Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, masyarakat adat di Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi oase ketahanan pangan yang patut dicontoh.
Secara administratif, Kampung Ciptagelar berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Dengan cadangan makanan yang diperkirakan mampu bertahan hingga 95 tahun, komunitas adat tidak hanya menunjukkan keberlanjutan dalam pertanian, tetapi juga membuktikan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di era yang serba cepat ini.
Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar menerapkan sistem pertanian yang mengedepankan kearifan lokal dan tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Masyarakat di sini enggan menggunakan pupuk kimia atau pestisida, memilih untuk mengandalkan metode alami dalam menjaga kesuburan tanah.
Mereka memiliki filosofi bahwa padi adalah “ibu,” yang harus diperlakukan dengan penuh penghormatan. Dengan demikian, panen padi dilakukan hanya sekali setahun, menjaga tanaman agar tetap dalam fitrahnya.
Kearifan ini telah membuahkan hasil, di mana desa ini tidak pernah mengalami gagal panen dalam 650 tahun terakhir. Tak tanggung, warga setempat bahkan memanfaatkan rasi bintang untuk menentukan waktu optimal dalam menanam dan memanen padi.
Cadangan Pangan nan Melimpah

Salah satu aspek menarik dari Desa Ciptagelar adalah lumbung padi yang dimiliki setiap keluarga. Lumbung ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga simbol kemandirian pangan.
Dengan teknik penyimpanan tradisional yang menjaga kualitas dan keawetan padi, cadangan makanan yang dimiliki oleh desa ini dapat bertahan hingga 95 tahun.
Dengan cadangan yang melimpah, masyarakat Ciptagelar dapat menghadapi berbagai tantangan dan situasi darurat tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar.
Hal ini menjadi jaminan bagi generasi mendatang untuk tetap memiliki akses terhadap pangan yang cukup.
Harmoni dengan Alam dan Budaya

Daya tarik lain dari Desa Ciptagelar adalah komitmennya untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Dapur bersama yang selalu menyala 24 jam sehari tidak hanya digunakan untuk memasak, tetapi juga menjadi simbol kehidupan yang berkelanjutan.
Kayu bakar yang digunakan diambil dari hutan sekitar secara hati-hati, memastikan tidak ada penebangan liar yang merusak ekosistem.
Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan hasil hutan non-kayu untuk memenuhi kebutuhan energi. Semua praktik ini menegaskan pentingnya pelestarian alam dalam menjaga kemandirian pangan.
Dengan tradisi dan nilai-nilai leluhur yang masih dijunjung tinggi, Desa Kasepuhan Ciptagelar berfungsi sebagai contoh nyata bagaimana tradisi dapat berkontribusi dalam menciptakan keberlanjutan dan ketahanan pangan.
Dengan semua keunikan dan kearifan yang dimiliki, Desa Ciptagelar bukan hanya menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mengembangkan model ketahanan pangan yang berkelanjutan dan harmonis dengan alam.
Bisakah model ini diterapkan di desa lain? Tentu, dengan mengadopsi prinsip-prinsip yang telah terbukti efektif di Desa Ciptagelar, desa lain di seluruh Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat kemandirian pangan dan melestarikan lingkungan. Ada kemauan?
Penulis: Purba Handayaningrat


