Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke Israel pada Selasa (1/10/2024) waktu setempat. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan, serangan rudal yang menghujani Israel itu membuat sirene meraung-raung di seluruh negeri.
Melansir laman NBC News, Rabu (2/10/2024), api oranye menerangi langit Israel ketika kru NBC News di Tel Aviv dan di seberang perbatasan di Tyre, Lebanon. Ratusan rudal ditembakkan. Garis cahaya yang lebih kecil juga terlihat dan tampaknya berasal dari sistem pertahanan udara Israel yang tengah mencoba menangkal serangan tersebut.
Ledakan juga terdengar dalam video yang direkam oleh NBC News, namun tidak jelas apakah suara tersebut berasal dari benturan rudal di udara atau dari rudal Iran yang mendarat di Israel.
Iran menyatakan, pihaknya mengakhiri serangan itu sekitar satu jam setelah IDF pertama kali memberi peringatan adanya rudal telah ditembakkan.
IDF menyatakan, ada sekitar 180 rudal ditembakkan ke wilayah Israel. Hingga saat ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Meski begitu, layanan darurat Israel mengatakan pihaknya telah merawat dua orang yang mengalami luka ringan akibat pecahan peluru.
Para petinggi Amerika Serikat (AS) telah memberi peringatan sehari sebelum serangan terjadi. Seorang pejabat senior Gedung Putih dan seorang pejabat Departemen Pertahanan, menyatakan Iran sedang mempersiapkan serangan rudal balistik dengan Israel sebagai targetnya.
Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan Presiden Joe Biden telah memberi wewenang kepada militer AS untuk membantu pertahanan Israel terhadap serangan Iran dan untuk menembak jatuh rudal yang menargetkan Israel. Dikonfirmasi pejabat terkait, Yordania juga mengizinkan pasukan AS terbang di atas wilayah udaranya untuk menembak jatuh rudal Iran.
Serangan tersebut menyusul serangan Israel yang kian meluas di Lebanon, termasuk pembunuhan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan invasi darat ke wilayah selatan negara itu.
“Amerika Serikat mempunyai indikasi bahwa Iran sedang bersiap untuk segera melancarkan serangan rudal balistik terhadap Israel. Kami secara aktif mendukung persiapan pertahanan untuk membela Israel dari serangan ini. Serangan militer langsung dari Iran terhadap Israel akan membawa konsekuensi yang parah bagi Iran,” terang seorang pejabat di Gedung Putih.
Iran diperkirakan menargetkan situs militer dan pemerintah, tapi tidak pada warga sipil.
Serangan ini dipredikisi akan melibatkan lebih banyak senjata dibandingkan serangan Iran terhadap Israel pada April tahun ini. Saat itu ratusan drone butuh waktu berjam-jam untuk mendarat di Israel, diikuti dengan beberapa rudal balistik.
Serangan rudal balistik kali ini disebut akan berjumlah lebih banyak. Hal itu ditujukan untuk menghancurkan pertahanan udara Israel.
Para pejabat AS telah mengantisipasi serangan Iran menyusul aksi Israel menyasar para pimpinan Hizbullah pekan lalu. Itu bisa dibilang sebagai pukulan telak terhadap Iran.
Juru bicara Gedung Putih Emilie Simons mengatakan dalam postingan di X, Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris telah bertemu dengan tim keamanan nasional mengenai ancaman serangan tersebut.
“Mereka meninjau status persiapan AS untuk membantu Israel mempertahankan diri dari serangan dan melindungi personel AS,” kata Simons.
Iran sebenarnya telah memberi isyarat kepada AS bahwa pihaknya masih tidak menginginkan perang yang lebih luas.
Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, saat berkunjung ke New York untuk menghadiri Majelis Umum PBB pekan lalu mengatakan, Iran ingin hidup damai, dan menekankan rezim Islam tidak bermaksud berperang dengan Israel.
Penulis: Amelie Fabiola


