi, atau pemimpin netizen.
Sebagai contoh, ketika seorang politisi terlibat dalam skandal seks netizen merasa seolah-olah kepercayaan mereka telah dikhianati. Skandal tersebut sering kali mendapatkan respons emosional yang sangat tinggi karena netizen melihat politisi tersebut telah melanggar standar moral yang lebih tinggi daripada orang biasa.
Kasus politisi Anthony Weiner, yang terlibat dalam skandal sexting dengan gadis berusia 15 tahun di Amerika Serikat, memicu gelombang kecaman moral yang besar dari publik karena dianggap merusak kepercayaan netizen .
Budaya Gosip
Skandal seks juga sering kali menjadi topik gosip yang menarik perhatian netizen. Gosip sudah lama menjadi cara bagi manusia untuk menjalin koneksi sosial dan mempererat hubungan.
Dengan membicarakan topik yang menarik, termasuk skandal seksual, netizen merasa lebih akrab dengan sesama. Dalam konteks ini, media, terutama media sosial, juga memanfaatkan tren gossip untuk mendapatkan klik, viewer, dan engagement yang tinggi.
Media sering kali tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga menambah bumbu sensasional agar cerita tersebut menarik lebih banyak audiens. Judul-judul berita yang provokatif dan menggoda dirancang untuk menarik perhatian dan membuat orang tertarik untuk berbagi berita tersebut. Ini menciptakan siklus di mana gossip dan skandal terus menerus dibicarakan dan disebarkan.
Sebagai contoh, dalam kasus skandal seks mantan bintang K-pop Seungri, media di Korea Selatan dan internasional tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga terus menyebarkan berita yang dipenuhi spekulasi, bahkan setelah proses hukum berjalan. Hal ini memperburuk citra publik pelaku dan memicu perbincangan yang tidak henti-hentinya di media sosial .
Netizen yang menyebarkan skandal seksual adalah fenomena yang kompleks, didorong oleh keingintahuan, rasa moralitas kolektif, hingga kesenangan melihat orang lain jatuh. Di era digital yang serba cepat ini, peran media dan tekanan sosial turut mempercepat penyebaran skandal ini, sehingga memberikan tantangan dalam menjaga privasi dan menghormati hak individu.
Kita perlu lebih bijak dalam memproses dan menyebarkan informasi, terutama yang terkait dengan skandal yang sangat pribadi dan sensitif


