Serangan terhadap Najwa Shihab di Medsos, Benarkah Hanya karena Celetukan ‘Nebeng’?

Date:

Intensitas serangan, bullying hingga pembunuhan karakter terhadap Najwa Shihab makin intens akhir-akhir ini. Bahkan, ada pembakaran buku Najwa yang intimidatif.

Serangan ini diduga kuat terkait dengan celetukan ‘nebeng’ yang dialamatkan jurnalis kritis itu terhadap Jokowi. Namun, apabila ditelusuri, serangan terhadap Najwa sebenarnya sudah meningkat sejak beberapa bulan terakhir, terutama setelah ia turut mengunggah “peringatan darurat” yang dianggap menyindir pemerintah.

Dalam platform TikTok, kolom komentar unggahan Najwa kerap diwarnai ujaran rasis dan pelecehan verbal.

Bahkan, bukunya berjudul Catatan Najwa menjadi sasaran amarah. Video pembakaran buku tersebut diunggah oleh akun TikTok tertentu dan memancing diskusi di platform X.

Seorang pengguna akun base di X mengunggah video itu dengan bertanya, “Kenapa buku Najwa sampai dibakar? Apa salahnya?”

Isi buku Catatan Najwa yang kritis terhadap isu politik di Indonesia diyakini sebagai pemicu di balik aksi pembakaran tersebut. Buku ini mengupas berbagai persoalan nasional dengan gaya tegas yang mungkin membuat sebagian pihak merasa tersindir atau tidak nyaman.

Benarkah hanya karena Celetukan ‘Nebeng’?

Istilah “nebeng” kembali mencuat di media sosial setelah ucapan Najwa Shihab tentang perjalanan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai reaksi beragam dari netizen.

Syahdan, dalam siaran langsung pelantikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024, Najwa menyebut bahwa Jokowi “nebeng” pesawat TNI AU saat pulang ke Solo usai acara.

“Gak jadi komersil, sekarang nebeng TNI AU,” kata Najwa Shihab, dikutip pada Rabu (23/10/2024).

Diketahui bahwa pesawat yang membawa Jokowi ke Solo dikawal oleh skuadron TNI AU, yang terdiri dari tiga pesawat T50, empat pesawat tempur F16, dan satu Sukhoi.

Mendengar komentar satir Najwa Shihab, kreator Andovi da Lopez terlihat sedikit panik dan segera mengoreksi pernyataan yang disampaikan oleh anak Quraish Shihab itu.

“Enggak nebeng sih, Mbak Nana. Emang pengantar langsung,” tutur Andovi da Lopez.

Meski celetukan ini segera diluruskan, klip singkat itu menjadi viral dan menyulut berbagai respons, mulai dari kritik tajam hingga dukungan.

Kontroversi “Nebeng” dan Gelombang Kritik terhadap Najwa Shihab

Komentar Najwa tentang “nebeng” dengan cepat mengundang reaksi keras. Netizen membanjiri unggahan terkait dengan kata-kata pedas, mempertanyakan posisi dan pandangannya sebagai jurnalis.

Sejumlah akun menyindir Najwa dengan bahasa kasar yang merendahkan, bahkan ada yang menyerang secara pribadi dengan nada rasis dan pelecehan.

Dikutip dari salah satu akun X menyebut, “Kenapa Najwa lebih banyak ngomong, malah makin banyak salahnya.” Ada pula yang menyeret nama besar keluarganya, menganggap Najwa “tak beradab” meski berasal dari keluarga ulama ternama.

Namun, di sisi lain, banyak juga yang membela Najwa. Netizen yang mendukungnya menilai bahwa kontribusinya dalam jurnalisme kritis sangat berharga, terutama dalam mengawasi para pejabat publik.

Akun @dim**** misalnya, menuliskan, “Kontribusi Najwa adalah kemampuannya membongkar kualitas pejabat lewat wawancara yang tajam.”

Makna ‘Nebeng’ dalam Pandangan Masyarakat

Istilah “nebeng” bukanlah hal baru di Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “nebeng” berarti ikut serta dalam suatu kegiatan tanpa membayar.

Sebelum kontroversi terkait Najwa, istilah ini juga sempat mencuat ketika Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, mengaku “nebeng” pesawat pribadi seorang teman saat perjalanan ke Amerika Serikat.

Konotasi “nebeng” sebagai “ikut tanpa biaya” tampaknya kini menyentuh sensitivitas publik, terutama ketika disematkan dalam konteks pejabat atau figur publik.

Sikap Kritis atau Kebencian yang Berlebihan?

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di kalangan netizen dan pemerhati media sosial. Banyak yang melihat ini sebagai dampak dari kritik tajam Najwa terhadap pemerintah dan tokoh-tokoh publik lainnya.

Sebagian netizen juga mempertanyakan mengapa karakter seorang jurnalis yang terkenal kritis kini malah menjadi sasaran serangan rasis dan personal. Akun @raffimulyaa menulis, “Sejak peringatan darurat, Mbak Najwa sering diserang. Apalagi setelah isu ‘nebeng’. Miris.”

Kontroversi terkait Najwa Shihab dan kata “nebeng” ini menyingkap lapisan-lapisan kompleks dari kebebasan berekspresi, kritik, serta penerimaan masyarakat terhadap pandangan kritis.

Kasus ini juga menjadi refleksi bagaimana peran seorang jurnalis dalam masyarakat tidak terlepas dari pandangan, pujian, maupun kritik keras dari berbagai lapisan masyarakat.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...