Acara Haul Solo dalam rangka memperingati wafatnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi digelar dari Minggu hingga Kamis, 20-24 Oktober 2024 mendatang. Acara ini tidak hanya menjadi momen penting dalam kalender keagamaan di Indonesia, tetapi juga menjadi kesempatan bagi banyak jemaah untuk mengekspresikan rindu dan doa bagi sosok Habib Ali yang sangat berpengaruh dalam sejarah dakwah Islam.
Haul merupakan peringatan hari kematian atau ulang tahun wafatnya seseorang, dan umumnya ditujukan untuk sosok yang memiliki pengaruh signifikan, seperti ulama dan kiai.
Pertama kali dicetuskan oleh cucu Habib Ali setelah wafatnya sang ulama, acara haul ini bertujuan untuk meneruskan perjuangan dakwah yang telah dimulai oleh Habib Ali.
Salah satu tokoh kunci dalam acara Haul Habib Ali Solos ini adalah Habib Alwi, yang hijrah ke Indonesia untuk melanjutkan perjuangan dakwah keluarga. Habib Alwi adalah ayah dari Habib Anis, seorang ulama terkemuka yang lahir pada 5 Mei 1928 di Garut, Jawa Barat.
Dididik oleh sang ayah, Habib Anis tumbuh menjadi sosok yang alim dan istiqamah dalam berbagai kebaikan. Ia adalah orang pertama yang mencetuskan acara haul di Solo, yang dilaksanakan di Masjid Riyadh.
Acara haul ke-113 Habib Ali Solo ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat iman dan ukhuwah Islamiyah. Di tengah ramainya jamaah yang hadir, diadakan berbagai kegiatan seperti ceramah, kajian kitab, dan doa bersama, menciptakan suasana religius yang penuh harapan dan rindu kepada sosok Habib Ali.
Puncak Acara dan Tradisi yang Berlanjut
Tahun ini, rangkaian acara Haul Solo dimulai pada Minggu, 20 Oktober, dengan berbagai kegiatan keagamaan, dan puncaknya akan berlangsung pada Rabu, 23 Oktober 2024, di Masjid Riyadh, Solo.
Di hari puncak ini, jamaah akan berkumpul untuk melantunkan sholawat dan mengadakan doa bersama, mengingat jasa-jasa Habib Ali yang telah menginspirasi banyak orang. Sebagai bagian dari tradisi, acara haul ini akan ditutup dengan perayaan Maulid pada Kamis, 24 Oktober, yang dimulai setelah sholat Subuh.
Di kompleks Masjid Ar Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, bisa ditemukan tiga makam keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Keberadaan makam ini menjadi pengingat akan warisan dakwah yang terus menginspirasi generasi berikutnya, serta tempat bagi jamaah untuk mengirimkan doa dan rindu bagi para ulama yang telah pergi.
Mengenal Habib Ali, Pencipta Kitab Simtudduror
Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi lahir pada 24 Syawal 1259 Hijriah di Desa Qasam, Hadramaut, Yaman. Ayahnya, Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi, dan ibunya, Hababah Alawiyah, merupakan sosok yang juga memiliki latar belakang keagamaan yang kuat.
Nasab atau garis keturunan Habib Ali bersambung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Husein.
Salah satu karya terkenal Habib Ali adalah Kitab Maulid Simtudduror, yang berisi sejarah dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW. Buku ini sangat populer di kalangan umat Islam, terutama di Indonesia, dan sering dibaca dalam majelis-majelis Maulid. Selama hidupnya, Habib Ali dikenal sebagai sosok yang dermawan dan berakhlak mulia, mengabdikan hidupnya untuk dakwah dan memberikan kemaslahatan bagi umat Islam.
Acara haul ini menjadi momen refleksi bagi umat Islam, mengenang jasa dan pengorbanan Habib Ali serta memperkuat tali silaturahmi di antara jamaah. Dalam semangat ukhuwah dan persatuan, diharapkan acara haul ini dapat membawa berkah dan menjadi inspirasi bagi umat untuk terus berjuang di jalan kebaikan, dengan doa dan rindu yang tak pernah padam untuk sosok yang telah memberikan banyak makna dalam hidup mereka
Penulis: Purba Handayaningrat


