Akhir-akhir berseliweran jejak digital Ridwan Kamil di media sosial terkait unggahannya yang mengkritik DPR. Kemunculan jejak tersebut seiring dengan gelombang aksi penolakan Revisi UU Pilkada di DPR dan rencana Emil, sapaan Ridwan Kamil, berlaga di Pilkada Jakarta.
Seperti diketahui, mantan Gubernur Jawa Barat ini akan berlaga di Jakarta atas dukungan tambun 12 partai. Beberapa waktu lalu, cuitan Emil tentang Jakarta dan warganya membuat geger.
Cuitan yang diunggah dalam akun X bercentang biru, 6 Juni 2011, pukul 9.47 pm, Emil menuliskan, “Tengil, gaul, glamor, songong, pelit, gengsian, egois, pekerja keras, tahan banting, pamer, hedon, itu karakter org JKT.”
Namun belakangan cuit lawas tersebut diduga dihapus Emil. Namun sayang, tulisan julid itu makin tersebar luas melalui tangkapan layar warganet yang satu per satu mengunggah jejak digital itu.
Selain tweet soal Jakarta dan warganya, yang menjadi sorotan lainnya dari cuitan Emil adalah mengenai DPR. Mantan Wali Kota Bandung dan aktivis Bandung Creative City Forum banyak menulis kalimat satire dan kemarahan kepada DPR.
Misalnya saja cuit ini, “Wahai gerombolan DPR matre yg -kualitasnya-terendah-sepanjang-sejarah,apakah mau di 1998-kan?” tulis Emil pada 12 Mei 2011.
Ada juga kritikan lainnya yang dia tuliskan di akun Twitternya kala itu, “Dewan Penipu Rakyat #DPR,” tulis Emil pada 9 Juni 2010. “Kalau melempar jumrah di Indonesia, pasti lokasinya di gedung DPR, – Ustad Jajang,” jejak 14 Juni 2012.
Bulan berikutnya dia juga menulis cacian yang ditujukan kepada DPR, “Mari kita lawan akal-akalan DPR dengan akal sehat. -Saweran KPK”, tulis Emil, 2 Juli 2012.
Saking tersebarnya jejak digital lawas yang bertebaran di media sosial, Ridwan Kamil lantas memberikan klarifikasinya. Menurut politikus Golkar ini, apa yang ditulisnya adalah merupakan cerminan dirinya sebagai sosok anak muda.
“Konon setiap orang akan melewati fase-fase jadi tukang protes, anak muda yang rebel penuh kritik dan sinisme. Tapi semua orang juga berproses, harus menjadi lebih bijaksana dan tahu diri,” kata Emil.
Berikut klarifikasi yang ditulis Ridwan Kamil di akun media sosialnya terkait ramainya jejak digital yang dia tulis akun resminya.
TWIT-TWIT LAMA
Dulu 12-15 tahun yang lalu sebelum jadi pejabat publik, saya memang aktif bermain Twitter (sekarang X). Sebagaimana nature-nya platform tersebut, saya berekspresi secara bebas. Kadang penuh kritik pedas, kadang nyindir, sering juga nyinyir. Sering saya katakan di mana-mana, dulu saya adalah netizen yang marah—bahkan julid.
Tapi kemudian takdir membawa saya ke proses hidup yang lebih kompleks. Pada gilirannya Allah menakdirkan saya menjadi pejabat publik, dari walikota sampai gubernur. Saya giliran balik dikritik, disindir, dinyinyiri di media sosial. Saya sering melihat diri saya yang dulu, netizen yang marah tadi. Bikin saya tersenyum dan sadar.
Konon setiap orang akan melewati fase-fase jadi tukang protes, anak muda yang rebel penuh kritik dan sinisme. Tapi semua orang juga berproses, harus menjadi lebih bijaksana dan tahu diri.
Ibarat anak-anak yang selalu protes pada orangtuanya, remaja yang rebel, pemuda yang kritis dan sinis, pada saatnya akan jadi orangtua yang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang akan bilang pada dirinya sendiri, “Oh gitu ya saya dulu”, dan “Ternyata begini rasanya di posisi ini.”
Bagaimanapun, untuk twit-twit saya yang lama, saya akui dulu saya kurang bijak dan mungkin kurang literasi—bahkan kurang sopan. Saya mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersakiti, terkritik, tersindir, atau terhina dengan cara saya berekspresi. Semoga saya bisa lebih baik lagi ke depan. 2017-2018 saya pernah meminta maaf tentang hal-hal ini. Saya banyak belajar.
Saya tidak membela diri atau berusaha membenarkan. Itu memang saya yang dulu, saya yang kurang bijak.
Semua orang pernah protes, tapi proseslah yang akan membuatnya sukses. Katanya masa lalu tidak akan mengubah masa depan, tapi sebaliknya.
Maafkan aku yang dulu. Mari kita move on.
Ridwan Kamil
Respons Warganet
Lantas, bagaimana warganet menerima permintaan maaf Ridwan Kamil tersebut?
Beragam komentar disampaikan warganet terkait dengan unggahan Emil. Ada yang menyanjung namun kemudian memberikan kalimat satirenya
“tenang aja pak, masa lalu itu bukan cerminan masa depan seseorang kok kalo kita selalu merujuk ke masa lalu, umar bin khattab harusnya masuk neraka karena pernah mau bunuh nabi, tapi akhirnya jadi salah satu orang yang dijamin masuk surga kan? tapi beda lah ya umar sama anda mah,” tulis akun @jek__
Akun @heykarez menuliskan responsnya, “Males bacanya, vn aja wan.”
“Pak, situ kalo dikritik bukannya suka bales dengan ngumpanin ke pasukan situ?” @pedagang_kritik.


