Kelompok Relawan Pro Jokowi (Projo) berencana sowan kepada Presiden Prabowo Subianto usai mendapat restu (dipersilakan-red) Joko Widodo terkait rencana menjadi partai baru.
Namun begitu, keputusan jadi atau tidaknya menjadi partai baru akan diputuskan pada Kongres Projo, Desember 2024 mendatang.
Bendahara Umum Projo, Panel Barus mengakui hingga kini masih ada perbedaan pendapat dalam internal ormas tersebut soal akan menjadi partai politik (parpol) atau tidak. Karena itu, keputusan akan diambil dalam kongres berdasar aspirasi dari bawah.
Selain Jokowi yang merupakan Penasihat, Projo juga akan meminta masukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Terlebih, Projo pada Pilpres lalu terlibat secara aktif dan dinilai memiliki kontribusi yang cukup signifikan dalam kemenangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka.
“Tentu Projo juga akan meminta masukan, nasihat, dari Bapak Presiden Prabowo Subianto. Bagimana pun, Projo punya komitmen untuk memastikan pemerintah Bapak Prabowo dan Mas Gibran ini solid dan sukses, sampai akhir periode,” ujar Panel.
Sebelumnya, Jokowi menanggapi langkah relawan Projo setelah dia lengser. Jokowi menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Projo untuk menentukan langkah ke depan.
“Ya terserah Projo,” kata Jokowi ditanya mengenai harapan Projo ke depan jadi parpol atau relawan di Soto Triwindu, Ahad (27/10/2024).
Namun begitu, dia mengaku tak punya pesan apapun untuk Projo. “Nggak, nggak ada,” kata Jokowi, pendek.
Pembuktian Apakah Punya Massa
Rencana Projo menjadi Parpol diapresiasi oleh pengamat politik, Adi Prayitno. Dia justru mendorong organisasi masyarakat itu menjadi partai politik.
“Nah, gitu dong kanda, bikin partai Projo,” kata Adi dalam unggahannya di X, dikutip Selasa (29/10/2024).
Apalagi, kata dia, ambang batas parlemen saat ini sudah turun. Potensi melenggang ke Senayan terbuka. “Treshold parlemen dah turun pasca putusan MK. Potensi lolos parlemen terbuka,” ucap Adi.
Selain itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu juga menyebut dengan berubahnya Projo menjadi partai politik akan menjadi ajang pembuktian. Apakah memang Projo punya banyak massa.
“Ayo buktikan projo banyak pasukannya,” ujarnya.
Uji Pengaruh Jokowi usai Lengser
Rencana Projo berubah menjadi partai sebenarnya telah mengemuka sejak Pilpres 2024. Kala itu, mereka menjadi salah satu kekuatan pemenangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Meski demikian, elite Projo berkali-kali menyatakan belum ada niat menjadi partai politik. Mereka masih menyibukkan diri untuk memenangkan putra sulung Jokowi, Gibran, sebagai wakil presiden.
Belakangan, wacana Projo menjadi partai kembali muncul. Bendahara Umum Projo Panel Barus mengakui ada kemungkinan organisasinya berubah bentuk dan akan diputuskan dalam Kongres Projo Desember mendatang.
Pengamat politik Universitas Andalas Asrinaldi mengatakan rencana ini akan menguji seberapa kuat Projo dan Jokowi usai pergantian presiden.
Projo, kata dia, harus membuktikan apakah basis massanya selama ini betul-betul konkret. Kekuatan Jokowi pascalengser juga akan terukur bila para loyalisnya masuk gelanggang politik.
Menurut dia, Projo akan menghadapi tantangan berat jika benar-benar menjadi partai politik. Pasalnya, banyak partai politik baru tidak bisa menggeser dominasi partai lama.
Dia mencontohkan Perindo yang gagal di dua kali pemilu meski didukung modal finansial dan eksposur media massa yang tinggi. Begitu pula PKPI yang kekuatannya terus meluntur meski punya sosok seperti AM Hendropriyono.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago juga melihat sulitnya Projo bersaing dengan partai lain. Apalagi Projo hadir sebagai partai yang mengusung Jokowi sebagai simbol. Padahal, ada beberapa partai lain, seperti PSI, yang sudah memposisikan diri sebagai pengikut Jokowi.
Selain itu, Projo hanya akan bergantung pada sosok Jokowi. Arifki mengingatkan Jokowi tak lagi sekuat saat masih menjabat presiden.


