Di tengah hamparan hijau pepohonan yang menjulang di Desa Kaitetu, Maluku, berdiri sebuah bangunan sederhana yang penuh cerita, Masjid Wapauwe. Bukan hanya sebuah tempat ibadah, masjid ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang telah berlangsung lebih dari lima abad.
Berdiri tegak di antara reruntuhan gereja tua dan benteng peninggalan kolonial, Masjid Wapauwe membawa kita kembali ke masa lalu, menelusuri jejak perjuangan dan keajaiban yang terjadi di Tanah Hitu.
Dikutip dari sejumlah sumber, awalnya, Masjid Wapauwe bernama Masjid Wawane, yang didirikan oleh Perdana Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo, pada tahun 1400 Masehi. Dibangun di lereng Gunung Wawane, masjid ini menjadi pusat penyebaran Islam di lima negeri sekitar pegunungan Wawane.
Namun, kedamaian masyarakat Muslim di wilayah ini terganggu ketika Belanda tiba pada tahun 1580, menyusul Portugis yang lebih dulu menjejakkan kaki di Tanah Hitu pada 1512.
Akibat gangguan dari pihak kolonial, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala. Belum selesai sampai di situ, pada tahun 1646, Belanda berhasil menguasai seluruh Tanah Hitu, memaksa penduduk termasuk masyarakat Tehala untuk pindah ke daerah pesisir.
Masjid pun mengalami perpindahan kembali, kali ini ke lokasi yang kini dikenal sebagai Kaitetu.
Menurut cerita rakyat setempat, perpindahan masjid ke Kaitetu bukanlah hal biasa. Warga percaya bahwa masjid tersebut berpindah secara gaib pada suatu malam, ditemukan keesokan paginya sudah berada di tengah-tengah pemukiman baru di Teon Samaiha. Kisah mistis ini hingga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari legenda Masjid Wapauwe.
Peninggalan Bersejarah, Mushaf Tertua di Indonesia

Salah satu peninggalan paling berharga dari masjid ini adalah dua mushaf Al-Qur’an kuno yang ditulis tangan.
Mushaf pertama ditulis oleh Imam Muhammad Arikulapessy pada tahun 1550, menjadikannya salah satu yang tertua di Indonesia.
Mushaf lainnya, yang ditulis oleh cucu Imam Muhammad Nur Cahya, selesai pada tahun 1590. Kedua mushaf ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal pada tahun 1991 dan 1995, menarik perhatian para pecinta sejarah dan agama.
Tidak hanya Al-Qur’an, manuskrip lainnya seperti kitab Barzanzi dan naskah khutbah Jumat pertama tahun 1661 juga masih tersimpan rapi di rumah pusaka Marga Hatuwe.
Keberadaan manuskrip-manuskrip ini menjadi bukti kekayaan intelektual Islam di Maluku sejak ratusan tahun lalu.
Arsitektur Sederhana Sarat Nilai
Meski mengalami perpindahan dan beberapa kali renovasi, bangunan inti Masjid Wapauwe tetap mempertahankan bentuk aslinya.
Masjid ini berukuran kecil, hanya 10 x 10 meter, dengan konstruksi yang sepenuhnya terbuat dari bahan alami seperti gaba-gaba (pelepah sagu kering) dan atap dari daun rumbia. Yang membuat bangunan ini unik adalah seluruh sambungan kayunya dirancang tanpa menggunakan paku atau pasak kayu, sebuah teknik konstruksi tradisional yang masih lestari hingga kini.
Masjid ini mengalami renovasi besar pada tahun 1464 dan beberapa perbaikan sekunder setelah Indonesia merdeka. Meski begitu, bentuk asli masjid tetap terjaga. Masjid Wapauwe hingga kini masih digunakan sebagai tempat sholat Jumat dan sholat lima waktu oleh masyarakat Kaitetu.
Keindahan Perjalanan Menuju Masjid

Perjalanan menuju Masjid Wapauwe dari Kota Ambon memakan waktu sekitar satu jam melalui jalur darat. Jalanan yang berkelok-kelok melalui pegunungan hijau, lengkap dengan pemandangan tanaman cengkeh dan pala yang menyejukkan mata, memberikan pengalaman tak terlupakan bagi siapa pun yang berkunjung.
Di ujung perjalanan, pengunjung akan disambut oleh panorama pesisir pantai utara Pulau Ambon yang mempesona, dengan laut tenang dan hamparan pohon kelapa serta bakau.
Sesampainya di Kaitetu, Masjid Wapauwe berdiri anggun di tengah desa, dikelilingi oleh jejak-jejak sejarah lainnya seperti benteng New Amsterdam dan gereja tua yang menjadi saksi bisu konflik agama di masa lalu.
Masjid Wapauwe bukan hanya peninggalan fisik dari masa lalu, tetapi juga menjadi simbol kekuatan iman dan persatuan masyarakat Muslim di Maluku. Meski telah melalui berbagai rintangan, masjid ini tetap kokoh berdiri, melestarikan tradisi dan warisan budaya Islam di Indonesia. Bagi siapa pun yang mengunjungi, Masjid Wapauwe adalah pintu gerbang untuk memahami lebih dalam sejarah dan kekayaan budaya Maluku, serta perjuangan yang tak pernah usai.
Warisan arsitektur dan manuskrip kuno yang tersimpan di sini adalah harta yang tak ternilai, mengingatkan kita bahwa di balik bangunan sederhana itu, tersimpan kisah besar yang terus hidup hingga kini.
Penulis: Purba Handayaningrat


