Sebagai penjual di lapak-lapak online saya sering menemui calon pembeli yang membuat geram, sekaligus miris. Masih ada beberapa aksi pembeli yang di luar nalar. Mereka masih menanyakan berapa harganya, apakah barang ini masih tersedia, pengiriman dari mana, apakah bisa COD ( Cash on Delivery)? Padahal sebenarnya informasi yang dia butuhkan sudah disediakan lengkap, tinggal baca melalui ponsel mereka yang smart.
Hanya saja kebanyakan mereka tidak mau atau malas. Atau tidak tahu?
Keengganan membaca itu juga nampak di video-video yang beredar di Tiktok. Salah satunya video menampakan adegan tanya jawab kuis dengan pertanyaan sederhana. Soal hafalan sila-sila Pancasila, soal nama-nama ibu kota propinsi atau pengetahuan mendasar level sekolah dasar atau menengah.
Awalnya konten-konten itu saya kira dibuat hanya “demi konten”, sebatas buat bercandaan, mirip adegan komedi. Hasilnya sungguh tidak masuk akal, mereka tidak bisa menjawab hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan umum itu.
Ngeri kan? Di tengah banjir informasi ini tingkat literasi mereka masih rendah. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan memverifikasi informasi yang diterima. Rendahnya literasi di era digital dapat membawa dampak serius bagi netizen.
Apalagi di era Artificial intelligence (AI) sekarang ini yang perkembangannya sangat cepat. Jika tantangan ini tidak teratasi, bisa dibayangkan mereka akan semakin jauh tertinggal. Mereka hanya menjadi penonton, tidak bisa berpartisipasi sama sekali.
Hari ini masih banyak yang belum mengetahui bahwa dengan teknologi AI kita bisa membuat artikel, novel, ilustrasi, foto, video hanya dengan perintah-perintah atau prompt. Waktu yang dibutuhkan juga sangat jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan dikerjakan secara manual seperti sebelumnya.
Kemampuan Dasar
Kata CEO OpenAI, Sam Altman, “Teknologi AI akan mengubah setiap aspek kehidupan manusia, dan masyarakat yang tidak paham bagaimana AI bekerja akan kehilangan kendali atas masa depan mereka.”
Untuk itu, idealnya kita semua, netizen mempunyai kemampuan dasar tentang teknologi AI, bagaimana AI bekerja, apa saja implikasi etisnya, dan bagaimana kita bisa melindungi diri dari bahaya teknologi ini.
Netizen juga harus mempunyai kesadaran penuh soal privasi dan keamanan data pribadi, mampu membedakan fakta dan disinformasi. Rendahnya tingkat literasi, bisa mengancam kehidupan kita sehari-hari.
Salah satu ancaman paling besar adalah kemudahan manipulasi informasi. Dengan kecerdasan buatan, kini konten palsu seperti deepfake (video yang dimanipulasi dengan AI untuk terlihat seperti asli) semakin sulit dibedakan dari konten asli.
Di tengah masyarakat yang tidak memiliki literasi digital yang memadai, penyebaran disinformasi bisa sangat merusak. Pada 2020, MIT Technology Review melaporkan bahwa konten deepfake di internet meningkat hampir dua kali lipat setiap enam bulan.
Fenomena ini membuktikan bahwa rendahnya literasi terhadap AI memungkinkan kelompok-kelompok tertentu memanfaatkan teknologi untuk mempengaruhi hasil politik dengan cara yang tidak transparan dan tidak adil.
Sektor Pekerjaan
Otomatisasi yang didorong oleh AI juga mengancam sektor pekerjaan, terutama bagi pekerja yang tidak memiliki keterampilan teknologi atau literasi digital yang memadai.
Menurut laporan dari McKinsey Global Institute, sekitar 375 juta pekerjaan di seluruh dunia akan digantikan oleh otomatisasi dan AI pada tahun 2030. Di Indonesia, sektor manufaktur dan jasa yang mendominasi lapangan kerja akan sangat terdampak oleh perkembangan teknologi ini.
Pekerjaan yang membutuhkan keterampilan rendah atau berulang, seperti operator pabrik atau kasir, paling rentan tergantikan oleh mesin. Mereka yang memiliki literasi digital rendah akan sulit untuk beradaptasi dan mencari pekerjaan baru di era digital.
Akibatnya, kesenjangan ekonomi antara mereka yang menguasai teknologi dan yang tidak akan semakin melebar. Mereka yang tidak siap akan tertinggal jauh, sementara segelintir orang yang mengerti dan bisa mengendalikan AI akan semakin dominan.
Menurut Kai-Fu Lee, seorang ahli AI dan investor teknologi terkenal, “Kita akan melihat dampak besar AI pada ketenagakerjaan di masa depan. Mereka yang tidak memiliki literasi digital atau keterampilan baru akan menjadi korban utama revolusi teknologi ini.”
Bias Informasi
Bahaya lain yang sering diabaikan dari rendahnya literasi AI adalah bias algoritma. Banyak orang berasumsi bahwa mesin atau AI bersifat netral.
Padahal kenyataannya, AI dikembangkan berdasarkan data yang sudah ada, yang sering kali penuh dengan bias, baik itu bias rasial, gender, atau ekonomi.
Jika masyarakat tidak memahami bagaimana bias ini terbentuk, mereka akan menerima hasil dari algoritma AI tanpa pertanyaan, meskipun hasil tersebut bisa sangat merugikan.
Sebuah studi dari MIT Media Lab menemukan, sistem pengenalan wajah yang dikembangkan oleh beberapa perusahaan besar lebih sering salah mengidentifikasi orang berkulit hitam dan Asia daripada orang berkulit putih.
Kesalahan ini bisa berdampak fatal jika digunakan dalam sistem keamanan atau penegakan hukum, seperti yang telah terjadi di beberapa negara.
Tanpa literasi yang memadai, masyarakat tidak akan memiliki kemampuan untuk menuntut transparansi dan akuntabilitas dari pengembang AI.
AI juga memungkinkan pengawasan dan kontrol massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di beberapa negara, AI telah digunakan untuk memantau populasi secara real-time, dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah dan pemrosesan data besar-besaran.
Di Xinjiang, China, misalnya, AI digunakan untuk mengawasi aktivitas jutaan warga Uighur, dengan alasan menjaga stabilitas keamanan. Sistem ini mampu melacak pergerakan dan perilaku warga secara rinci, menciptakan atmosfer ketakutan dan kehilangan privasi.
Di masyarakat yang tidak memahami cara kerja AI atau tidak memiliki literasi digital, teknologi ini bisa digunakan oleh pihak-pihak berkuasa untuk menindas atau membungkam oposisi.
Orang-orang yang tidak paham akan teknologi ini tidak akan memiliki alat untuk melawan atau memprotes pelanggaran hak asasi mereka, karena mereka tidak tahu sejauh mana teknologi digunakan untuk mengontrol kehidupan mereka.
Ketergantungan
Satu lagi ancaman yang tidak bisa diabaikan adalah ketergantungan yang semakin meningkat pada sistem AI tanpa pemahaman yang memadai. Dalam dunia di mana AI semakin mendominasi keputusan penting – mulai dari diagnosis medis hingga evaluasi kredit – masyarakat yang tidak memiliki literasi digital akan cenderung menerima keputusan AI tanpa mempertanyakan validitas atau keadilannya.
Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, mengatakan, “Dengan AI, kita memanggil setan.” Pernyataan ini menggambarkan ketakutan bahwa AI bisa berkembang menjadi sesuatu yang di luar kendali kita, terutama jika masyarakat tidak memiliki pengetahuan untuk memahaminya.
Ketergantungan yang berlebihan pada AI tanpa pemahaman yang memadai akan membuat netizen rentan terhadap keputusan yang tidak etis, salah, atau bahkan merugikan secara ekonomi maupun sosial.
Jadi rendahnya literasi di era AI tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga masalah sosial yang serius. Dalam dunia di mana AI semakin mendominasi, masyarakat yang tidak memiliki literasi memadai akan kehilangan kendali atas hidup mereka, pekerjaan mereka, dan bahkan privasi mereka.
Tanpa tindakan cepat untuk meningkatkan literasi, kita sedang menuju masa depan yang semakin dikendalikan oleh teknologi yang tidak kita pahami dan di mana kekuatan terbesar ada di tangan segelintir orang yang menguasai teknologi tersebut.


