
Sedikitnya 95 orang tewas di tengah meningkatnya bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa anti-pemerintah di Bangladesh pada Minggu (4/8/2024) waktu setempat. Kerusuhan dipicu aksi para mahasiswa yang mendeklarasikan kampanye pembangkangan sipil, menuntut Perdana Menteri Sheikh Hasina mengundurkan diri dari jabatannya.
Sedikitnya 13 petugas kepolisian tewas dalam bentrokan dengan ribuan masyarakat di distrik Sirajganj. Awalnya, aksi protes mahasiswa dimulai dengan tuntutan penghapusan kuota kerja pegawai negeri pada bulan lalu. Namun aksi protes tersebut meluas menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih besar.
Polisi bersama dengan pendukung partai pemerintah terlihat menembaki para pengunjuk rasa dengan peluru tajam. Polisi juga menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk memukul mundur para demonstran anti-pemerintah.
Total korban tewas sejak gerakan protes dimulai pada Juli kini mencapai lebih dari 280 orang. Akibat gelombang protes yang kian membesar, pemerintah Bangladesh memberlakukan jam malam nasional telah diberlakukan sejak pukul 6 malam waktu setempat.
Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, memerintahkan diakhirinya ‘kekerasan mengejutkan’ itu dan mendesak politisi serta pasukan keamanan Bangladesh untuk menahan diri. Dia menyatakan keprihatinan khusus atas rencana demonstrasi massal di Dhaka pada hari Senin, dan memperingatkan risiko jatuhnya korban jiwa lebih lanjut dan kehancuran yang lebih luas.
“Pemerintah harus berhenti membidik masyarakat yang berpartisipasi secara damai dalam gerakan protes, segera membebaskan mereka yang ditahan secara sewenang-wenang, memulihkan akses internet secara penuh, dan menciptakan kondisi dialog yang lebih bermakna,” tambah Turk seperti dikutip dari BBC News, Senin (5/8/2024)
Upaya berkelanjutan untuk menekan ketidakpuasan masyarakat, termasuk melalui penggunaan kekerasan yang berlebihan, dan penyebaran informasi yang salah serta hasutan untuk melakukan kekerasan, harus segera dihentikan,” tambah Türk.
Di tengah seruan pengunduran dirinya, Hasina terdengar menentang apa yang terjadi. Berbicara setelah pertemuan dengan kepala keamanan, dia mengatakan para pengunjuk rasa bukanlah mahasiswa, tetapi teroris yang ingin mengganggu stabilitas negara.
“Jika kami tidak menahan diri, akan terjadi pertumpahan darah. Saya kira kesabaran kita juga ada batasnya,” tambah Menteri Hukum dan Kehakiman Anisul Huq.
Di ibu kota, Dhaka, akses internet pada perangkat seluler telah ditangguhkan.
Korban meninggal dan luka-luka telah dilaporkan di seluruh negeri, termasuk distrik utara Bogra, Pabna dan Rangpur. Ribuan orang berkumpul di alun-alun utama di Dhaka, sementara terjadi insiden kekerasan di bagian lain kota tersebut.
“Seluruh kota telah berubah menjadi medan pertempuran,” kata seorang polisi yang meminta tidak disebutkan namanya kepada kantor berita AFP. Dia mengatakan ribuan pengunjuk rasa membakar mobil dan sepeda motor di luar rumah sakit.
Students Against Discrimination (Mahasiswa Melawan Diskriminasi), sebuah kelompok di balik demonstrasi anti-pemerintah itu, mendesak masyarakat untuk tidak membayar pajak atau tagihan utilitas apa pun. Para mahasiswa juga menyerukan penutupan semua pabrik dan transportasi umum.


