
Kekejaman Israel di Gaza, Palestina terus berlanjut. Pada Sabtu (13/7/2024), Israel menyerang kamp pengungsi di Al-Mawasi, Gaza Selatan dan menewaskan setidaknya 90 orang dan 300 orang lainnya luka-luka.
Banyak negara di dunia yang mengutuk kebiadaan Israel, termasuk Indonesia dan negara jiran Malaysia. Hingga saat ini lebih dari 38.300 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023.
Bicara Israel, seringkali ada yang menyamakannya dengan Bani Israil, yang banyak disebut dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur’an. Ternyata, pandangan itu keliru.
Keduanya jelas berbeda. Israel adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, dan Gurun Pasir Sinai. Ibu kota Israel ialah Yerusalem.
Ingin lebih jelas mengetahui perbedaannya, simak ulasan berikut.
Beda Bani Israil dengan Israel yang Diinisiasi Gerakan Zionisme
Israel adalah nama negara yang diinisiasi oleh zionisme internasional untuk menampung Yahudi. Merangkum berbagai sumber, diaspora di seluruh dunia mengambil nama Israel untuk mendekatkan secara ideologis dengan keyakinan yahudi dan menyambungkan dengan keturunan Israil.
Sejatinya Yahudi yang menjajah Palestina saat ini tidak ada kaitannya dengan Bani Israil. Zionis adalah penganut paham dan gerakan Zionisme.
Zionisme ini berasal dari kata Zio, yaitu nama bukit yang ada di kawasan Jerusalem (Al-Quds). Zionisme adalah gerakan nasionalis Yahudi Internasional yang menghasilkan negara Israel di Wilayah Palestina.
Secara singkat bisa dikatakan bahwa Zionisme adalah suatu paham dan gerakan yang bersifat politis, rasial, dan ekstrem yang bertujuan untuk menegakan negara khusus bagi Bangsa Yahudi di Palestina.
Dengan demikian Zionisme sama sekali tidak ada kaitannya dengan Yahudi.
Siapa Bani Israil?
Lantas, siapa yang disebut Bani Israil itu? Bani israil merupakan nama panggilan bagi kaum keturunan Israil atau Israel. Istilah Israil ini dinisbahkan kepada Nabi Ya’kub bin Ishak AS.
Dari bangsa Israil ini terdapat dua belas keturunan Yakub. Kedua belas keturunan Yakub diantaranya ialah Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar,Zebulon, Yusuf, dan Benyamin.
Yakub menerima nama baru yakni Israel, dengan demikian semua keturunannya menjadi bangsa Israel.
Dalam Al Quran, sejarah Bani Israil juga diceritakan. Kaum ini disebut sebagai kaum yang diunggulkan dari umat yang lain.
Israil merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Ibrani yang memiliki arti kekasih Allah.
Pandangan Prof KH Quraish Shihab tentang Beda Yahudi dan Isril
Menjelaskan perbedaan Yahudi dan Israil, ulama ahli tafsir Al-Qur’an terkemuka Prof KH Muhammad Quraish Shihab menjelaskan, secara umum ada tiga kata, paling tidak, yang digunakan al-Qur’an yang menunjuk kepada keturunan Nabi Ya’qub as. Hal itu ia uraikan dalam sebuah kajian di kanal Youtube Bayt Al-Qur’an, dikutip via laman NU Online, Sabtu (14/7/2024).
Dia menjelaskan, Kata Bani Israil diulang sekitar empat puluh dua (42) kali dalam Al-Qur’an. Ada juga kata Israil yang diulang tiga (3) kali. Kedua, kata Yahûd, yang merupakan keturunan Nabi Ya’qub. Ketiga, kata Ahlul Kitab. “Tetapi tiga ini berbeda-beda,” ungkap Prof Quraish.
Kata Bani Israil, pada dasarnya digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjuk keturunan Nabi Ya’qub as sebelum masa Nabi Muhammad saw, tidak menunjuk keturunan Nabi Ya’qub yang ada pada masa Nabi Muhammad saw. Itu satu perbedaanya. Sementara kata Yahûd, yang pertama, menunjuk kepada keturunan Yahûda. Sebagaimana diketahui, Nabi Ya’qub mempunyai 12 orang anak, salah satunya bernama Yahûda. Kedua belas anaknya ini saling bertengkar, seperti dalam cerita Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an. Keturunan dari Yahûda itulah yang dibicarakan oleh Al-Qur’an, dan yang disebut Yahûd.
Kata Yahûd ini kalau digunakan oleh Al-Qur’an, maka bukan lagi menunjuk kepada mereka yang hidup sebelum masa Nabi Muhammad saw yang ada Bani Israilnya itu, tetapi menunjuk pada umumnya mereka yang hidup pada masa Nabi Muhammad saw. Prof Quraish menyebut Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 82 sebagai contohnya berikut.
Artinya: “Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Pasti akan engkau dapati pula orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri.”
Adapun Bani Israil yang berbicara tentang keturunan Nabi Ya’qub itu, ada yang baik ada yang buruk. Namun, jika kata yang digunakan adalah Yahud, pasti menunjukkan celaan. Hal ini sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 64 berikut. seperti ayat: wa qâlatil-yahûdu yadullâhi maghlûlah, ghullat aidîhim wa lu‘inû bimâ qâlû,…(QS. Al-Maidah: 64).
… Artinya, “Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu (kikir).” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. Mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan…”
Al-Qur’an menggunakan kata Yahûd, sebagaimana ayat di atas, untuk menunjuk kaum keturunan Yahûda, tidak lagi menunjuk kepada keturunan Nabi Ya’qub yang bersifat buruk. Adapun istilah ahlul kitab itu penganut kitab suci yang di dalamnya termasuk Nasrani dan orang-orang Yahudi. Mereka itu oleh al-Qur’an dikatakan laisu sawa, tidak sama mereka itu, ada yang baik.
“Jadi kalau kita berkata Yahûd dalam konteks uraian Al-Qur’an tentang Ahlul kitab, ada enggak yang baik? Kalau dia gunakan kata Ahlul Kitab, maka itu ada yang baik. Tapi kalau dia gunakan kata Yahûd, itu pasti buruk. Jelas, kan?” terang penulis Tafsir Al-Mishbah tersebut.
Lalu, siapa yang Dimaksud Yahudi? Yaitu penganut agama Yahudi, walaupun dia bukan keturunan Yahûda yang menganut agama Yahudi. Itu dikatakan demikian karena ada orang-orang yang menganut agama Yahudi yang sebenarnya bukan dari Bani Israil, walaupun sedikit sekali, karena agama Yahudi itu bukan agama dakwah. Mereka hanya mau sendiri saja sebagai orang-orang yang dicintai Allah.
Penulis: Mikail Dzan AB


