Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, tak kuasa menahan air matanya saat mengingat hujatan yang dialamatkan kepada putrinya, Bebingah Sang Tansahayu. Momen ini terjadi dalam episode ke-79 Podcast Depan Pintu, yang tayang pada Jumat, 18 Oktober 2024.
Kaesang mengaku hatinya tersayat saat hujatan yang semula ditujukan kepadanya dan sang istri, Erina Gudono, merembet kepada anak mereka yang baru lahir.
Dalam podcast tersebut, komedian Nunung hadir sebagai bintang tamu dan berbicara dengan empati tentang bagaimana hujatan di media sosial bisa sangat menyakitkan, terutama bagi orang tua.
Nunung, yang memiliki naluri keibuan yang kuat, menyatakan simpatinya terhadap Kaesang dan keluarganya. “Naluri aku sebagai seorang ibu, bagaimana kalau itu anakku. Pada saat lagi hamil, kenapa sih fisik yang dihajar?” katanya.
Mendengar pernyataan tersebut, Kaesang yang biasanya terlihat tenang dan kuat dalam menghadapi kritik, akhirnya tak kuasa menahan emosinya. Dia mengungkapkan bahwa meskipun terbiasa menerima hujatan terhadap dirinya dan istrinya, hatinya hancur ketika anaknya yang tak berdosa ikut menjadi korban.
Tekanan Sosial Media, “Saya Tak Kuat Ketika Anakku Dihujat”
Kaesang mengakui bahwa dirinya telah terbiasa menghadapi berbagai hujatan netizen sejak terjun ke dunia politik dan menjadi sorotan publik. “Kalau menghujat saya atau Erina, saya masih bisa tahan. Tapi pas ada yang doain jelek buat bayi saya, saya merasa tidak kuat waktu itu,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Dalam percakapan tersebut, Kaesang mengakui bahwa menjadi figur publik memiliki konsekuensi besar, termasuk seringnya menjadi sasaran kritik. Namun, dia merasa bahwa anaknya yang baru lahir tidak seharusnya diseret ke dalam badai kritik dan hinaan yang sering dilontarkan netizen.
“Saya tidak habis pikir kenapa ada orang yang tega menghujat bayi saya, yang bahkan belum bisa berbuat apa-apa,” tambahnya sambil menyeka air mata dengan tisu.
Isu ini bermula ketika netizen mulai menyerang Erina Gudono, istri Kaesang, yang kerap membagikan gaya hidup mewah di media sosial. Salah satu momen yang menjadi bahan kritik adalah ketika Erina menikmati sushi dalam format omakase setelah melahirkan putrinya.
Namun, kritik terhadap gaya hidup tersebut kemudian berkembang menjadi hujatan yang lebih personal, tidak hanya menyerang pasangan tersebut, tetapi juga menyasar anak mereka, bahkan sebelum putrinya dilahirkan.
Figur Publik dan Batas-Batas Kritik Netizen
Kaesang yang dikenal sebagai anak bungsu mantan Presiden RI Joko Widodo, telah lama menjadi sorotan publik, terutama setelah memutuskan terjun ke dunia politik dan memimpin PSI. Popularitasnya di dunia politik dan bisnis, ditambah posisinya sebagai bagian dari keluarga presiden, membuatnya tak lepas dari kritik dan cibiran di media sosial. Namun, kali ini, kritik tersebut telah melewati batas ketika putrinya yang baru lahir menjadi korban.
“Tentu saya tahu risiko menjadi figur publik. Tapi kalau anak saya dihujat seperti itu, saya sebagai orang tua tidak bisa diam saja,” kata Kaesang. Dia juga mengakui bahwa media sosial bisa menjadi ruang yang brutal, terutama bagi keluarga yang harus menerima kritik secara tidak adil. “Ini bukan hanya tentang saya, tapi juga anak saya. Dan itu yang membuat saya tidak kuat.”
Kaesang berharap, masyarakat bisa lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di media sosial. Ia merasa bahwa kritik yang dialamatkan kepada publik figur bisa diterima, selama itu masih dalam batas wajar. Namun, ketika hal tersebut menyentuh wilayah pribadi seperti anak-anak, itu sudah terlalu berlebihan.
“Anak saya tidak berhak menerima perlakuan seperti itu. Dia belum tahu apa-apa, tapi sudah dihujat hanya karena dia adalah anak saya,” tegasnya.
Keberanian Kaesang untuk menunjukkan emosinya di ruang publik memberi pesan penting tentang bagaimana tekanan sebagai figur publik dapat mempengaruhi kehidupan pribadi, termasuk keluarga.
Meskipun kuat di luar, Kaesang menunjukkan bahwa di balik posisinya sebagai pemimpin politik dan pengusaha, ia adalah seorang ayah yang juga merasakan sakit ketika anaknya menjadi sasaran hujatan.
Tantangan Menjadi Figur Publik
Kisah Kaesang ini menjadi gambaran tantangan yang dihadapi oleh figur publik di era digital. Tekanan untuk selalu terlihat sempurna, menerima kritik tajam, dan tetap tampil kuat di hadapan publik merupakan beban besar yang harus ditanggung oleh banyak tokoh.
Hujatan kepada keluarga, terutama anak-anak, sering kali menjadi garis yang tak boleh dilewati. “Saya tahu ada risiko ketika memutuskan menjadi figur publik. Tapi sebagai orangtua, saya punya kewajiban untuk melindungi anak saya,” ungkapnya dengan tegas.
Kejadian ini juga mengingatkan pentingnya etika di media sosial, di mana kebebasan berpendapat harus tetap berada dalam batas-batas kesopanan dan kemanusiaan.
Kisah Kaesang ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat tentang bagaimana kritik dan hujatan bisa berdampak besar, terutama ketika menyangkut hal-hal pribadi seperti keluarga dan anak-anak.
Penulis: Purba Handayaningrat


