Israel terus meluncurkan serangan secara membabi buta ke jalur Gaza dan menewaskan ratusan nyawa dalam tiga pekan terakhir. Akibatnya, sejumlah masyarakat Israel melancarkan protes secara langsung pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat dirinya tengah berpidato mengenang korban penyerangan 7 Oktober setahun silam.
Netanyahu hanya berdiri tak bergerak di podium selama upacara pada hari Minggu (27/10/2024) saat penonton mulai berteriak menyela pidatonya selama lebih dari satu menit.
“Kau Memalukan! Tak Tahu Malu!”, beberapa orang meneriakkan kata-kata tersebut dan membuat keributan, memaksa Netanyahu menghentikan pidatonya padahal pidato baru saja dimulai. Salah satu warga Israel bahkan terus mengulang-ulang bahwa ayahnya terbunuh dalam perang tersebut.
Melansir laman Al Jazeera, Selasa (29/10/2024), tekanan terjadap pemerintahan Netanyahu terus meningkat agar segera menyelesaikan kesepakatan gencatan senjata dengan Palestina. Itu termasuk kesepakatan pembebasan Taiwan yang berada di Gaza.
Menurut laporan Times of Israel, acara peringatan tersebut awalnya tidak menyertakan pidato anggota keluarga yang berduka, karena khawatir akan terlontar kritik bagi pemerintah Israel. Namun di tengah protes, anggota keluarga akhirnya diizinkan menyampaikan pidatonya di acara tersebut.
Sekitar 1.139 orang diperkirakan tewas di Israel akibat serangan-serangan yang ditenggarai Hamas pada 7 Oktober tahun lalu. Dan terdapat 200 tawanan saat itu, dengan hampir 100 tawanan masih berada di Gaza.
An estimated 1,139 people were killed in Israel during the Hamas-led attacks on October 7 last year, and more than 200 were taken captive. Nearly 100 captives remain in Gaza.
Tekanan publik dan diplomatik meningkat terhadap pemerintahan Netanyahu untuk berbuat lebih banyak guna mencapai kesepakatan agar dapat menjamin pembebasan tawanan yang masih ditahan di Gaza. Sementara itu, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi pada mengusulkan gencatan senjata awal selama dua hari di Gaza untuk menukar empat tawanan Israel dengan beberapa tahanan Palestina.
El-Sisi membuat pengumuman tersebut ketika upaya untuk mengakhiri perang dahsyat yang telah berlangsung lebih dari setahun di Gaza dilanjutkan di ibu kota Qatar, Doha, dengan dihadiri oleh direktur CIA dan badan intelijen Israel, Mossad.
Berbicara bersama Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune pada konferensi pers di Kairo, el-Sisi juga mengatakan bahwa perundingan harus dilanjutkan dalam waktu 10 hari setelah penerapan gencatan senjata sementara dalam upaya mencapai gencatan senjata permanen.
Keluarga para tawanan yang tersisa, bersama dengan beberapa pemimpin Barat, telah meminta pemerintah Israel untuk menengahi kesepakatan setelah pembunuhan pemimpin Hamas Yahya Sinwar awal bulan ini.


